PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan kinerja positif pada awal tahun 2026 dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 4,65 triliun pada periode Januari 2026. Capaian tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 16,25 persen secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4 triliun. Pertumbuhan laba ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income yang naik 10,2 persen menjadi Rp 7,21 triliun, serta didukung oleh penurunan biaya dana sebesar 27 basis poin menjadi 2,06 persen.
Selain pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income perusahaan juga tumbuh 16,1 persen secara tahunan seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi di berbagai lini bisnis. Efisiensi pengelolaan biaya turut tercermin dari rasio biaya terhadap pendapatan yang membaik menjadi 37,75 persen, turun dari bulan sebelumnya yang masih berada di atas level 40 persen.
Dalam hal fungsi intermediasi, realisasi penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh sebesar 15,62 persen menjadi Rp 1.511,4 triliun. Peningkatan kredit ini mendorong total aset perusahaan menjadi Rp 2.191,9 triliun atau naik 13,96 persen secara tahunan. Direktur Finance dan Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini sejalan dengan komitmen perseroan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, termasuk ekosistem UMKM dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Struktur pendanaan bank juga terpantau menguat dengan Dana Pihak Ketiga yang mencapai Rp 1.635,5 triliun atau tumbuh 17,29 persen secara tahunan. Komposisi dana ini didominasi oleh dana murah dengan rasio CASA mencapai 73 persen yang mendukung efisiensi biaya dana sekaligus memperkuat struktur likuiditas perusahaan. Strategi digital turut berkontribusi besar di mana transaksi melalui Livin by Mandiri naik 49,3 persen dan Kopra by Mandiri tumbuh 27 persen secara tahunan.
Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau NPL stabil di level 0,97 persen, atau turun 3 basis poin secara tahunan. Biaya kredit juga mengalami penurunan sebesar 21 basis poin menjadi 0,35 persen per Januari 2026. Manajemen menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mendukung pembangunan nasional serta menjaga momentum pertumbuhan yang sehat dan inklusif di masa mendatang.
Disclaimer: Data laporan keuangan dan rasio perbankan dalam artikel ini bersifat historis dan bersumber dari laporan bulanan yang dapat berubah sewaktu waktu sesuai dengan audit atau tinjauan lebih lanjut dari otoritas terkait. Informasi ini bukan merupakan saran investasi atau ajakan untuk membeli saham tertentu. Keputusan finansial sepenuhnya berada di tangan masing masing individu dengan mempertimbangkan risiko pasar yang ada.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
