Beranda » Pinjaman Online » Skor Kredit Buruk Bisa Hancurkan Rencana Keuangan Keluarga, CBI Beri Peringatan untuk Pasangan Muda

Skor Kredit Buruk Bisa Hancurkan Rencana Keuangan Keluarga, CBI Beri Peringatan untuk Pasangan Muda

Nora Asteria, Head of Consumer Business CBI, mengingatkan bahwa skor yang buruk dapat menghambat akses pasangan muda terhadap pembiayaan penting seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan produktif lainnya. Peringatan ini disampaikan dalam keterangan resmi perusahaan, Kamis (6/2/2026).

Menurut Nora, banyak pasangan muda yang belum menyadari bahwa skor kredit masing-masing akan dinilai oleh bank saat mengajukan fasilitas pembiayaan bersama. Artinya, riwayat kredit yang buruk dari salah satu pihak bisa berdampak langsung pada peluang keluarga mendapatkan hunian atau lainnya.

Skor kredit mencerminkan reputasi finansial seseorang berdasarkan riwayat pengelolaan utang dan kewajiban pembayaran. Beberapa faktor utama yang dapat menurunkan skor kredit antara lain:

  • Keterlambatan pembayaran cicilan atau tagihan kartu kredit secara berulang
  • Jumlah utang yang terlalu besar dibandingkan penghasilan (rasio utang tinggi)
  • Terlalu sering mengajukan pinjaman baru dalam waktu singkat
  • Memiliki catatan gagal bayar atau di

Riwayat pembayaran yang buruk menjadi faktor paling dominan dalam penurunan skor kredit. Bahkan satu kali keterlambatan pembayaran bisa tercatat dan memengaruhi penilaian bank di masa mendatang.

Nora menegaskan bahwa skor kredit memiliki jangka panjang terhadap kehidupan finansial keluarga.

“Skor kredit bukan sekadar angka. Itu adalah cermin tanggung jawab dan kesiapan menghadapi masa depan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perencanaan keluarga tidak berhenti pada jumlah anak, tetapi juga bagaimana pasangan membangun kepercayaan finansial bersama. Ketika mengajukan kredit, bank akan menilai profil risiko kedua belah pihak sehingga skor kredit masing-masing harus dikelola sejak awal.

Baca Juga:  OJK Terapkan Aturan Baru untuk Fintech Lending, Simak Penjelasan dan Dampaknya bagi Pelaku Usaha

Lebih lanjut, Nora menyebut literasi kredit sebagai “warisan finansial” yang akan memengaruhi kebiasaan pengelolaan uang dalam keluarga.

“Hal kecil yang dilakukan hari ini bisa menjadi investasi bagi ketenangan keluarga,” tegasnya.

Sejalan dengan peringatan CBI, Buku Saku Cerdas Mengelola Keuangan yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan () juga menyarankan pasangan muda untuk merencanakan keuangan secara matang sebelum membeli aset besar.

Beberapa poin penting dalam panduan tersebut meliputi:

  • Menetapkan prioritas kebutuhan keluarga secara realistis
  • Merencanakan pembelian aset seperti rumah atau modal usaha sejak awal
  • Memilih fasilitas pinjaman yang sesuai dengan kemampuan membayar
  • Memperhitungkan uang muka, plafon pinjaman, dan besaran cicilan secara cermat

Pemahaman tentang skor kredit memegang peranan penting dalam setiap keputusan pembiayaan tersebut. Pasangan yang memiliki skor kredit sehat akan lebih mudah mendapatkan persetujuan pinjaman dengan suku bunga kompetitif.

Nora juga menyoroti ancaman serius yang kerap tidak disadari pasangan muda, yaitu penyalahgunaan identitas finansial dalam .

“Banyak kasus terjadi ketika identitas pasangan dipakai untuk hal berisiko seperti judi daring. Dampaknya tidak hanya soal cicilan, tapi juga merusak reputasi kredit pihak yang sebenarnya tidak terlibat,” katanya.

Risiko ini semakin meningkat seiring maraknya pinjaman online ilegal yang menawarkan proses cepat tanpa verifikasi ketat. Data pribadi yang bocor atau disalahgunakan bisa menciptakan jejak kredit buruk tanpa sepengetahuan pemilik identitas.

Baca Juga:  Cara Pemkab Labusel Distribusikan 56 Hewan Kurban untuk Warga dan ASN di Tahun 2026

Terkait hal ini, Nora menekankan pentingnya transparansi kondisi keuangan sebelum menikah agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Pasangan muda disarankan untuk saling terbuka mengenai riwayat utang, tanggungan, dan masing-masing.

Nora mengimbau pasangan muda untuk mulai membaca laporan kredit dan memahami pola pengelolaan utang, baik milik sendiri maupun pasangan.

Selain itu, pasangan juga perlu memahami proses pembelian aset secara menyeluruh, mulai dari perhitungan uang muka hingga kemampuan mencicil secara realistis agar tidak terbebani di kemudian hari.

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun fondasi finansial yang kuat sejak awal pernikahan, sesuai dengan semangat literasi keuangan yang terus didorong oleh OJK dan pelaku industri keuangan seperti CBI.***

Erna Agnesa
Reporter at Desa Karangbendo

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.