Industri layanan Buy Now Pay Later atau paylater di Indonesia sedang berada dalam fase pertumbuhan yang sangat agresif. Fenomena ini membawa angin segar bagi aksesibilitas kredit, namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan potensi risiko gagal bayar yang mulai mengkhawatirkan.
Pefindo Biro Kredit atau IdScore memberikan peringatan serius mengenai akumulasi risiko kredit pada sektor Industri Keuangan Non Bank. Pertumbuhan yang pesat ini dinilai menyimpan risiko laten yang sewaktu-waktu bisa membebani stabilitas keuangan debitur maupun penyedia layanan.
Potensi Risiko di Balik Kemudahan Paylater
Pertumbuhan paylater yang melesat tinggi sering kali tidak dibarengi dengan profil risiko yang matang. Risiko kredit ini cenderung terakumulasi pada segmen konsumtif, terutama pada kelompok masyarakat kelas menengah bawah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap fasilitas cicilan.
Banyak pengguna terjebak dalam pola konsumsi yang tidak produktif. Tanpa disadari, kemudahan transaksi atau frictionless borrowing membuat akumulasi utang menjadi sulit dikendalikan oleh debitur, terutama mereka yang masih berada di fase awal dunia kerja.
Berikut adalah beberapa faktor utama yang memicu kerentanan gagal bayar pada layanan paylater:
- Fenomena multipayment, di mana satu debitur memiliki banyak akun atau fasilitas dari berbagai platform berbeda secara bersamaan.
- Dominasi thin-file borrower, yaitu kelompok debitur yang memiliki histori kredit sangat minim sehingga sulit dinilai kapasitas bayarnya secara akurat.
- Metode underwriting yang sering kali hanya berbasis pada perilaku konsumsi, bukan pada kemampuan bayar riil atau arus kas debitur.
- Karakteristik penggunaan yang bersifat konsumtif, sehingga tidak menghasilkan nilai tambah atau arus kas bagi pengguna.
- Pengaruh psikologis seperti fear of missing out atau FOMO dan perilaku doom spending yang mendorong pembelian barang di luar kebutuhan.
Kondisi ekonomi makro juga memegang peranan krusial dalam menjaga kesehatan kredit. Tekanan inflasi, fluktuasi suku bunga, hingga pelemahan nilai tukar rupiah menjadi variabel yang dapat menekan kapasitas bayar debitur di masa depan, terutama bagi mereka yang memiliki profil pendapatan tidak tetap.
Profil Debitur dan Pertumbuhan Industri
Data menunjukkan bahwa kelompok usia muda menjadi segmen yang paling mendominasi penggunaan layanan ini. Ketergantungan terhadap paylater di kalangan milenial dan Gen Z mencerminkan pergeseran pola konsumsi yang sangat dipengaruhi oleh kemudahan akses digital.
Untuk memahami skala pertumbuhan industri ini, berikut adalah rincian outstanding paylater berdasarkan data per Februari 2026:
| Sektor Layanan | Outstanding (Triliun Rupiah) | Pertumbuhan Tahunan (yoy) |
|---|---|---|
| Multifinance | Rp 13,6 | 84,8% |
| Pinjaman Daring (P2P Lending) | Rp 16,9 | 153,49% |
Tabel di atas menunjukkan betapa masifnya perputaran dana dalam ekosistem paylater saat ini. Angka pertumbuhan yang mencapai tiga digit pada sektor pinjaman daring mengindikasikan bahwa penetrasi layanan ini sudah menyentuh berbagai lapisan masyarakat secara luas.
Tantangan Menjaga Stabilitas Kredit
Meskipun rasio kredit bermasalah atau non-performing financing saat ini masih berada di kisaran 5%, angka tersebut tidak boleh dianggap remeh. Model bisnis paylater yang sangat mudah diakses sering kali menutupi risiko overleveraging yang sebenarnya sedang terjadi di lapangan.
Penting bagi penyedia layanan untuk memperketat proses seleksi debitur agar tidak terjebak dalam pertumbuhan yang semu. Langkah-langkah mitigasi risiko yang lebih komprehensif perlu diterapkan untuk memastikan bahwa kemudahan teknologi tidak menjadi bumerang bagi kesehatan finansial masyarakat.
Berikut adalah tahapan yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan kredit di era paylater:
- Melakukan pengecekan kapasitas bayar secara menyeluruh sebelum memberikan persetujuan kredit.
- Mengintegrasikan data histori kredit dari berbagai platform untuk mencegah penumpukan utang pada satu debitur.
- Memberikan edukasi keuangan secara berkala kepada pengguna mengenai risiko penggunaan cicilan konsumtif.
- Membatasi limit kredit bagi debitur yang memiliki profil pendapatan tidak tetap atau berisiko tinggi.
- Memperkuat sistem peringatan dini untuk mendeteksi tanda-tanda awal gagal bayar pada portofolio debitur.
Transisi menuju ekosistem keuangan yang lebih sehat membutuhkan kolaborasi antara regulator, penyedia layanan, dan kesadaran pengguna itu sendiri. Tanpa adanya mitigasi yang tepat, risiko gagal bayar yang terakumulasi saat ini berpotensi menjadi masalah sistemik yang lebih besar di masa depan.
Kehati-hatian dalam menggunakan fasilitas cicilan menjadi kunci utama bagi setiap pengguna. Memahami batas kemampuan finansial pribadi sebelum menekan tombol transaksi adalah langkah preventif terbaik agar tidak terjebak dalam jeratan utang yang tidak perlu.
Disclaimer: Data dan informasi yang tercantum dalam artikel ini bersifat informatif dan didasarkan pada laporan per Mei 2026. Kondisi pasar, regulasi, serta data keuangan dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan perkembangan ekonomi dan kebijakan otoritas terkait.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.





