Beranda » Ekonomi Bisnis » Waspada Tekanan Kredit 2026, Bank Perkuat Pencadangan!

Waspada Tekanan Kredit 2026, Bank Perkuat Pencadangan!

– Sejumlah bank besar nasional masih mencatatkan kenaikan beban pencadangan atau biaya provisi hingga akhir tahun 2025 sebagai strategi antisipatif memperkuat ketahanan neraca. Hal ini diungkapkan oleh para direksi bank pada Jumat (13/2/2026).

Beban pencadangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencapai Rp 4,30 triliun pada 2025, meningkat 67,7% secara tahunan. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatatkan beban serupa sebesar Rp 9,72 triliun, naik 18,4%. Peningkatan paling signifikan terjadi pada PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) sebesar 205,1% menjadi Rp 6,10 triliun. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk justru mencatatkan penurunan beban provisi sebesar 5,01% menjadi Rp 11,33 triliun.

Direktur Manajemen Risiko BTN menilai kenaikan biaya pencadangan sebagai strategi kehati-hatian. “BTN sebetulnya telah menunjukkan perbaikan kualitas . Hal ini tercermin dari tren penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) serta indikator risiko yang semakin membaik. Namun, BTN tetap memilih meningkatkan provisi sebagai langkah antisipatif untuk memperkuat ketahanan neraca di tengah dinamika ekonomi yang masih menantang,” kata Setiyo Wibowo. Sepanjang 2025, cost of credit BTN tercatat sekitar 1,6% dengan coverage ratio di atas 123%, sedangkan NPL terjaga di level ,1%.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA F. Haryn menyatakan bahwa banknya senantiasa menjaga kualitas kredit. “Hal ini dilakukan untuk menutup potensi penurunan nilai kredit yang mungkin terjadi. Kami terus menerapkan disiplin manajemen risiko secara disiplin dalam penyaluran kredit, sehingga kualitas kredit tetap terjaga. Untuk menjaga kualitas aset ke depan, kami mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen secara prudent,” ujar Hera F. Haryn.

Baca Juga:  Cara Tingkatkan Kualitas Pendidikan Lewat Peresmian 1 Gedung Baru Bimbel Scholaris 2026

Presiden Direktur Lani Darmawan mengakui beban pencadangan telah menyusut pada 2025, meski tantangan tetap ada. “Di tahun ini tantangan kredit masih berat, daya masyarakat yang masih lemah dan dunia usaha menahan investasi. Jadi kami rasa ekonomi nasional di semester I-2026 masih akan sama seperti saat ini. Walau demikian, kami optimistis beban pencadangan akan turun di tahun ini dengan penerapan kehati-hatian dalam penyaluran kredit,” jelas Lani Darmawan.

Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan memberikan perspektif mengenai tren tersebut. “Pencadangan yang masih naik umumnya karena adanya bukti objektif penurunan kualitas kredit atau impairment. Untuk tahun 2026, bila melambat maka pencadangan di tahun ini akan lebih atau menurun karena sudah dibentuk cukup besar di tahun 2025,” kata Trioksa Siahaan. Ia menambahkan bahwa sektor yang mendorong kebutuhan provisi lebih besar berasal dari sektor slow moving goods seperti otomotif, perumahan, dan elektronik.

BTN menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga kualitas kredit, di antaranya otomasi proses kredit berbasis data analytics dan artificial intelligence serta memperkuat manajemen penagihan. Bank menargetkan rasio NPL dapat ditekan di bawah 3% pada tahun ini.