Beranda » Perbankan » Ekonom Bank Permata Prediksi Pertumbuhan Kredit Perbankan Capai 10 Persen pada 2026

Ekonom Bank Permata Prediksi Pertumbuhan Kredit Perbankan Capai 10 Persen pada 2026

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan bahwa penyaluran kredit perbankan di Indonesia masih punya ruang untuk tumbuh hingga sekitar 10% pada tahun 2026. Meski begitu, pertumbuhan ini diprediksi akan berjalan terbatas karena masih adanya ketidakpastian di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

di akhir 2025 sudah mencatatkan angka yang cukup positif, yaitu sebesar 9,63%. Angka ini menjadi baseline dalam proyeksi pertumbuhan kredit ke depan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan berada di kisaran ,1% hingga 5,2%, sektor perbankan diyakini masih memiliki potensi, meski tidak terlalu agresif.

Proyeksi Kredit Perbankan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Perekonomian global yang belum sepenuhnya stabil membuat banyak pelaku industri cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi. Namun, dari sisi domestik, kondisi masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik, terutama di sektor-sektor yang bergantung pada ekonomi lokal.

Permata Institute for Economic Research (PIER) juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai 5,1–5,2% di tahun 2026. Bahkan, jika tekanan eksternal berkurang dan reformasi struktural berjalan lancar, angka ini berpotensi meningkat ke kisaran 5,2–5,3%.

1. Faktor Pendukung Pertumbuhan Kredit

Beberapa komponen utama ekonomi seperti konsumsi rumah tangga, belanja , dan investasi masih menjadi pendorong utama pertumbuhan. Ketiganya memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas ekonomi meski ada volatilitas di pasar global.

2. Pengaruh Ketidakpastian Global

Meskipun ekonomi domestik menunjukkan ketahanan yang baik, tekanan dari luar seperti fluktuasi nilai tukar, kenaikan suku global, dan ketidakpastian perdagangan dunia tetap menjadi tantangan. Hal ini membuat bank-bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama untuk sektor yang sensitif terhadap risiko eksternal.

3. Kualitas Kredit yang Tetap Terjaga

Meski pertumbuhan kredit terbatas, kualitasnya tetap terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross Permata Bank masih stabil di level 2,1%, dan (LAR) justru membaik menjadi 6,3%. Ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan moderat, risiko kredit tetap dalam kendali.

Baca Juga:  Inovasi 5 Layanan Keuangan Syariah Terbaik dari Maybank Indonesia di Tahun 2026 Ini

Penyaluran Kredit Permata Bank di 2025

Permata Bank mencatat pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 5,5% secara Year-on-Year (YoY) di tahun 2025, mencapai total Rp163,3 triliun. Pertumbuhan ini didorong terutama oleh segmen yang naik 11,2% YoY menjadi Rp99,6 triliun.

Tabel berikut menunjukkan rincian penyaluran kredit Permata Bank di akhir 2025:

Segmen Pertumbuhan YoY Total Penyaluran
Korporasi 11,2% Rp99,6 triliun
Ritel 2,8% Rp48,7 triliun
Mikro 1,9% Rp15,0 triliun

1. Segmen Korporasi Jadi Penopang Utama

Pertumbuhan segmen korporasi yang cukup tinggi menunjukkan bahwa sektor swasta masih aktif berinvestasi meski dalam kondisi ketidakpastian. Ini menjadi indikator bahwa kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi domestik masih cukup tinggi.

2. Ritel dan Mikro Tumbuh Perlahan

Sementara itu, segmen ritel dan mikro tumbuh lebih pelan. Hal ini bisa jadi dampak dari keterbatasan daya beli konsumen serta akses terhadap modal yang masih terbatas di kalangan usaha kecil.

Sektor yang Lebih Tahan terhadap Risiko

Josua Pardede menekankan bahwa sektor yang lebih bergantung pada ekonomi domestik memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan sektor yang terpapar risiko eksternal. Ini termasuk sektor konsumsi, , dan UMKM.

1. Konsumsi Rumah Tangga

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi. Meningkatnya menengah ke bawah dan menengah ke atas memberikan kontribusi besar terhadap permintaan kredit konsumtif.

2. Investasi Infrastruktur

Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari upaya memacu investasi. Sektor ini menjadi salah satu yang paling tahan terhadap goncangan eksternal karena didukung oleh anggaran negara dan kebijakan jangka panjang.

3. UMKM dan Ekonomi Mikro

UMKM juga menjadi fokus penting karena mampu menyerap tenaga kerja dan mendorong inklusi keuangan. Program pemerintah dan bank untuk memberikan akses kredit yang lebih mudah ke UMKM terus dikembangkan.

Baca Juga:  OJK Siapkan 3 Kebijakan Relaksasi Kredit bagi Korban Bencana Alam di Sepanjang Tahun 2026

Perbandingan Pertumbuhan Kredit: 2025 vs Proyeksi 2026

Berikut adalah perbandingan pertumbuhan kredit perbankan secara industri dan Permata Bank:

Tahun Pertumbuhan Industri Pertumbuhan Permata Bank
2025 9,63% 5,5%
2026* 10% (diperkirakan)

*Proyeksi berdasarkan data dari Permata Institute for Economic Research

1. Pertumbuhan Industri Lebih Tinggi dari Bank

Pertumbuhan kredit industri secara keseluruhan diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandingkan Permata Bank. Ini bisa jadi karena bank lain lebih agresif dalam menyalurkan kredit atau memiliki portofolio yang lebih terdiversifikasi.

2. Strategi Permata Bank Fokus pada Kualitas

Permata Bank lebih memilih menjaga kualitas kredit daripada mengejar pertumbuhan yang tinggi. Pendekatan ini dianggap lebih aman dalam kondisi ketidakpastian ekonomi seperti saat ini.

Kesimpulan

Pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2026 masih memiliki potensi, meski terbatas. Proyeksi sekitar 10% menjadi target realistis mengingat kondisi ekonomi domestik yang stabil dan dukungan dari sektor konsumsi serta investasi infrastruktur.

Namun, tantangan dari luar seperti ketidakpastian pasar global dan fluktuasi nilai tukar tetap perlu diwaspadai. Bank-bank, termasuk Permata Bank, tampaknya akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko.

Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat prediktif dan dapat berubah tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan kebijakan yang diambil baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Karangbendo

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.