Permintaan valas di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah memang mulai terasa. Bukan hanya memengaruhi sentimen pasar, kondisi ini juga berpotensi mengganggu stabilitas likuiditas valuta asing di dalam negeri. Namun, sejumlah bank besar di Indonesia menegaskan bahwa likuiditas valas saat ini masih dalam kondisi terjaga.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran dan Israel, memicu lonjakan permintaan dolar AS. Investor global cenderung menarik dana dari pasar berkembang, termasuk Indonesia, untuk menghindari risiko. Langkah ini memicu tekanan pada rupiah dan meningkatkan kebutuhan valas di sektor perbankan.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Likuiditas Valas
1. Penarikan Dana dari Pasar Indonesia
Investor asing mulai melakukan profit taking dan menarik dana dari pasar keuangan Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi eskalasi konflik yang bisa memicu volatilitas global.
2. Peningkatan Permintaan Lindung Nilai (Hedging)
Importir dan pelaku usaha yang memiliki kewajiban luar negeri mulai meningkatkan penggunaan instrumen lindung nilai. Tujuannya untuk mengantisipasi risiko pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Dinamika Pasokan dan Permintaan Valas
1. Suplai Valas dari Eksportir Komoditas
Eksportir, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit, menjadi sumber utama pasokan valas. Kenaikan harga global memperkuat aliran valas masuk ke sistem perbankan.
2. Permintaan Selektif dari Korporasi
Perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran luar negeri mulai menunjukkan peningkatan permintaan valas secara selektif. Namun, permintaan dari individu masih relatif stabil.
Strategi Bank dalam Menjaga Stabilitas Valas
1. Memperkuat Penghimpunan Dana Valas
Bank mulai menawarkan produk tabungan dan deposito valas yang lebih menarik. Tujuannya untuk menarik minat nasabah menyimpan dana dalam mata uang asing.
2. Meningkatkan Instrumen Pasar Keuangan
Upaya pendalaman pasar keuangan dengan menyediakan instrumen valas yang lebih beragam juga digalakkan. Ini membantu menarik lebih banyak likuiditas ke dalam sistem perbankan.
3. Menjaga Buffer Likuiditas
Bank menjaga cadangan likuiditas dolar AS pada level yang cukup untuk mengantisipasi potensi arus keluar besar. Ini menjadi langkah antisipatif jika ketegangan geopolitik kian memanas.
Data Likuiditas Valas Perbankan
Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) valas tumbuh 4,9% secara tahunan, mencapai Rp1.374,6 triliun. Angka ini sedikit melambat dibanding Desember 2025 yang mencatat pertumbuhan 5,5% yoy.
| Bulan | Pertumbuhan DPK Valas (YoY) | Nilai DPK Valas |
|---|---|---|
| Desember 2025 | 5,5% | Rp1.338,1 triliun |
| Januari 2026 | 4,9% | Rp1.374,6 triliun |
Catatan: Data dapat berubah tergantung dinamika pasar dan kebijakan moneter.
Penilaian Bank Terhadap Stabilitas Likuiditas
Bank Negara Indonesia (BNI)
BNI menyatakan bahwa likuiditas valas masih terjaga. Bank terus memantau perkembangan geopolitik global dan menerapkan pengelolaan risiko yang disiplin. Portofolio yang terdiversifikasi dan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit menjadi andalan.
KB Bank Indonesia
KB Bank juga menilai likuiditas valas masih dalam kondisi memadai. Stabilitas ini didukung oleh kebijakan moneter yang prudent dari Bank Indonesia dan posisi cadangan devisa yang kuat.
CIMB Niaga
CIMB Niaga menyatakan belum melihat adanya anomali signifikan dalam transaksi valas. Bank masih melakukan pemantauan dan assessment terhadap dampak perkembangan global terbaru.
Peran Eksportir dan Importir
Eksportir komoditas menjadi kontributor utama likuiditas valas. Kenaikan harga global seperti CPO dan batu bara berpotensi meningkatkan arus valas masuk. Sementara itu, importir mulai meningkatkan penggunaan instrumen hedging untuk mengelola risiko nilai tukar.
Tren DPK Valas dan Minat Nasabah
DPK valas menunjukkan tren stabil dengan sedikit peningkatan. Sebagian nasabah mulai melakukan diversifikasi penempatan dana dalam dolar AS. Minat terhadap instrumen lindung nilai juga meningkat, terutama di kalangan pelaku usaha dengan eksposur impor.
Kesimpulan
Meskipun konflik di Timur Tengah memicu lonjakan permintaan valas, sistem perbankan nasional masih mampu menjaga likuiditas tetap stabil. Langkah antisipatif dari bank seperti memperkuat buffer dan instrumen lindung nilai menjadi kunci menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan global serta kebijakan otoritas terkait.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




