Bagaimana sebuah negara bisa konsisten bertahan di puncak investor global selama hampir satu dekade penuh?
Kementerian Perdagangan Tiongkok (MOFCOM) mengumumkan bahwa investasi langsung luar negeri (Outward Foreign Direct Investment/OFDI) Tiongkok pada 2025 mencapai USD174,38 miliar, tumbuh 7,1% dibanding tahun sebelumnya.
Capaian ini menandai sembilan tahun berturut-turut Tiongkok bertahan di peringkat tiga besar investor dunia, bersanding dengan Amerika Serikat dan Jepang. Simak penjelasan lengkap dari desakarangbendo.id berikut ini untuk memahami faktor di balik dominasi tersebut dan dampaknya bagi perekonomian global.
Nah, di tengah ketidakpastian geopolitik dan perang dagang yang masih memanas, pencapaian ini menunjukkan ketahanan ekonomi Tiongkok yang luar biasa. Data resmi dari MOFCOM dan State Administration of Foreign Exchange (SAFE) memperlihatkan bahwa hingga akhir 2025, lebih dari 50.000 perusahaan Tiongkok telah beroperasi di 190 negara dan wilayah di seluruh dunia.
Capaian Investasi Tiongkok 2025 yang Melampaui Ekspektasi
Tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi ekspansi ekonomi Tiongkok ke kancah internasional. Di bawah panduan kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) berkualitas tinggi, investasi perusahaan-perusahaan Tiongkok ke luar negeri menunjukkan pertumbuhan yang sehat, stabil, dan tertata.
Pertumbuhan 7,1% di Tengah Ketidakpastian Global
Berdasarkan data MOFCOM, investasi langsung luar negeri Tiongkok pada 2025 mencapai USD174,38 miliar. Angka ini naik 7,1% secara year-on-year dan tetap berada di level tertinggi dunia.
Pertumbuhan ini terbilang impresif mengingat kondisi ekonomi global yang penuh tantangan. Perang dagang dengan Amerika Serikat, fluktuasi mata uang, hingga disrupsi rantai pasok menjadi ujian berat bagi investor manapun.
Juru bicara MOFCOM He Yongqian dalam konferensi pers menyatakan bahwa stok investasi luar negeri Tiongkok telah berada di peringkat tiga besar dunia selama sembilan tahun berturut-turut. Pangsa pasar global Tiongkok dalam investasi luar negeri juga konsisten di atas 10% selama delapan tahun terakhir.
Lebih dari 50.000 Perusahaan Tersebar di 190 Negara
Hingga akhir 2025, Tiongkok telah membangun lebih dari 50.000 perusahaan di luar negeri yang tersebar di 190 negara dan wilayah. Jangkauan ini mencakup lebih dari 80% negara di seluruh dunia.
Kehadiran masif perusahaan Tiongkok ini memberikan kontribusi signifikan bagi negara tuan rumah. Berikut rincian kontribusi berdasarkan data 2024 yang dirilis MOFCOM:
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Ekspor Barang | USD211 miliar | Naik 13% YoY |
| Pendapatan Penjualan | USD3,6 triliun | Total penjualan perusahaan Tiongkok di luar negeri |
| Pajak ke Negara Tuan Rumah | USD82,1 miliar | Kontribusi fiskal langsung |
| Total Tenaga Kerja | 5,02 juta orang | 65,8% merupakan pekerja lokal |
Data di atas menunjukkan bahwa investasi Tiongkok tidak hanya menguntungkan perusahaannya sendiri, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi perekonomian negara penerima investasi.
Faktor di Balik Dominasi Tiongkok Selama Hampir Satu Dekade
Konsistensi Tiongkok bertahan di peringkat atas investor global bukan terjadi secara kebetulan. Ada strategi terukur dan kebijakan terintegrasi yang menopang capaian ini.
Belt and Road Initiative Sebagai Motor Penggerak
Belt and Road Initiative (BRI) atau Inisiatif Sabuk dan Jalur menjadi tulang punggung ekspansi investasi Tiongkok sejak diluncurkan pada 2013. Program ambisius ini menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin melalui pembangunan infrastruktur dan kerja sama ekonomi.
Pada 2024, investasi Tiongkok ke negara-negara mitra BRI mencapai USD50,9 miliar, naik 22,9% dari tahun sebelumnya. Angka ini menyumbang 26,5% dari total OFDI Tiongkok.
Jadi, BRI bukan sekadar proyek infrastruktur fisik. Program ini menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung dan menguntungkan semua pihak yang terlibat.
Diversifikasi Sektor dari Manufaktur hingga Teknologi
Investasi Tiongkok tidak lagi terkonsentrasi pada sektor tradisional seperti pertambangan dan manufaktur. Diversifikasi menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan.
Berdasarkan data MOFCOM, investasi Tiongkok mencakup seluruh 18 sektor ekonomi. Lebih dari 80% terkonsentrasi di lima sektor utama: perdagangan grosir/eceran, penyewaan/jasa bisnis, manufaktur, keuangan, dan pertambangan.
Yang menarik, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan 80,5% secara year-on-year. Sementara sektor teknologi informasi dan layanan perangkat lunak melesat hingga 205,5%.
| Sektor | Nilai Investasi | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Perdagangan Grosir/Eceran | > USD10 miliar | Stabil |
| Penyewaan/Jasa Bisnis | > USD10 miliar | Stabil |
| Manufaktur | > USD10 miliar | Stabil |
| Konstruksi | Signifikan | +80,5% YoY |
| Berkembang Pesat | +205,5% YoY |
Pergeseran ini mencerminkan transformasi ekonomi Tiongkok dari basis manufaktur tradisional menuju ekonomi berbasis teknologi dan inovasi.
Strategi Investasi Tiongkok Memasuki 2026
Memasuki tahun 2026, pemerintah Tiongkok telah menyiapkan strategi komprehensif untuk mempertahankan posisi di puncak investor global. Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) menjadi panduan utama.
Fokus Pembangunan dan Keamanan Rantai Industri
Pemerintah Tiongkok berkomitmen untuk terus mengoordinasikan pembangunan dan keamanan dalam strategi investasinya. Otoritas terkait akan mengarahkan penataan lintas batas rantai industri secara rasional dan tertib.
Menurut laporan State Council Information Office of China (SCIO), ekonomi Tiongkok diproyeksikan mencapai 140 triliun yuan (sekitar USD20 triliun) pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata di atas 5%.
Pejabat Dewan Negara Liu Rihong menekankan pentingnya sirkulasi internal sebagai ciri ekonomi negara besar. Strategi pembangunan akan difokuskan pada perluasan permintaan domestik sambil tetap memperkuat ekspansi investasi ke luar negeri.
Target Integrasi Perdagangan dan Investasi Global
Tiongkok juga berkomitmen untuk mendorong integrasi perdagangan dan investasi secara lebih erat. Program ini mencakup pembangunan sistem layanan luar negeri yang komprehensif serta penerapan pengelolaan investasi luar negeri yang efektif.
Konferensi Kerja Ekonomi Pusat Tiongkok telah menegaskan langkah-langkah pro-pertumbuhan, termasuk mendorong permintaan domestik dan memperkuat inovasi teknologi. Integrasi inovasi industri dinilai sebagai kunci pembentukan sumber pertumbuhan baru.
Singkatnya, Tiongkok tidak hanya ingin mempertahankan posisi, tetapi juga meningkatkan kualitas dan dampak investasinya di kancah global.
Dampak bagi Perekonomian Global dan Kawasan Asia Tenggara
Ekspansi investasi Tiongkok membawa dampak signifikan bagi perekonomian dunia, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang menjadi prioritas investasi.
Distribusi Investasi Berdasarkan Wilayah
Asia menjadi kawasan penerima investasi terbesar dari Tiongkok. Pada 2024, hampir 80% OFDI Tiongkok mengalir ke kawasan Asia, naik 8,5% dari tahun sebelumnya.
ASEAN secara khusus menerima investasi sebesar USD34,36 miliar, melonjak 36,8% secara year-on-year. Pertumbuhan ini jauh melampaui kawasan lain dan menunjukkan prioritas strategis Tiongkok di Asia Tenggara.
| Kawasan | Pertumbuhan YoY | Keterangan |
|---|---|---|
| ASEAN | +36,8% | USD34,36 miliar – Prioritas utama |
| Asia (Total) | +8,5% | ~80% total OFDI Tiongkok |
| Oseania | +113,7% | Pertumbuhan tertinggi |
| Eropa | +25,3% | |
| Amerika Latin | +15,4% | Fokus sumber daya alam |
Peluang dan Tantangan bagi Indonesia
Indonesia menempati posisi strategis dalam peta investasi Tiongkok. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Tiongkok (RRT) berada di peringkat ketiga sebagai negara asal investasi asing terbesar di Indonesia sepanjang 2025 dengan nilai USD7,5 miliar.
Posisi ini berada di bawah Singapura (USD17,4 miliar) dan Hong Kong (USD10,6 miliar). Namun jika digabungkan dengan Hong Kong, total investasi dari Greater China menjadi sangat signifikan.
Menteri Investasi Rosan Roeslani menyatakan bahwa Tiongkok menjadi salah satu investor yang konsisten menempati posisi atas di Indonesia. Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok terus meningkat sejak berlakunya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok pada 2010 dan Kemitraan Strategis Komprehensif pada 2013.
Sektor-sektor yang menjadi fokus investasi Tiongkok di Indonesia meliputi:
- Industri logam dasar dan hilirisasi nikel
- Transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi
- Energi baru terbarukan (EBT)
- Industri baterai dan kendaraan listrik
- Infrastruktur dan kawasan industri
Namun, tantangan tetap ada. Perang dagang AS-Tiongkok menciptakan ketidakpastian yang berdampak pada arus investasi global. Indonesia perlu menyeimbangkan peluang investasi dengan diversifikasi mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara.
Perbandingan dengan Investor Global Lainnya
Untuk memahami posisi Tiongkok dalam konstelasi investor global, perlu dilakukan perbandingan dengan negara-negara investor utama lainnya, yakni Amerika Serikat dan Jepang.
| Negara | Peringkat Global | Stok OFDI (2024) | Karakteristik |
|---|---|---|---|
| Amerika Serikat | 1 | ~USD9,76 triliun | |
| Jepang | 2 | Signifikan | |
| Tiongkok | 3 | USD3,14 triliun | Diversifikasi luas, BRI-driven |
Meskipun masih di peringkat ketiga dari sisi stok investasi, Tiongkok menunjukkan tren pertumbuhan yang paling konsisten. Pangsa pasar global Tiongkok dalam OFDI mencapai 11,9% pada 2024, naik 0,5 poin persentase dari tahun sebelumnya.
Keunggulan Tiongkok terletak pada diversifikasi geografis dan sektoral. Sementara AS dan Jepang cenderung fokus pada negara-negara maju, Tiongkok aktif berinvestasi di negara-negara berkembang melalui BRI.
Penutup
Pencapaian Tiongkok yang konsisten berada di peringkat tiga besar investor dunia selama sembilan tahun berturut-turut bukan kebetulan semata. Strategi terintegrasi melalui Belt and Road Initiative, diversifikasi sektor, dan koordinasi erat antara pemerintah dengan pelaku usaha menjadi kunci keberhasilannya.
Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Investasi Tiongkok dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan bijak dan transparan. Data dalam artikel ini bersumber dari MOFCOM, SAFE, BKPM, dan UNCTAD—namun angka-angka tersebut dapat berubah sesuai dinamika ekonomi global dan kebijakan terbaru masing-masing pemerintah.
Terima kasih sudah membaca artikel ini hingga tuntas. Semoga informasi yang disajikan bermanfaat untuk memahami lanskap investasi global dan posisi Tiongkok di dalamnya. Tetap bijak dalam menyikapi setiap peluang investasi dan selalu verifikasi informasi dari sumber resmi yang terpercaya.
FAQ
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Tiongkok (MOFCOM), investasi langsung luar negeri (OFDI) Tiongkok pada 2025 mencapai USD174,38 miliar, tumbuh 7,1% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menempatkan Tiongkok di peringkat tiga besar investor dunia bersama Amerika Serikat dan Jepang.
Tiongkok telah konsisten berada di peringkat tiga besar investor global selama sembilan tahun berturut-turut (2017-2025). Selain itu, pangsa pasar Tiongkok dalam investasi luar negeri global juga bertahan di atas 10% selama delapan tahun berturut-turut.
Belt and Road Initiative (BRI) atau Inisiatif Sabuk dan Jalur adalah program pembangunan infrastruktur dan kerja sama ekonomi yang diluncurkan Tiongkok pada 2013. Program ini menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Pada 2024, investasi Tiongkok ke negara-negara mitra BRI mencapai USD50,9 miliar.
Sepanjang 2025, investasi Tiongkok (RRT) ke Indonesia mencapai USD7,5 miliar, menempatkannya di peringkat ketiga sebagai negara asal investasi asing terbesar di Indonesia. Posisi ini berada di bawah Singapura (USD17,4 miliar) dan Hong Kong (USD10,6 miliar).
Investasi Tiongkok mencakup seluruh 18 sektor ekonomi, dengan lebih dari 80% terkonsentrasi di lima sektor utama: perdagangan grosir/eceran, penyewaan/jasa bisnis, manufaktur, keuangan, dan pertambangan. Sektor teknologi informasi dan konstruksi mencatat pertumbuhan tertinggi masing-masing 205,5% dan 80,5% secara year-on-year.
Asia menjadi kawasan prioritas utama dengan menyerap hampir 80% total OFDI Tiongkok. ASEAN secara khusus menerima investasi USD34,36 miliar pada 2024, naik 36,8% dari tahun sebelumnya. Oseania mencatat pertumbuhan tertinggi (+113,7%), diikuti Eropa (+25,3%) dan Amerika Latin (+15,4%).
Perusahaan Tiongkok di luar negeri memberikan kontribusi signifikan berupa: pajak sebesar USD82,1 miliar kepada negara tuan rumah, penyerapan 5,02 juta tenaga kerja (65,8% pekerja lokal), dan mendorong ekspor barang senilai USD211 miliar. Total pendapatan penjualan perusahaan Tiongkok di luar negeri mencapai USD3,6 triliun pada 2024.
Informasi resmi dapat diperoleh dari: Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM (bkpm.go.id, Hotline: 021-5252008), Kementerian Perdagangan RI (kemendag.go.id), Ministry of Commerce Tiongkok (english.mofcom.gov.cn), dan UNCTAD untuk data investasi global (unctad.org/wir).
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
