Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menyepakati perjanjian perdagangan timbal balik yang menetapkan tarif impor resiprokal sebesar 19 persen untuk produk asal Indonesia. Meski demikian, terdapat pengecualian tarif hingga 0 persen untuk sejumlah produk tertentu di dalam kesepakatan tersebut.
Menanggapi kebijakan ini, PT Great Eastern General Insurance Indonesia atau GEGI menilai dampak tarif tersebut terhadap bisnis asuransi kargo mereka tidak akan signifikan. Marketing Director Great Eastern General Insurance Indonesia Linggawati Tok menjelaskan bahwa porsi pengiriman Indonesia ke Amerika Serikat relatif kecil jika dibandingkan dengan rute Asia dan Pasifik yang jauh lebih dominan dalam portofolio perusahaan.
Linggawati menambahkan bahwa penetapan tarif 19 persen tersebut justru dipandang sebagai capaian positif. Hal ini dikarenakan angka tersebut lebih rendah dari ancaman pengenaan tarif sebelumnya yang diprediksi mencapai 32 persen. Adanya beberapa komoditas yang tetap mendapatkan tarif 0 persen juga dinilai membuka peluang pertumbuhan pada segmen pengiriman tertentu.
Pada tahun 2026, GEGI menargetkan pertumbuhan premi asuransi kargo sebesar 8 persen atau setara dengan 120 miliar rupiah. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan menerapkan strategi underwriting yang adaptif, pemanfaatan teknologi digital untuk pemantauan risiko pengiriman, serta peningkatan kualitas layanan penanganan klaim di berbagai pelabuhan utama.
Berdasarkan data kinerja tahun lalu, GEGI mencatatkan premi bruto lini asuransi kargo sebesar 110,8 miliar rupiah pada akhir 2025. Angka tersebut tumbuh 8,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang didorong oleh aktivitas pengiriman domestik antarpulau serta ekspor impor komoditas bernilai tinggi seperti mesin industri, makanan olahan, material konstruksi, dan hasil tambang.
Secara industri, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia atau AAUI mencatat pendapatan premi asuransi kargo secara nasional mencapai 5,65 triliun rupiah per akhir 2025. Jumlah ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,2 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Sehubungan dengan dinamika kebijakan global, data performa perusahaan dan industri serta besaran tarif pajak dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan regulasi terbaru dan kondisi pasar internasional.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
