Likuiditas perbankan yang mulai melonggar memberi angin segar bagi sektor perbankan digital. Allo Bank, salah satu pelaku industri yang berfokus pada layanan digital, menyatakan optimisme terhadap pertumbuhan kredit di tahun 2026. Meski masih dalam situasi yang penuh ketidakpastian, bank ini mencatat peningkatan signifikan dalam dana pihak ketiga (DPK) dan mulai menyeimbangkan rasio loan to deposit ratio (LDR) yang sempat tinggi.
Pada awal 2026, DPK Allo Bank mencapai Rp 8,4 triliun, naik 54,7% secara tahunan. Sementara itu, total penyaluran kredit mencapai Rp 8,64 triliun, naik 17,63% year on year. Dengan LDR di level 102,91%, bank ini menunjukkan bahwa likuiditasnya masih cukup kuat meskipun masih sedikit di atas ambang batas ideal.
Likuiditas Melonggar, Tapi Permintaan Kredit Masih Waspada
Kondisi ini sejalan dengan tren industri perbankan secara umum. Likuiditas yang lebih longgar terlihat dari pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit. Namun, permintaan kredit belum sepenuhnya pulih. Pelaku usaha dan konsumen masih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembiayaan.
Destya D. Pradityo, Digital Strategy Head Allo Bank, menyebut bahwa ketidakpastian global dan dinamika ekonomi domestik membuat masyarakat lebih selektif. Preferensi untuk menyimpan dana masih tinggi, terutama di kalangan nasabah digital yang cenderung lebih waspada terhadap risiko.
Namun, Allo Bank tetap optimistis. Bank ini memperkirakan permintaan kredit akan meningkat secara bertahap sepanjang tahun. Stabilitas ekonomi dan peningkatan aktivitas konsumsi serta transaksi digital menjadi katalis utama pemulihan tersebut.
Strategi Allo Bank Dorong Kredit Ritel dan Digital
Untuk mempercepat pemulihan kredit, Allo Bank fokus pada segmen ritel dan digital konsumer. Ini sesuai dengan model bisnis bank digital yang mengandalkan data dan perilaku transaksi nasabah.
Beberapa pendekatan yang diambil antara lain:
- Pembiayaan konsumsi berbasis transaksi seperti paylater dan instant cash.
- Pemanfaatan data histori transaksi nasabah existing untuk menilai risiko dan kebutuhan kredit.
- Integrasi layanan kredit dengan ekosistem merchant dan platform digital mitra.
Dengan pendekatan ini, Allo Bank berharap bisa menyalurkan kredit secara lebih presisi sekaligus menjaga kualitas portofolio. Tidak hanya soal volume, tetapi juga kualitas aset tetap menjadi prioritas.
Sisi Pendanaan, DPK Ritel Jadi Tulang Punggung
Dari sisi pendanaan, Allo Bank mengandalkan pertumbuhan DPK dari nasabah ritel digital. Tabungan berbasis transaksi dan simpanan berjangka dari segmen affluent menjadi sumber dana utama.
Bank ini juga berencana meningkatkan porsi dana murah atau CASA secara bertahap. Caranya melalui peningkatan engagement nasabah dan aktivitas transaksi di dalam ekosistem digital. Ini penting untuk menjaga efisiensi biaya pendanaan dan margin perbankan.
Faktor Penopang Kinerja Allo Bank di 2026
Beberapa faktor penting yang akan mendorong kinerja Allo Bank sepanjang 2026:
- Pertumbuhan jumlah nasabah aktif.
- Peningkatan frekuensi transaksi di aplikasi.
- Penguatan ekosistem merchant dan kemitraan digital.
- Pemanfaatan data analytics untuk pengambilan keputusan kredit yang lebih akurat.
Selain itu, arah kebijakan suku bunga dan kondisi makroekonomi juga akan memengaruhi permintaan kredit serta perilaku simpanan nasabah. Allo Bank menyadari bahwa stabilitas eksternal menjadi kunci dalam menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
Tabel Perbandingan Pertumbuhan DPK dan Kredit Allo Bank (YoY)
| Indikator | Q1 2025 | Q1 2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| DPK | Rp 5,43 triliun | Rp 8,4 triliun | 54,7% |
| Kredit | Rp 7,34 triliun | Rp 8,64 triliun | 17,63% |
| LDR | 135% | 102,91% | – |
Catatan: Data bersifat preliminary dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar.
Rencana Jangka Panjang Allo Bank
Allo Bank tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jangka pendek. Bank ini juga menargetkan pertumbuhan kredit dan DPK yang sehat dan berkelanjutan sepanjang 2026. Fokusnya bukan hanya pada ekspansi volume, tetapi juga pada efisiensi operasional dan kualitas portofolio.
Bank ini terus mengembangkan ekosistem digitalnya, baik dari sisi layanan maupun kemitraan. Tujuannya agar nasabah bisa menikmati pengalaman transaksi yang lebih mudah dan aman, sekaligus memberikan data yang lebih lengkap untuk pengambilan keputusan kredit.
Penutup
Likuiditas yang melonggar menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Allo Bank. Dengan strategi berbasis data dan ekosistem digital, bank ini berusaha menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko. Optimisme terhadap kredit di 2026 tampak realistis, asalkan kondisi makro stabil dan konsumsi masyarakat terus membaik.
Disclaimer: Data dan target yang disebutkan dalam artikel ini bersifat preliminary dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi serta kebijakan regulator.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.



