PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA mencatatkan pertumbuhan kinerja positif pada awal tahun 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 5 triliun pada Januari 2026. Capaian laba tersebut mengalami kenaikan sebesar 5,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Meskipun laba tumbuh, pendapatan bunga bersih atau NII perusahaan mengalami pelemahan tipis sebesar 1 persen secara tahunan. Hal ini sejalan dengan penurunan margin bunga bersih atau NIM ke level 5,7 persen akibat normalisasi margin dan kenaikan beban bunga sebesar 8,3 persen secara tahunan. Di sisi lain, biaya kredit tetap terjaga di level rendah 0,3 persen menyusul penurunan tajam nilai pencadangan hingga 53,9 persen secara tahunan.
Penyaluran kredit per Januari 2026 tercatat terkontraksi 1,3 persen secara bulanan mengikuti pola musiman di awal tahun, namun secara tahunan masih tumbuh 6,3 persen. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, memproyeksikan pertumbuhan kredit perusahaan akan meningkat sepanjang tahun 2026 pada kisaran 8 persen sampai 10 persen. Likuiditas perbankan tersebut dinilai tetap memadai dengan rasio loan to deposit ratio pada level 77,4 persen serta pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 9,4 persen secara tahunan.
Berdasarkan performa tersebut, Jeffrosenberg mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.650 per saham. Target ini didasarkan pada valuasi 4,2 kali price to book value estimasi tahun buku 2026. Pertumbuhan laba BBCA diperkirakan akan tetap stabil pada level high single digit yang didukung oleh margin stabil, biaya kredit rendah, serta likuiditas yang kuat.
Walaupun menunjukkan kinerja yang solid dengan return on average equity sebesar 21,3 persen, analis mengingatkan adanya sejumlah risiko utama. Risiko tersebut meliputi potensi pelemahan kualitas aset pada segmen konsumer serta kemungkinan kenaikan beban operasional yang lebih tinggi dari perkiraan awal.
Disclaimer: Data laporan keuangan, proyeksi kinerja, dan rekomendasi saham dalam artikel ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar serta kebijakan perusahaan. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan risiko yang ada.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
