JAKARTA – Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate pada 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Kamis (19/2/2026). Hal ini disampaikan menanggapi pelemahan sejumlah saham perbankan besar dalam perdagangan sesi I menjelang pengumuman hasil rapat tersebut.
“Untuk RDG bulan ini, kami melihat masih akan ditahan dengan potensi penurunan masih terbuka tetapi cenderung terbatas minimal sekali,” ujar Banjaran. Ia menjelaskan, alasan BI diperkirakan mempertahankan suku bunga kebijakan karena nilai tukar rupiah masih berpotensi tertekan meski telah mereda. Selain itu, selisih imbal hasil atau yield differential masih perlu dijaga agar Surat Berharga Negara tetap menarik bagi investor dan beban bunga tidak terlalu membebani.
Sejumlah saham bank besar tercatat melemah pada perdagangan Kamis (19/2/2026). Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengalami penurunan terdalam sebesar 3,32 persen atau 175 poin ke level Rp 5.100 per saham, padahal sempat dibuka di Rp 5.275. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 0,78 persen ke posisi Rp 3.800, setelah sebelumnya dibuka menguat di Rp 3.850.
Pelemahan juga terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang susut 0,37 persen ke Rp 7.250 dari pembukaan di Rp 7.325. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 0,45 persen atau 20 poin ke level Rp 4.470 per saham dari harga pembukaan Rp 4.520.
Banjaran menyampaikan proyeksinya tersebut kepada Kontan pada Selasa (18/2/2026). Pergerakan pasar modal ini menjadi perhatian seiring dengan penantian keputusan kebijakan moneter dari otoritas.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
