Di tengah wacana pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara 2026, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) tetap menjaga optimisme terhadap pertumbuhan pembiayaan alat berat. Meski potensi ketidakpastian mulai terlihat di horizon, perusahaan belum merubah strategi portofolio secara signifikan.
Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, menyampaikan bahwa belum ada pembahasan serius mengenai perubahan fokus bisnis terkait dinamika RKAB tersebut. Namun begitu, kewaspadaan tetap dijaga, khususnya menjelang semester II 2026.
Pembiayaan Alat Berat Masih Menjanjikan
Pada tahun lalu, Adira mencatat pembiayaan alat berat sebesar Rp 589 miliar, naik sekitar 20% dibanding tahun sebelumnya. Angka itu memang masih kecil jika dibandingkan total pembiayaan perusahaan yang mencapai Rp 43 triliun, atau hanya sekitar 1% dari total.
Namun, menurut Gani, pertumbuhan dua digit tersebut masih mudah dicapai mengingat basis awalnya yang masih minim. Apalagi, perusahaan memanfaatkan sinergi dengan perbankan untuk mengembangkan jaringan debitur.
-
Sinergi dengan Perbankan
Adira mengandalkan rekomendasi dari bank-bank mitra untuk menjangkau calon debitur yang memiliki rencana bisnis kuat. Ini membantu perusahaan tetap selektif dalam menyalurkan kredit. -
Selektif dalam Pembiayaan
Perusahaan tidak serta merta mengejar pertumbuhan. Fokus tetap pada kualitas aset dan manajemen risiko yang ketat agar tidak terjebak pada sektor yang berpotensi terdampak kebijakan RKAB.
Strategi Jangka Panjang Adira Finance
Untuk tahun 2026, Adira Finance menargetkan pertumbuhan pembiayaan alat berat yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Selain itu, perusahaan juga berencana mengombinasikan produk pembiayaan dengan segmen truk fleet.
-
Diversifikasi Produk Pembiayaan
Dengan menggabungkan pembiayaan alat berat dan truk fleet, Adira berharap bisa meningkatkan kontribusi segmen ini terhadap total pendapatan perusahaan. -
Penguatan Manajemen Risiko
Di tengah ketidakpastian, Adira memperkuat kontrol terhadap kualitas kredit, khususnya di segmen roda empat yang belakangan menghadapi tantangan peningkatan kredit macet.
Potensi Dampak RKAB Batubara
Wacana pemangkasan RKAB batubara memang belum berdampak langsung terhadap ekspansi Adira di sektor alat berat. Namun, potensi risiko tetap diwaspadai, terutama pada paruh kedua tahun depan.
-
Antisipasi Ketidakpastian Semester II
Meski saat ini belum ada dampak nyata, Adira tetap menyiapkan skenario mitigasi risiko jika kondisi industri berubah lebih signifikan. -
Fokus pada Debitur dengan Rencana Bisnis Kuat
Perusahaan lebih memilih menyalurkan kredit kepada debitur yang memiliki proyeksi bisnis stabil dan tidak terlalu bergantung pada aktivitas eksplorasi batubara.
Perbandingan Pembiayaan Alat Berat Adira (2024–2026)
| Tahun | Total Pembiayaan Alat Berat | Pertumbuhan Tahunan | Kontribusi terhadap Total Pembiayaan |
|---|---|---|---|
| 2024 | Rp 491 miliar | – | 0,8% |
| 2025 | Rp 589 miliar | 20% | 1% |
| 2026* | Rp 650 miliar (target) | 10,4% (target) | 1,1% (target) |
*Data bersifat target dan dapat berubah tergantung kondisi pasar.
Tantangan di Tengah Ekspansi
Meski prospek pembiayaan alat berat masih positif, bukan berarti jalannya mulus. Beberapa tantangan tetap menghiasi perjalanan Adira di sektor ini.
-
Keterbatasan Portofolio
Porsi pembiayaan alat berat masih sangat kecil dibandingkan segmen lain, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan belum signifikan. -
Risiko Makroekonomi
Dinamika kebijakan pemerintah, termasuk rencana pemangkasan RKAB, bisa berimbas pada sektor riil yang membutuhkan alat berat. -
Persaingan di Industri Multifinance
Banyak perusahaan sejenis juga mulai mengincar segmen ini, sehingga Adira harus terus menjaga kualitas layanan dan mitigasi risiko.
Kesimpulan
Meski wacana pemangkasan RKAB batubara mulai mengganjal, Adira Finance tetap optimis terhadap prospek pembiayaan alat berat. Dengan strategi selektif, sinergi perbankan, dan penguatan manajemen risiko, perusahaan siap menghadapi potensi ketidakpastian di masa depan.
Disclaimer: Data dan target dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung perkembangan kebijakan pemerintah serta kondisi pasar secara real time.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




