Memanasnya situasi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, memicu lonjakan permintaan investasi emas di Indonesia. Tren ini terlihat jelas dari meningkatnya minat masyarakat terhadap produk pembiayaan emas di berbagai bank syariah. Emas, yang dikenal sebagai instrumen lindung nilai, kembali menjadi andalan di tengah ketidakpastian eksternal.
Lonjakan permintaan ini tidak hanya terjadi di pasar ritel, tapi juga terlihat dari data pembiayaan yang melonjak di sejumlah bank syariah besar. Mekanisme syariah yang ditawarkan membuat emas semakin diminati, terutama oleh kalangan yang ingin berinvestasi tanpa melanggar prinsip keuangan Islam.
Permintaan Emas di Bank Syariah Naik Signifikan
1. Bank BJB Syariah Catat Lonjakan Pembiayaan Emas
Bank BJB Syariah mencatat kenaikan permintaan pembiayaan emas sebesar 118,13% dari Desember 2025 hingga Februari 2026. Nilai pembiayaan naik dari Rp 528,7 miliar menjadi Rp 624,6 miliar. Jumlah nasabah pembiayaan emas pun mencapai 10.709 orang.
| Periode | Nilai Pembiayaan | Jumlah Nasabah |
|---|---|---|
| Desember 2025 | Rp 528,7 miliar | – |
| Februari 2026 | Rp 624,6 miliar | 10.709 nasabah |
2. Bank Muamalat Lihat Pertumbuhan Bisnis Emas
Bank Muamalat mencatat pembiayaan emas melalui produk Solusi Emas Hijrah (SOLEH) melonjak 33 kali lipat pada 2025. Jumlah rekening SOLEH naik 1.218% menjadi 24.335 rekening.
3. BSI Catat Kenaikan Nasabah Emas 44% YTD
Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat kenaikan jumlah nasabah bullion bank sebesar 44% dari Januari hingga Februari 2026. Penjualan emas di tahun 2026 sudah mencapai 58% dari total penjualan tahun 2025.
Faktor Pendorong Minat Investasi Emas
1. Ketidakpastian Geopolitik Dunia
Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik Israel-Hamas dan ancaman eskalasi Iran-Israel, memicu lonjakan permintaan emas global. Investor mencari instrumen aman, dan emas menjadi pilihan utama.
2. Harga Emas yang Terus Naik
Harga emas Antam pada Maret 2026 berada di kisaran Rp 3 juta per gram. Lonjakan ini memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen investasi jangka panjang.
3. Literasi Investasi Emas Semakin Meningkat
Masyarakat kini lebih sadar pentingnya diversifikasi investasi. Edukasi keuangan dan kemudahan akses digital membuat emas lebih mudah dijangkau.
Mekanisme Pembiayaan Emas di Bank Syariah
1. Skema Murabahah
Bank membeli emas dari mitra resmi seperti PT Antam, PT Hartadinata Abadi, dan PT Pegadaian, lalu menjualnya kepada nasabah dengan margin yang disepakati di awal.
2. Fleksibilitas Tenor Cicilan
Nasabah bisa memilih tenor cicilan dari 3 hingga 10 tahun. Hal ini memungkinkan perencanaan keuangan yang lebih terstruktur dan sesuai kemampuan.
3. Proses Cepat dan Digital
Bank syariah seperti BJB Syariah dan Muamalat menawarkan proses pengajuan yang cepat, bahkan dalam satu hari. Aplikasi mobile banking semakin mempermudah transaksi.
Strategi Bank Syariah Hadapi Lonjakan Permintaan
1. Perluasan Kerja Sama dengan Supplier
Bank BJB Syariah dan BSI memperluas jaringan supplier untuk memastikan ketersediaan stok emas yang memadai. Manajemen inventaris yang baik menjadi kunci.
2. Digitalisasi Layanan
Aplikasi seperti Muamalat DIN dan BYOND BSI memungkinkan pembelian emas secara real-time. Nasabah bisa membeli mulai dari Rp50.000 dan melakukan transfer gramase ke rekening lain.
3. Edukasi dan Literasi Investasi
Bank aktif melakukan edukasi agar masyarakat memahami pentingnya investasi emas secara bertahap dan jangka panjang. Ini membantu mengurangi spekulasi jangka pendek.
Prospek Bisnis Emas di Sektor Syariah
1. Potensi Pertumbuhan Tinggi
Dengan basis nasabah yang terus bertambah dan produk yang semakin beragam, bisnis emas syariah berpotensi menjadi pilar pertumbuhan pembiayaan konsumer.
2. Inovasi Produk dan Layanan
Bank terus mengembangkan fitur-fitur baru seperti pencairan emas fisik di cabang, transfer emas digital, dan integrasi dengan layanan keuangan lainnya.
3. Dukungan Regulasi dan Stabilitas Pasar
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memberikan dukungan terhadap pengembangan produk syariah. Ini menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan bisnis emas.
Tantangan di Balik Kesuksesan
1. Manajemen Risiko Harga Emas
Bank harus pandai mengelola risiko terkait volatilitas harga emas global. Strategi lindung nilai menjadi penting agar tidak terjebak pada kerugian.
2. Ketersediaan Stok Emas
Lonjakan permintaan bisa membuat stok emas menipis. Bank perlu memiliki cadangan yang memadai dan sistem distribusi yang efisien.
3. Persaingan dengan Platform Digital Non-Bank
Platform fintech dan marketplace emas juga semakin agresif menawarkan produk serupa. Bank syariah harus terus berinovasi agar tetap kompetitif.
Kesimpulan
Lonjakan permintaan pembiayaan emas di bank syariah adalah cerminan dari situasi geopolitik global yang tidak menentu. Emas kembali menjadi pilihan utama masyarakat sebagai instrumen lindung nilai. Bank syariah pun merespons dengan berbagai strategi, mulai dari digitalisasi hingga edukasi keuangan.
Namun, pertumbuhan ini juga membawa tantangan tersendiri. Bank harus terus menjaga keseimbangan antara permintaan yang tinggi dan ketersediaan stok, serta mengelola risiko yang muncul dari volatilitas pasar global.
Dengan ekosistem yang terus berkembang dan literasi investasi yang meningkat, bisnis emas syariah berpotensi menjadi salah satu komponen penting dalam portofolio pembiayaan konsumer di Indonesia.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan kebijakan masing-masing bank.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




