JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan suku bunga dana pihak ketiga (DPK) rupiah pada Januari 2026 turun 3 basis poin (bps) menjadi 2,68% pada Senin, 20/10/2025. Penurunan ini menjadi indikasi mulai bekerjanya transmisi kebijakan moneter akomodatif ke perbaikan likuiditas perbankan.
“Penurunan suku bunga DPK hingga 2,68% pada Januari 2026 memperpanjang tren pelonggaran yang telah berlangsung sejak Juli 2025. Ini adalah cerminan dari mulai bekerjanya transmisi kebijakan moneter di sisi pendanaan perbankan,” ujar Bank Indonesia dalam laporannya. Bank sentral mencatat, pemangkasan suku bunga kebijakan sebesar 125 bps sepanjang 2025 didukung operasi moneter yang akomodatif untuk menjaga kecukupan likuiditas.
BI juga menjelaskan bahwa likuiditas yang lebih longgar diperkuat oleh penempatan dana pemerintah di perbankan. “Langkah ini memperbaiki struktur pendanaan dan menekan persaingan bunga dana mahal, khususnya untuk deposito berjangka. Dengan tekanan likuiditas yang mereda, bank memiliki ruang lebih lebar untuk menurunkan biaya dana,” jelas BI lebih lanjut.
Meski demikian, transmisi penurunan suku bunga ke sisi kredit dinilai berjalan lebih lambat. “Penurunan bunga simpanan belum sepenuhnya diikuti penurunan bunga kredit secara signifikan. Perbankan tetap mempertimbangkan faktor risiko kualitas aset dan kebutuhan menjaga net interest margin (NIM),” kata BI.
Ke depan, BI memperkirakan tren penurunan suku bunga dana dan kredit akan berlanjut. “Tren ini sejalan dengan ekspektasi pelonggaran suku bunga global dan kebijakan moneter domestik yang masih akomodatif, didukung dukungan fiskal yang ekspansif. Namun, ruang pelonggaran tetap akan mempertimbangkan dinamika stabilitas sistem keuangan,” pungkas BI.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
