Penyaluran kredit di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM masih mengalami tren penurunan pada awal tahun 2026. Berdasarkan Laporan Analisis Uang Beredar Bank Indonesia, data sementara menunjukkan penyaluran kredit UMKM terkoreksi sebesar 0,5 persen secara tahunan menjadi Rp 1.482,8 triliun pada Januari 2026. Angka ini melanjutkan penurunan sebesar 0,3 persen yang terjadi pada Desember 2025.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa lesunya penyaluran kredit UMKM disebabkan oleh masih ketatnya persyaratan pemberian kredit atau lending requirement. Perry menjelaskan bahwa perbankan cenderung masih sangat selektif dalam menyalurkan pembiayaan ke segmen tersebut karena risiko kredit yang dinilai masih tinggi. Hal serupa juga dialami oleh segmen kredit konsumsi, meskipun secara umum syarat pemberian kredit perbankan lainnya mulai melonggar.
Data berdasarkan skala usaha menunjukkan bahwa kredit usaha mikro masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,1 persen secara tahunan dengan nilai Rp 663 triliun. Capaian ini membaik setelah sempat turun 4,6 persen pada bulan sebelumnya. Namun, kondisi berbeda terlihat pada kredit usaha kecil yang turun 1 persen menjadi Rp 488,1 triliun dan kredit usaha menengah yang menyusut 1,1 persen menjadi Rp 331,6 triliun.
Dilihat dari jenis penggunaannya, kredit modal kerja UMKM mencatatkan penurunan sebesar 4,8 persen dengan total penyaluran Rp 991,7 triliun. Sebaliknya, kredit investasi UMKM justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 9,5 persen dengan nilai Rp 491,1 triliun. Pertumbuhan ini sejalan dengan tren kredit investasi secara nasional yang menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit perbankan pada periode Januari 2026.
Secara kumulatif, seluruh kredit perbankan pada Januari 2026 tercatat tumbuh 9,96 persen secara tahunan. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,38 persen, diikuti kredit konsumsi sebesar 6,58 persen, dan kredit modal kerja sebesar 4,13 persen. Meskipun sektor UMKM masih tertekan, minat penyaluran kredit secara umum di industri perbankan dilaporkan terus mengalami perbaikan.
Disclaimer: Data yang disajikan dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu waktu sesuai dengan pembaruan laporan dari Bank Indonesia atau otoritas terkait. Informasi ini disusun untuk kepentingan pemberitaan dan bukan merupakan saran investasi atau keuangan secara langsung.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
