Modal menjadi salah satu penopang utama dalam menjaga kesehatan bank. Tanpa modal yang memadai, bank rentan terhadap risiko likuiditas, kredit macet, bahkan tekanan dari ekonomi global. Meski secara umum industri perbankan Indonesia masih dalam posisi yang relatif aman, beberapa bank mencatatkan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tipis. Angka ini menjadi indikator penting seberapa besar kemampuan bank menyerap risiko kredit dan menjaga kepercayaan pasar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kecukupan modal industri perbankan pada Januari 2026 berada di angka 25,87%, turun dari 27,01% di periode yang sama tahun sebelumnya. Meski masih jauh di atas ambang batas minimum 8%, angka tersebut menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan modal. Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah bank justru berada di posisi ambang bantalan modal yang rapuh. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi seperti saat ini, ini bisa menjadi celah besar.
Bank dengan CAR Rendah: Siapa Saja?
1. Bank JTrust Indonesia
Bank JTrust Indonesia menjadi salah satu bank yang mencatatkan CAR rendah, yakni 13,69% per September 2025. Angka itu naik tipis dari 13,08% di periode yang sama tahun sebelumnya. Meski tidak jauh dari ambang minimum, posisi ini tetap dianggap rawan, apalagi ditambah dengan kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) yang mencapai 2,71% atau naik 151 basis poin dari sebelumnya.
Pihak bank mengaku tengah melakukan kajian untuk memperkuat modal, namun belum merilis detailnya secara publik. Ini menunjukkan bahwa langkah-langkah perbaikan masih dalam tahap evaluasi dan belum konkret.
2. Bank Mayapada Internasional
Bank Mayapada Internasional juga masuk dalam daftar bank dengan CAR yang tipis. Pada September 2025, CAR bank ini hanya berada di level 10,09%, turun dari 11,71% di periode yang sama tahun sebelumnya. Meski NPL-nya turun dari 3,68% menjadi 3,27%, posisi CAR yang rendah tetap menjadi perhatian karena mengurangi kemampuan bank menyerap risiko.
Mengapa CAR Rendah Jadi Masalah?
1. Risiko Kredit Meningkat
Bank dengan CAR tipis rentan terhadap risiko kredit yang tinggi. Ketika NPL naik, bank harus mencadangkan lebih banyak dana untuk menutupi potensi kerugian. Ini langsung menggerus modal inti yang sudah terbatas.
2. Terbatasnya Ruang Ekspansi
Bank dengan modal tipis cenderung lebih defensif dalam menyalurkan kredit. Padahal, ekspansi kredit adalah salah satu sumber pendapatan utama bank. Jika ekspansi terbatas, pendapatan juga terganggu, dan ini menciptakan lingkaran masalah: modal rendah, ekspansi terbatas, pendapatan turun, dan akhirnya modal semakin sulit diperkuat.
3. Kepercayaan Pasar Tergerus
Investor dan nasabah cenderung menghindari bank yang dinilai tidak sehat secara modal. Jika kepercayaan pasar tergerus, likuiditas bisa terancam dan bank semakin sulit mendapatkan pendanaan dari luar.
Strategi Mengatasi Modal Tipis
1. Rights Issue
Rights issue adalah cara bank mengumpulkan dana tambahan dari pemegang saham lama. Ini efektif jika bank memiliki basis investor yang kuat dan percaya pada prospek masa depan bank.
2. Menarik Investor Strategis
Menarik investor baru, terutama yang memiliki kompetensi dan jaringan, bisa menjadi solusi jangka panjang. Investor strategis tidak hanya memberi modal, tapi juga membawa sinergi operasional.
3. Konsolidasi Perbankan
Dalam beberapa kasus, konsolidasi menjadi pilihan terbaik. Menggabungkan dua bank dengan kekuatan masing-masing bisa menciptakan entitas yang lebih sehat dan memiliki modal lebih besar.
Peran Regulator dalam Menjaga Stabilitas
Regulator, dalam hal ini OJK, memiliki peran penting dalam mengawasi bank dengan CAR tipis. Pengawasan yang ketat bisa mencegah risiko sistemik. Selain itu, penerapan sanksi atau koreksi dini bisa membantu bank kembali ke jalur yang sehat.
Tantangan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Perlambatan ekonomi global dan tekanan dari faktor domestik seperti inflasi dan suku bunga masih menjadi tantangan. Bank dengan modal tipis akan lebih terpukul dalam kondisi seperti ini. Mereka harus lebih selektif dalam menyalurkan kredit dan memperkuat manajemen risiko.
Kesimpulan
Bank dengan rasio kecukupan modal tipis bukan hanya masalah internal bank, tapi juga ancaman bagi stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Meski belum mencapai titik kritis, kondisi ini perlu perhatian serius dari manajemen bank dan pengawas pasar. Langkah antisipatif seperti penguatan modal, restrukturisasi, atau bahkan konsolidasi harus segera diambil agar tidak terlambat.
Disclaimer: Data dan kondisi keuangan bank dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak mengikat.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.




