Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026 dinilai memberikan dampak positif bagi industri asuransi nasional. Kebijakan ini dianggap mampu membawa kepastian investasi serta menjaga stabilitas daya beli masyarakat terhadap premi asuransi di tengah ketidakpastian kondisi global.
Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menjelaskan bahwa langkah Bank Indonesia tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Menurutnya, bagi industri asuransi, kebijakan ini memberikan kepastian hasil investasi yang stabil serta memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi.
Penahanan suku bunga ini memengaruhi upaya perusahaan asuransi dalam mengoptimalkan kinerja hasil investasi. Mengingat porsi terbesar investasi asuransi berada pada Surat Berharga Negara dan obligasi korporasi, suku bunga yang stabil memberikan kepastian terhadap imbal hasil bagi perusahaan. Meski demikian, kondisi ini membuat kenaikan nilai aset investasi tidak setinggi saat suku bunga mengalami penurunan drastis.
Lebih lanjut, stabilitas suku bunga memungkinkan perusahaan asuransi untuk memaksimalkan penempatan dana pada instrumen jangka pendek seperti deposito atau reksa dana pasar uang. Strategi ini dilakukan untuk menjaga likuiditas perusahaan dengan tetap memperoleh imbal hasil yang kompetitif. Stabilitas ini juga membantu menjaga rasio solvabilitas atau Risk Based Capital perusahaan asuransi setelah adanya tren penurunan sepanjang tahun 2025.
Namun, Irvan memberikan catatan bahwa risiko penurunan harga obligasi lama dalam portofolio tetap ada jika terjadi tekanan inflasi yang memaksa kenaikan suku bunga di masa depan. Hal tersebut berpotensi menggerus nilai investasi perusahaan. Di sisi lain, kebijakan ini memberikan peluang bagi perusahaan asuransi yang memiliki selera risiko tinggi untuk meningkatkan alokasi pada instrumen saham demi mengejar keuntungan yang lebih agresif.
Kebijakan Bank Indonesia ini mendorong perusahaan asuransi agar lebih selektif dan fokus pada strategi investasi jangka panjang. Perusahaan diharapkan mampu mengunci imbal hasil saat ini sebelum terjadi perubahan kebijakan moneter lebih lanjut. Irvan mengingatkan perusahaan asuransi untuk tetap menyeimbangkan stabilitas pendapatan tetap dengan potensi volatilitas pasar dalam menghadapi kebijakan BI Rate ini.
Disclaimer: Data dan informasi dalam berita ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu waktu mengikuti kebijakan otoritas moneter serta kondisi pasar terkini. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca. Berita ini disusun berdasarkan laporan pasar pada Februari 2026.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
