PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI menargetkan pendanaan sebesar Rp 24 triliun pada tahun ini. Dana ini akan digunakan untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur yang tengah dikembangkan oleh perusahaan BUMN ini.
Target pendanaan ini disampaikan langsung oleh Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti. Ia menyebut bahwa dana tersebut akan dikumpulkan melalui berbagai instrumen fundraising yang tengah berjalan.
Rencana Penggunaan Dana Infrastruktur
SMI menyiapkan dana besar-besaran ini untuk mendukung proyek infrastruktur berkelanjutan. Fokusnya terutama pada sektor energi terbarukan dan telekomunikasi. Termasuk di dalamnya adalah pembangkit listrik tenaga hidro, panel surya, serta infrastruktur pendukung digital.
Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansyah, menyatakan bahwa proyek yang akan dijalankan cukup beragam. Ia tidak menyebutkan secara spesifik proyek mana saja, tapi menekankan bahwa SMI akan terlibat dalam berbagai inisiatif berkelanjutan, terutama di bidang energi bersih.
Dengan pendekatan ini, SMI ingin memastikan bahwa proyek yang dijalankan tidak hanya memenuhi kebutuhan infrastruktur saat ini, tapi juga mendukung visi jangka panjang pembangunan berkelanjutan nasional.
Komposisi Pendanaan dan Mata Uang
Dari segi struktur pendanaan, sebagian besar dana yang digunakan adalah dalam mata uang rupiah. Hanya sekitar 25% dari total pendanaan yang bersumber dari luar negeri.
Strategi ini diambil agar lebih selaras dengan proyek yang dibiayai. Karena sebagian besar proyek berada di dalam negeri, penggunaan rupiah diharapkan bisa menjaga keseimbangan struktur keuangan perusahaan.
Selain itu, penggunaan rupiah juga dianggap lebih stabil mengingat fluktuasi nilai tukar yang sering terjadi pada mata uang asing.
Dampak Penurunan Rating dari Moody’s
Moody’s baru-baru ini menurunkan rating PT SMI dari Baa1 menjadi ba2. Penurunan ini tercatat empat tingkat dari posisi sebelumnya.
Meski begitu, Reynaldi menyebut bahwa dampak langsung dari penurunan rating ini belum bisa dipastikan. Perusahaan masih melakukan simulasi dan pengkajian untuk mengukur seberapa besar pengaruhnya terhadap kapasitas pendanaan.
“Kalau dibilang tidak ada dampak, tentu tidak mungkin. Cuma kami masih mengukur seberapa besar dampaknya terhadap kemampuan dan kapasitas kami,” ujar Reynaldi.
Penurunan rating ini tentu menjadi perhatian, terutama dalam konteks penggalangan dana dari pasar internasional. Namun, SMI tetap optimis bisa mencapai target pendanaan tahun ini.
1. Strategi Fundraising yang Dijalankan
SMI menjalankan berbagai pendekatan untuk menggalang dana sebesar Rp 24 triliun. Langkah-langkah ini meliputi:
- Penerbitan obligasi di pasar domestik.
- Kerja sama dengan lembaga pembiayaan lokal dan asing.
- Pemanfaatan dana pensiun dan investasi institusional.
Dengan pendekatan yang beragam, SMI berharap bisa menarik minat berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri.
2. Proyek Infrastruktur yang Menjadi Fokus
Beberapa proyek utama yang akan dibiayai dengan dana ini antara lain:
- Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan hidro.
- Pengembangan infrastruktur telekomunikasi di daerah terpencil.
- Proyek konektivitas digital untuk mendukung transformasi ekonomi.
Proyek-proyek ini dipilih karena potensinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.
3. Pengelolaan Risiko Keuangan
Dalam menjalankan proyek-proyek besar ini, SMI juga menerapkan pengelolaan risiko yang ketat. Langkah-langkahnya meliputi:
- Diversifikasi sumber dana untuk mengurangi ketergantungan pada satu pihak.
- Penggunaan instrumen keuangan yang sesuai untuk menjaga likuiditas.
- Evaluasi berkala terhadap kinerja proyek dan dampaknya terhadap neraca perusahaan.
Dengan pengelolaan risiko yang baik, SMI berharap bisa menjaga stabilitas keuangan meski menghadapi berbagai ketidakpastian global.
Tantangan dan Peluang di Tahun 2026
Tahun 2026 menjadi tahun krusial bagi SMI dalam mewujudkan target pendanaan dan realisasi proyek. Tantangan utama yang dihadapi antara lain tekanan dari pasar global dan fluktuasi nilai tukar.
Namun, peluang tetap terbuka. Kebutuhan infrastruktur yang tinggi serta dukungan pemerintah terhadap proyek berkelanjutan menjadi modal kuat bagi SMI.
Selain itu, tren investasi hijau yang semakin meningkat baik di pasar domestik maupun internasional juga menjadi peluang besar.
Perbandingan Pendanaan SMI Tahun 2025 dan 2026
| Aspek | Tahun 2025 | Tahun 2026 |
|---|---|---|
| Target Pendanaan | Rp 20 triliun | Rp 24 triliun |
| Mata Uang Dominan | Rupiah | Rupiah |
| Sumber Dana Asing | 30% | 25% |
| Fokus Proyek | Transportasi dan energi | Energi terbarukan dan digital |
| Rating Moody’s | Baa1 | ba2 |
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini sesuai dengan perkiraan dan rencana perusahaan hingga Maret 2026. Nilai pendanaan, proyek, dan kondisi pasar dapat berubah tergantung pada dinamika ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Dengan strategi yang matang dan fokus pada proyek berkelanjutan, SMI berharap bisa terus menjadi tulang punggung pengembangan infrastruktur nasional. Target pendanaan Rp 24 triliun bukan sekadar angka, tapi fondasi bagi pembangunan yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.




