Beranda » Ekonomi Bisnis » Indeks Harga Saham Gabungan Terkoreksi Ringan 0,22 Poin pada Akhir Februari 2026, Sebelumnya Sentuh Level Terendah 8.093

Indeks Harga Saham Gabungan Terkoreksi Ringan 0,22 Poin pada Akhir Februari 2026, Sebelumnya Sentuh Level Terendah 8.093

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan () di akhir perdagangan menunjukkan pembalikan arah yang cukup mengejutkan. Setelah sepanjang hari berada di zona merah dan sempat terperosok hingga ke level 8.093, IHSG akhirnya berhasil pulih dan ditutup menguat tipis 0,22 poin di angka 8.235. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar mulai membaik jelang akhir pekan, meski masih dalam tekanan yang terbilang ketat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), tercatat 336 saham menguat, 319 saham melemah, dan 163 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 47,5 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp37,9 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun penguatan terbilang tipis, aktivitas perdagangan tetap cukup tinggi.

Kondisi Sektor dan Pergerakan Saham Utama

Sebanyak tujuh sektor mencatatkan kenaikan, dengan sektor industri yang menjadi pendorong utama. Di sisi lain, sektor justru menjadi penekan terberat. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor masih selektif dalam mengambil keputusan, terutama di tengah ketidakpastian makro global.

1. Sektor Industri Memimpin Kenaikan

Sektor industri mencatatkan lonjakan sebesar 4,48%, menjadi pendorong utama penguatan IHSG. Kenaikan ini didorong oleh beberapa besar yang berhasil pulih dari tekanan sebelumnya.

2. Sektor Barang Konsumsi Non-Primer Naik 2,88%

Sektor ini juga menjadi salah satu penopang kenaikan indeks. Permintaan konsumen yang mulai membaik di awal kuartal I-2026 memberikan dorongan positif pada emiten-emiten konsumsi.

3. Sektor Bahan Baku Naik 1,88%

Kenaikan sektor bahan baku menunjukkan adanya optimisme terhadap pertumbuhan industri manufaktur di kuartal I-2026.

4. Sektor Teknologi Naik 0,38%

Pergerakan moderat di sektor teknologi mencerminkan konsolidasi investor setelah beberapa saham teknologi sempat tertekan dalam beberapa pekan sebelumnya.

5. Sektor Transportasi Naik 0,29%

Sektor ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi pasca-libur panjang.

6. Sektor Properti Naik 0,27%

Kenaikan moderat di sektor properti menunjukkan bahwa investor mulai kembali memandang optimis terhadap sektor ini.

Baca Juga:  Aturan Baru OJK 2026 Perketat Standar Laporan Berkala bagi 1 Lembaga Penjamin Keuangan

7. Sektor Energi Naik 0,26%

Meski kenaikannya kecil, sektor energi tetap memberikan kontribusi positif terhadap penguatan IHSG.

Sektor yang Melemah

Tidak semua sektor berhasil mencatatkan kenaikan. Empat sektor justru tercatat melemah, dengan sektor keuangan menjadi yang paling tertekan.

1. Sektor Keuangan Turun 0,83%

Sektor ini menjadi pendorong utama tekanan di IHSG. Investor masih menunggu kejelasan kebijakan moneter dari yang akan dirilis dalam beberapa pekan ke depan.

2. Sektor Infrastruktur Turun 0,36%

Penurunan moderat di sektor infrastruktur menunjukkan bahwa investor masih menahan diri dalam mengambil posisi.

3. Sektor Kesehatan Turun 0,16%

Sektor ini mengalami koreksi kecil setelah beberapa saham kesehatan mencatatkan keuntungan cukup tinggi di bulan sebelumnya.

4. Sektor Barang Konsumsi Primer Turun 0,07%

Penurunan sangat kecil ini menunjukkan bahwa sektor ini relatif stabil meskipun tidak memberikan kontribusi signifikan.

Saham-Saham yang Menguat Tajam

Di tengah pergerakan yang bervolatilitas, beberapa saham berhasil mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan.

1. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Naik 32,92%

BNBR menjadi saham penguatan terbesar hari itu, melonjak ke level Rp214. Kenaikan ini didukung oleh optimisme investor terhadap rencana restrukturisasi perusahaan.

2. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) Naik 21,9%

MSIN melonjak ke Rp640, menunjukkan bahwa sektor digital masih diminati investor.

3. PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) Naik 16,88%

WMUU mencatatkan kenaikan ke level Rp90, didorong oleh peningkatan permintaan produk unggas di pasar domestik.

Saham-Saham yang Melemah Tajam

Tidak semua saham berhasil ikut menguat. Beberapa saham justru terperosok tajam.

1. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) Anjlok 14,86%

SOTS terperosok ke level Rp1.260, menjadi saham penurunan terdalam. Investor khawatir dengan likuiditas perusahaan.

2. PT Pollux Hotels Group Tbk (POLI) Turun 14,77%

POLI juga terpukul berat, turun ke Rp1.500. Penurunan ini terjadi seiring dengan perlambatan sektor .

Baca Juga:  Strategi KB Bank Genjot Pendanaan Segmen Korporasi untuk Capai Target Pertumbuhan 2026

3. PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) Turun 14,68%

JAYA merosot ke level Rp186, menunjukkan bahwa sektor transportasi darat masih menghadapi tantangan.

Saham dengan Nilai Transaksi Tertinggi

Beberapa saham menjadi andalan likuiditas pasar dengan nilai transaksi yang tinggi.

1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) – Rp1,87 Triliun

INDF tetap menjadi saham paling banyak diperdagangkan, menunjukkan bahwa investor masih memandang positif prospek konsumsi di Indonesia.

2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp1,38 Triliun

BBCA menjadi saham bank paling likuid, meskipun sektor keuangan secara umum sedang tertekan.

3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) – Rp1,22 Triliun

BUMI mencatatkan nilai transaksi tinggi, menunjukkan bahwa investor masih tertarik pada sektor energi meskipun dengan kewaspadaan.

Ringkasan Pergerakan IHSG Akhir Februari 2026

Kategori Data
IHSG Penutupan 8.235,00
Penguatan 0,22 poin
Titik Terendah Harian 8.093,74
Volume Perdagangan 47,5 miliar saham
Nilai Transaksi Rp37,9 triliun
Saham Menguat 336 saham
Saham Melemah 319 saham
Saham Stagnan 163 saham

Disclaimer: Data di atas bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan koreksi pasar serta pelaporan emiten yang lebih akurat. Informasi ini tidak dianggap sebagai rekomendasi investasi.

Pergerakan IHSG di akhir Februari 2026 menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Meskipun berhasil pulih dari tekanan harian, sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Investor perlu terus memantau perkembangan makro ekonomi serta kinerja emiten untuk mengambil keputusan yang tepat.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Karangbendo

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.