Beranda » Ekonomi Bisnis » Daya Beli Melemah dan Tabungan Macet, Potret Buram Kelas Menengah Bawah Saat Ini

Daya Beli Melemah dan Tabungan Macet, Potret Buram Kelas Menengah Bawah Saat Ini

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat kemampuan masyarakat kelas menengah bawah dalam menyimpan dana di perbankan masih mengalami kelesuan. Pertumbuhan simpanan dengan saldo di bawah Rp 100 juta pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,6 persen secara tahunan, menurun dibandingkan periode Januari 2025 yang sempat mencapai 4,8 persen. Meski demikian, angka ini menunjukkan sedikit perbaikan jika dibandingkan dengan capaian pada Desember 2025 yang berada di level 3,4 persen.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menjelaskan terdapat empat faktor utama yang menyebabkan lesunya . Faktor tersebut meliputi tergerusnya pendapatan riil akibat inflasi pangan, terbatasnya lapangan pekerjaan formal, dampak efisiensi di tingkat daerah, serta besarnya beban cicilan seperti kendaraan, rumah, hingga pinjaman online. Bhima mengkhawatirkan tren penurunan ini dapat berlanjut seiring adanya potensi kenaikan biaya kesehatan bagi masyarakat menengah bawah.

Pihak perbankan juga merasakan dampak dari melambatnya pada segmen ini. Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, mengakui adanya perlambatan laju simpanan menengah bawah akibat tekanan daya beli dan kebutuhan konsumsi. Meski demikian, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan simpanan segmen ritel masih berada di atas 6 persen secara tahunan dan menargetkan pertumbuhan total simpanan sekitar 8 persen hingga 9 persen pada tahun 2026.

Baca Juga:  Lonjakan Inflasi Medis Tahun 2026 Jadi Pemicu Utama Kenaikan Klaim Asuransi Kesehatan

Senada dengan hal tersebut, Direktur Network and Retail Funding Bank Tabungan Negara (), , menyatakan bahwa secara industri simpanan menengah bawah memang mengalami tekanan. Namun, kondisi di BTN dinilai tetap stabil dengan adanya peningkatan pada tabungan dan untuk saldo di bawah Rp 500 juta. Untuk menghadapi situasi tahun 2026, perbankan mulai menyusun strategi penguatan melalui digitalisasi layanan, program literasi keuangan, serta penawaran produk yang lebih relevan bagi kebutuhan nasabah ritel.

Disclaimer: Data statistik dan angka pertumbuhan dalam laporan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan pembaruan data dari lembaga terkait serta kondisi ekonomi makro yang berlaku di masa mendatang.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Desa Karangbendo

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.