Asosiasi Asuransi Umum Indonesia atau AAUI memproyeksikan target pendapatan premi industri asuransi umum pada 2026 mendatang bersifat bertahan di tengah berbagai tantangan industri yang dinilai cukup berat. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menyampaikan bahwa pihaknya berharap perolehan premi pada 2026 setidaknya bisa menyamai pencapaian tahun 2025 mengingat kondisi ekonomi yang masih diselimuti ketidakpastian.
Berdasarkan data AAUI, realisasi pendapatan premi asuransi umum hingga akhir 2025 tercatat sebesar 112,81 triliun rupiah atau tumbuh 4,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Budi menjelaskan bahwa meskipun terdapat kebijakan likuiditas perbankan, penyerapan kredit di masyarakat terpantau masih rendah sehingga berdampak langsung pada lini bisnis asuransi kredit.
Selain faktor ekonomi, regulasi baru turut menjadi tantangan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau POJK Nomor 20 Tahun 2023 yang membatasi ruang gerak penyedia asuransi kredit dan suretyship. Aturan ini mulai berlaku efektif pada 13 Desember 2024 dan mensyaratkan standar likuiditas serta ekuitas tertentu yang tidak dapat dipenuhi oleh seluruh pemain asuransi saat ini.
Industri asuransi umum juga tengah fokus pada pemenuhan target ekuitas minimum yang ditetapkan dalam POJK Nomor 23 Tahun 2023 untuk tahun 2026 dan 2028. Di saat yang bersamaan, perusahaan asuransi harus menjalankan kewajiban pemisahan atau spin off unit usaha syariah yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Sektor otomotif yang belum sepenuhnya pulih juga diprediksi akan menekan kinerja asuransi kendaraan bermotor sebagai salah satu penopang utama premi. AAUI juga kini tengah memperhatikan alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN untuk sektor riil guna melihat potensi pergerakan roda ekonomi nasional ke depan.
Sebagai langkah antisipasi dan upaya mencari peluang baru, AAUI mulai menjajaki potensi asuransi parametrik serta pengembangan asuransi mikro melalui kerja sama dengan Kementerian UMKM. Budi berharap berbagai terobosan tersebut dapat menjadi penopang kinerja industri meskipun hasilnya tidak bisa dirasakan secara instan.
Disclaimer: Seluruh data proyeksi, angka capaian premi, serta kebijakan regulasi dalam laporan ini dapat berubah sewaktu waktu mengikuti kebijakan otoritas terkait, perkembangan kondisi ekonomi makro, serta laporan keuangan terbaru dari pelaku industri terkait.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
