Bank Indonesia terus berupaya mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan menyusul pemangkasan suku bunga acuan atau BI Rate. Berdasarkan data Bank Indonesia, transmisi kebijakan tersebut ke sektor kredit dinilai masih berjalan lambat. Rata rata bunga kredit perbankan per Januari 2026 berada di level 8,8 persen, atau hanya turun 40 basis poin dibandingkan periode Januari 2025 yang tercatat sebesar 9,2 persen. Penurunan ini dinilai belum sebanding dengan pemangkasan BI Rate yang sudah mencapai 1,25 poin persentase sepanjang tahun lalu.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa kebijakan insentif likuiditas makroprudensial melalui jalur bunga sebenarnya sudah mulai memberikan dampak. Bunga kredit baru tercatat sudah turun sebesar 75 basis poin yang menandakan transmisi kebijakan suku bunga mulai berjalan. Realisasi insentif jalur bunga ini telah mencapai Rp 69,6 triliun dalam waktu kurang dari dua bulan, meski Bank Indonesia melihat masih terdapat ruang untuk pelonggaran lebih lanjut.
Bank Indonesia menyediakan insentif hingga 5,5 persen dari Giro Wajib Minimum. Saat ini pemanfaatan insentif tersebut baru mencapai 4,83 persen dari total dana pihak ketiga, sehingga masih ada ruang sekitar 0,7 persen yang dapat dioptimalkan oleh industri perbankan. Destry menegaskan bahwa otoritas moneter akan terus mendorong perbankan untuk mempercepat transmisi suku bunga agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat serta mampu mendorong pertumbuhan kredit nasional.
Terkait dinamika di lapangan, Presiden Direktur KB Bank Kunardy Lie mengungkapkan bahwa segmen kredit korporasi dan modal kerja merupakan yang paling cepat melakukan penyesuaian suku bunga. Hal ini dikarenakan skema kredit tersebut berbasis negosiasi dengan volume dana yang besar. Sebaliknya, penurunan bunga pada segmen kredit konsumsi cenderung bergerak lebih lambat karena sifatnya yang sulit berubah atau sticky. Beberapa faktor penghambat penurunan bunga kredit antara lain adalah biaya dana yang masih tinggi akibat deposito jangka panjang serta upaya bank dalam menjaga margin untuk mitigasi risiko kredit.
Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan bahwa di instansinya transmisi bunga pada segmen konsumsi memang belum terjadi. Penyesuaian bunga kredit dilakukan secara tidak seragam dan sangat bergantung pada total hubungan bisnis bank dengan masing masing nasabah. Melalui berbagai program insentif ini, Bank Indonesia berharap penurunan suku bunga kredit akan menjadi lebih nyata sehingga dapat memperkuat permintaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara umum.
Sebagai catatan, seluruh data angka, nilai suku bunga, serta proyeksi perkembangan ekonomi dalam laporan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu waktu mengikuti kebijakan regulator serta kondisi pasar keuangan terkini.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
