Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menyatakan bahwa perubahan preferensi masyarakat dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik atau electric vehicle menjadi tantangan serius bagi industri asuransi nasional. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Budi Herawan mengungkapkan bahwa meski pasar otomotif mulai beralih ke kendaraan listrik, ekosistem pendukungnya di Indonesia belum sepenuhnya siap. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan asuransi umum ragu untuk memberikan perlindungan terhadap kendaraan jenis tersebut.
Budi menjelaskan bahwa kondisi saat ini berbeda jauh dengan era masuknya kendaraan pabrikan Jepang pada tahun 1970an. Saat itu, seluruh ekosistem mulai dari pabrik hingga penyediaan suku cadang telah disiapkan lebih dahulu. Namun, pada era kendaraan listrik yang didominasi merek asal China, infrastruktur pendukung seperti pabrik baterai dan ketersediaan suku cadang dinilai belum memadai. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan penyedia jasa asuransi mengenai risiko yang harus ditanggung.
Salah satu faktor utama yang menjadi penghambat adalah tingginya biaya klaim perbaikan kendaraan listrik. Budi menyebutkan bahwa biaya perbaikan kendaraan listrik bisa mencapai 30 persen hingga 40 persen lebih mahal dibandingkan kendaraan konvensional. Kesulitan dalam mendapatkan suku cadang memperburuk situasi ini sehingga banyak perusahaan asuransi enggan menutup perlindungan untuk kendaraan berbasis listrik. Asosiasi berharap pemerintah segera memperkuat ekosistem kendaraan listrik agar biaya suku cadang menjadi lebih terjangkau.
Berdasarkan data asosiasi, pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor tercatat sebesar 19,02 triliun rupiah pada akhir tahun 2025. Angka tersebut mengalami kontraksi sebesar 4,2 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang mencapai 19,86 triliun rupiah. Penurunan ini sejalan dengan lesunya penjualan kendaraan konvensional di pasar otomotif nasional sepanjang tahun 2025.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan penjualan mobil secara wholesales sepanjang tahun 2025 hanya mencapai 803.687 unit atau turun 7,2 persen dibandingkan tahun 2024. Penjualan ritel dari diler ke konsumen juga mengalami perlambatan sebesar 6,3 persen dengan total 833.692 unit. Selain kelesuan pasar, perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai melirik kendaraan listrik namun belum mendapat dukungan proteksi asuransi yang memadai turut memengaruhi kinerja premi asuransi kendaraan.
Pernyataan ini merupakan laporan berdasarkan situasi pada waktu tertentu. Data ekonomi, angka pertumbuhan premi, statistik penjualan kendaraan, serta kebijakan pemerintah terkait industri asuransi dan kendaraan listrik dapat berubah sewaktu waktu mengikuti perkembangan kondisi pasar dan regulasi terbaru. Informasi ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau penutupan polis asuransi tertentu.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
