Bank Indonesia mencatat posisi kredit menganggur atau undisbursed loan di sektor perbankan mengalami kenaikan signifikan pada awal tahun 2026. Hingga Januari 2026, total kredit yang belum ditarik oleh debitur mencapai Rp 2.506,47 triliun. Angka tersebut setara dengan 22,65 persen dari total plafon kredit yang disediakan perbankan.
Jumlah ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan posisi Desember 2025 yang tercatat sebesar Rp 2.439,2 triliun atau sekitar 22,12 persen. Kenaikan kredit menganggur ini terjadi di tengah pertumbuhan penyaluran kredit perbankan (outstanding) yang sebenarnya masih tumbuh positif sebesar 9,96 persen secara tahunan pada periode yang sama.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kondisi ini wajar seiring dengan penguatan likuiditas perbankan dan adanya sejumlah rencana kredit yang masih dalam tahap analisis. Menurut Myrdal, perbankan saat ini lebih berhati hati karena mulai menyasar sektor prioritas pemerintah yang memerlukan kajian risiko lebih mendalam. Selain faktor kehati hatian, potensi penurunan suku bunga ke depan diharapkan dapat menjadi pendorong bagi debitur untuk segera merealisasikan pinjaman mereka.
Beberapa bank besar turut mencatatkan kenaikan pada pos kredit menganggur. PT Bank Central Asia Tbk mencatat undisbursed loan sebesar Rp 464,82 triliun pada Januari 2026, naik 8,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pihak manajemen menyatakan tetap mendorong penyaluran kredit dengan prinsip kehati hatian yang selaras dengan pertumbuhan ekonomi.
Kondisi serupa terjadi pada PT Bank Mandiri yang mencatat porsi kredit menganggur sebesar Rp 284,36 triliun, atau naik 8,75 persen secara tahunan. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia mencatatkan posisi undisbursed loan sebesar Rp 90,08 triliun pada akhir tahun 2025. Di sisi lain, CIMB Niaga melaporkan kondisi yang cenderung stabil dengan fokus pada optimalisasi penggunaan fasilitas kredit yang sudah ada oleh debitur.
Penting untuk diperhatikan bahwa data perbankan, realisasi pertumbuhan kredit, serta kebijakan suku bunga bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu waktu mengikuti perkembangan kondisi ekonomi global maupun domestik serta regulasi terkini dari otoritas moneter. Penulisan ini disusun berdasarkan laporan data keuangan perbankan dan proyeksi pasar pada periode terkait.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
