JAKARTA – Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi menyatakan perlambatan pertumbuhan kredit lebih dipengaruhi struktur sektoral ekonomi dan sisi permintaan yang belum pulih sepenuhnya pada Kamis, 19 Februari 2026.
Hal tersebut disampaikan Hery dalam Webinar Economic Outlook 2026. Ia menegaskan moderasi kredit saat ini bukan semata disebabkan keterbatasan likuiditas perbankan.
“Artinya, moderasi kredit saat ini bukan semata faktor likuiditas. Meskipun pemerintah telah mengguyur likuiditas tambahan ke sistem perbankan, pertumbuhan kredit tetap sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi Indonesia yang masih didominasi sektor padat karya dan sensitif terhadap siklus. Ketika konsumsi melambat, margin usaha tertekan dan ekspansi bisnis langsung tertahan,” ujar Hery Gunardi.
Dirut BRI itu menjelaskan bahwa diversifikasi portofolio pembiayaan dan peningkatan kredit ke sektor bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk mengurangi sensitivitas terhadap siklus ekonomi. Ia menilai kebijakan fiskal dan moneter sudah dilihat kredibel oleh pasar, namun optimisme di level makro belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspansi nyata di tingkat pelaku usaha.
“Sebagian besar pelaku usaha masih berada pada posisi cukup setuju, belum sampai pada level keyakinan kuat untuk mempercepat investasi ataupun ekspansi. Terdapat celah antara persepsi positif terhadap kebijakan dan keputusan bisnis di lapangan. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi pada desain kebijakan, melainkan pada percepatan transmisi dan realisasi dampaknya ke sektor ril,” jelas Hery.
Karena itu, fokus kebijakan perlu bergeser dari sekadar narasi optimisme menuju akselerasi implementasi yang benar-benar dirasakan dunia usaha. Hery memprediksi fase pertumbuhan single digit kredit berpotensi terulang tahun ini jika hal tersebut tidak dilakukan.
“Bukan karena likuiditas terbatas. Dana tersedia, deposito tetap tumbuh. Tantangannya ada pada sisi permintaan. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta ekspansi dunia usaha yang masih selektif menjadi faktor utama tertahannya penyaluran kredit,” kata Hery.
Ia menyebut kondisi saat ini merupakan fase normalisasi pertumbuhan kredit, yang bukan merupakan krisis tetapi juga bukan fase ekspansi agresif. Dalam fase tersebut, kualitas pertumbuhan menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar angka pertumbuhan kredit yang tinggi.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
