PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan performa keuangan yang impresif pada awal tahun 2026. Laba bersih setelah pajak atau Net Profit After Tax (NPAT) perusahaan menembus angka Rp86 miliar hingga penutupan kuartal I/2026.
Capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 42 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kala itu, bank digital ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp60 miliar.
Ekspansi Basis Nasabah dan Dana Pihak Ketiga
Pertumbuhan laba yang solid ini tidak terlepas dari keberhasilan bank dalam menjangkau lebih banyak pengguna. Hingga akhir Maret 2026, total nasabah yang terlayani mencapai 19,4 juta orang.
Angka tersebut mencakup 15,2 juta nasabah funding yang aktif menggunakan Aplikasi Jago. Jika dibandingkan dengan posisi kuartal I/2025 yang berada di angka 16,3 juta nasabah, terjadi penambahan lebih dari tiga juta pengguna baru dalam kurun waktu satu tahun.
Peningkatan basis nasabah ini berdampak langsung pada pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK). Berikut adalah rincian komposisi DPK Bank Jago per Maret 2026:
| Komponen DPK | Nominal (Triliun Rupiah) | Persentase |
|---|---|---|
| CASA (Tabungan & Giro) | Rp13,9 | 53% |
| Deposito | Rp12,5 | 47% |
| Total DPK | Rp26,4 | 100% |
Data di atas menunjukkan bahwa porsi CASA mendominasi struktur pendanaan perusahaan. Kondisi ini mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah yang semakin tinggi terhadap layanan perbankan digital dalam mengelola keuangan sehari-hari.
Strategi Penyaluran Kredit dan Kualitas Aset
Sejalan dengan pertumbuhan pendanaan, sektor penyaluran kredit juga menunjukkan tren positif. Bank Jago mencatatkan total penyaluran kredit sebesar Rp25,2 triliun hingga akhir Maret 2026.
Angka tersebut tumbuh 24 persen secara tahunan dibandingkan dengan posisi Rp20,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Keberhasilan ini didorong oleh kolaborasi strategis dengan berbagai ekosistem digital, perusahaan pembiayaan, serta lembaga keuangan lainnya.
Dalam menjaga keberlangsungan bisnis di tengah dinamika ekonomi yang menantang, manajemen menerapkan prinsip kehati-hatian yang ketat. Berikut adalah beberapa indikator kesehatan keuangan yang menjadi fokus utama perusahaan:
- Menjaga rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross di level rendah, yakni 0,8 persen.
- Memastikan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap kuat di angka 29,9 persen.
- Mengelola rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) pada posisi 95 persen.
Angka NPL gross sebesar 0,8 persen tersebut tergolong sangat kompetitif dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan nasional. Hal ini membuktikan bahwa ekspansi kredit yang dilakukan tetap dibarengi dengan manajemen risiko yang mumpuni.
Pertumbuhan kredit yang solid pada akhirnya turut mendorong peningkatan total aset perusahaan. Hingga akhir Maret 2026, total aset Bank Jago tercatat mencapai Rp39,5 triliun.
Pencapaian aset ini tumbuh 22 persen dibandingkan dengan posisi Rp32,5 triliun pada kuartal I/2025. Dengan permodalan yang tebal melalui CAR sebesar 29,9 persen, perusahaan memiliki ruang gerak yang cukup luas untuk melakukan ekspansi bisnis di masa mendatang.
Fokus Keberlanjutan di Tengah Dinamika Ekonomi
Manajemen Bank Jago menegaskan komitmen untuk tetap berhati-hati dalam menjalankan operasional perusahaan. Fokus utama tetap pada menjaga kesehatan kinerja keuangan sembari mencari peluang pertumbuhan yang berkelanjutan.
Langkah ini diambil mengingat situasi ekonomi global maupun domestik yang terus berubah. Kehati-hatian tersebut menjadi kunci agar perusahaan tetap stabil meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan eksternal.
Strategi kolaborasi dengan ekosistem digital akan terus dioptimalkan untuk memperluas jangkauan layanan. Integrasi yang lebih dalam dengan platform mitra diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi nasabah serta memperkuat posisi perusahaan di pasar perbankan digital.
Ke depan, Bank Jago diprediksi akan terus melakukan inovasi pada fitur-fitur aplikasi untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Hal ini penting untuk mempertahankan loyalitas nasabah di tengah persaingan bank digital yang semakin ketat.
Disclaimer: Data keuangan yang disajikan dalam artikel ini merujuk pada laporan kinerja kuartal I/2026. Angka dan persentase dapat mengalami perubahan seiring dengan perkembangan kinerja perusahaan di periode berikutnya. Informasi ini bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi investasi tertentu.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.

