Harga Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya kembali menguat di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Perang antara Israel-Iran yang semakin meluas, berimbas pada ketegangan geopolitik global. Namun, justru di tengah situasi ini, investor mulai melirik aset digital sebagai alternatif lindung nilai.
Pergerakan harga kripto kali ini tidak datang dari isu teknologi atau regulasi, melainkan dari faktor eksternal yang besar. Pasar bereaksi cepat ketika ancaman gangguan pasokan minyak global muncul akibat serangan drone ke wilayah strategis seperti Dubai dan Saudi Arabia. Bitcoin yang dikenal sebagai aset anti-sentral dan tidak bisa disita, mulai dipersepsikan sebagai safe haven digital.
Dinamika Harga Bitcoin dan Ethereum Saat Ketegangan Geopolitik Naik
Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan terakhir, yakni US$ 75.600. Meski sempat turun kembali ke kisaran US$ 73.763, kenaikan 0,45% dalam 24 jam tetap menunjukkan bahwa minat investor tidak surut meski situasi global memanas.
Ethereum bahkan menunjukkan performa lebih agresif. Aset ini sempat melonjak ke atas US$ 2.350, naik hampir 2% hanya dalam sehari. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya melihat Bitcoin, tapi juga mulai memperhitungkan potensi Ethereum sebagai aset yield-generating.
1. Aset Kripto sebagai Alternatif Safe Haven
Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, investor cenderung mencari instrumen yang tidak mudah terpengaruh oleh kebijakan pemerintah atau sistem keuangan konvensional. Bitcoin dengan sifatnya yang desentralisasi dan pasokan terbatas, mulai dilihat sebagai alternatif lindung nilai.
- Tidak bisa disita atau dibekukan oleh otoritas
- Pasokan terbatas dan algoritmik
- Likuiditas tinggi dan bisa diperdagangkan 24/7
Fahmi Almuttaqin, Crypto Analis Reku, menyebut bahwa narasi ini mirip dengan emas, namun dengan keunggulan likuiditas digital. Dalam kondisi ketika sistem keuangan fiat terancam, aset seperti Bitcoin bisa menjadi pelarian investor.
2. Korelasi Minyak dan Bitcoin yang Menarik
Menariknya, dalam beberapa pekan terakhir terlihat korelasi negatif antara harga minyak dan Bitcoin. Ketika harga minyak turun akibat gangguan pasokan atau eskalasi konflik, harga Bitcoin justru naik.
| Kondisi | Harga Minyak | Harga Bitcoin |
|---|---|---|
| Eskalasi konflik | Turun | Naik |
| Stabilitas geopolitik | Naik | Stabil/Turun |
Ini menunjukkan bahwa investor mulai memandang Bitcoin sebagai instrumen yang tidak hanya teknologi, tapi juga ekonomi makro.
3. Akumulasi Institusi yang Terus Meningkat
Di balik volatilitas jangka pendek, tren jangka panjang tetap menunjukkan akumulasi besar dari kalangan institusi. Dalam seminggu terakhir saja, tercatat pembelian bersih sebesar 22.337 BTC senilai US$ 1,57 miliar.
Total kepemilikan institusi kini mencapai 761.068 BTC, senilai sekitar US$ 57,61 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa investor besar tidak tergoda dengan hype jangka pendek, tapi fokus membangun portofolio jangka panjang.
Momentum Ethereum Semakin Kuat
Ethereum juga mencatat rekor baru. Jumlah ETH yang dipegang oleh perusahaan treasury mencapai 7,27 juta ETH, senilai US$ 15,11 miliar. Angka ini setara dengan lebih dari 6% dari total suplai ETH yang beredar.
Faktor Pendorong Kenaikan Ethereum:
- Peluncuran ETHB (iShares Staked Ethereum Trust) oleh BlackRock
- Akses terhadap staking reward bagi pemegang ETF
- Peningkatan minat institusi terhadap yield-generating assets
Ini menunjukkan bahwa Ethereum tidak hanya dilihat sebagai aset spekulatif, tapi juga instrumen produktif yang bisa menghasilkan pendapatan.
4. FOMC dan Dilema Suku Bunga AS
Pertemuan FOMC pada 17-18 Maret 2026 menjadi sorotan pasar. Meski suku bunga diperkirakan akan tetap ditahan, hasil dot plot bisa memberikan arah baru kebijakan moneter AS.
Data PDB AS kuartal IV 2025 yang direvisi turun ke 0,7% (jauh dari estimasi 1,5%) menunjukkan perlambatan ekonomi. Sementara ancaman inflasi akibat gangguan rantai pasokan minyak global semakin nyata.
| Indikator | Data |
|---|---|
| PDB AS Q4 2025 | 0,7% (revisi) |
| Estimasi Awal | 1,5% |
| PDB Q3 2025 | 4,4% |
Kondisi ini menciptakan dilema bagi The Fed: apakah harus menahan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan atau menaikkannya untuk mengendalikan inflasi?
5. Relevansi Aset Kripto bagi Investor Domestik
Bagi investor lokal, situasi ini juga relevan. Kurs rupiah kini mendekati Rp 17.000 per dolar AS, dan inflasi tahunan Februari mencapai 4,76%, tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Aset kripto, khususnya Bitcoin dan Ethereum, bisa menjadi instrumen diversifikasi yang efektif. Terutama bagi mereka yang ingin melindungi nilai aset dari depresiasi rupiah atau inflasi domestik.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
Bagi investor jangka panjang, volatilitas saat ini bisa dimanfaatkan melalui strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Dengan membeli secara bertahap, risiko timing market bisa diminimalkan.
Tips Investasi Saat Ini:
- Fokus pada aset dengan fundamental kuat
- Gunakan DCA untuk mengurangi risiko
- Jangan alokasikan lebih dari 5-10% portofolio ke kripto
- Pantau perkembangan geopolitik dan kebijakan makro
Manajemen risiko tetap menjadi kunci utama. Volatilitas masih akan tinggi dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut.
Disclaimer
Data harga dan kondisi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, dan faktor eksternal lainnya. Informasi dalam artikel ini bersifat edukasi dan bukan sebagai rekomendasi investasi finansial.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.

