PT Bank Permata Tbk (BNLI) masih berada di bawah radar ketentuan free float terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Meski begitu, pihak bank tidak tinggal diam. Koordinasi terus dilakukan dengan Bangkok Bank selaku pemegang saham pengendali (PSP) untuk mencari solusi agar sesuai dengan regulasi terbaru yang menetapkan minimum free float sebesar 15%.
Free float sendiri adalah persentase saham yang berada di tangan publik dan bisa diperdagangkan bebas di pasar modal. Sebelumnya, OJK menetapkan batas minimum free float sebesar 7,5%. Namun, karena tuntutan transparansi dari lembaga indeks global seperti MSCI, aturan itu kini diperketat menjadi 15%. Perubahan ini berlaku terutama bagi emiten baru yang ingin melakukan IPO. Sementara emiten lama yang belum memenuhi syarat diberi waktu tiga tahun untuk menyesuaikan diri.
Free Float BNLI Masih di Bawah 15%
Bank Permata saat ini mencatatkan free float sebesar 9,97%. Angka ini masih jauh dari ketentuan terbaru OJK. Namun, pihak manajemen tidak panik. Mereka tetap menjaga komunikasi erat dengan Bangkok Bank untuk mencari langkah terbaik dalam memenuhi regulasi tersebut.
Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah BNLI, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya mencari solusi. Namun, Rudy juga menekankan bahwa kebijakan resmi dari OJK masih belum diterbitkan. Artinya, masih ada ruang untuk melihat bagaimana aturan teknisnya akan diterapkan.
1. Koordinasi dengan Bangkok Bank
Langkah pertama yang dilakukan BNLI adalah memperkuat koordinasi dengan Bangkok Bank. Sebagai pemegang saham mayoritas, Bangkok Bank memiliki peran penting dalam menentukan langkah strategis terkait peningkatan free float.
2. Menunggu Aturan Resmi dari OJK
Meski rencana peningkatan free float sudah dibahas secara internal, BNLI masih menunggu aturan resmi dari OJK. Hal ini penting untuk memastikan langkah yang diambil sesuai dengan kerangka regulasi yang berlaku.
3. Evaluasi Internal dan Eksternal
Bank juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur kepemilikan sahamnya. Evaluasi ini mencakup aspek internal seperti rencana divestasi saham oleh pemegang saham pengendali, serta aspek eksternal seperti dampak terhadap investor ritel.
Perbandingan Free Float: Regulasi Lama vs Regulasi Baru
Berikut adalah perbandingan antara ketentuan free float sebelum dan sesudah perubahan regulasi OJK:
| Aspek | Regulasi Lama (Sebelum 2026) | Regulasi Baru (2026) |
|---|---|---|
| Minimum Free Float | 7,5% | 15% |
| Berlaku untuk | Semua emiten | Emiten baru (IPO) |
| Tenggat Waktu | Tidak ada tenggat khusus | 3 tahun untuk emiten lama |
| Tujuan | Meningkatkan likuiditas pasar | Meningkatkan transparansi dan daya tarik investor asing |
Dampak Terhadap Investor dan Harga Saham
Ketika free float rendah, likuiditas saham cenderung terbatas. Hal ini bisa membuat harga saham lebih fluktuatif dan kurang menarik bagi investor institusional, terutama yang mengikuti indeks global seperti MSCI.
Namun, dengan meningkatkan free float, BNLI berpotensi menarik lebih banyak investor. Saham yang lebih likuid biasanya lebih diminati, karena risiko investasinya lebih terukur dan mudah diperdagangkan.
Langkah-Langkah Strategis yang Bisa Diambil BNLI
1. Penawaran Saham Tambahan (Secondary Offering)
Salah satu cara untuk meningkatkan free float adalah dengan melakukan penawaran saham tambahan kepada publik. Langkah ini bisa dilakukan melalui rights issue atau penjualan saham baru.
2. Divestasi oleh Pemegang Saham Pengendali
Bangkok Bank bisa melepas sebagian sahamnya kepada publik. Ini adalah langkah yang umum dilakukan oleh perusahaan yang ingin memenuhi ketentuan free float.
3. Penjualan Saham ke Investor Institusi
Menjual saham kepada investor institusi lokal atau asing juga bisa menjadi solusi. Investor jenis ini biasanya mencari saham dengan free float tinggi agar mudah diperdagangkan.
Tantangan dalam Meningkatkan Free Float
Meski terdengar sederhana, proses peningkatan free float tidak selalu mudah. Ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:
1. Dampak pada Struktur Kepemilikan
Jika PSP melepas saham, kontrol terhadap perusahaan bisa berkurang. Ini menjadi pertimbangan penting, terutama bagi perusahaan dengan struktur kepemilikan yang kompleks seperti BNLI.
2. Respon Pasar
Investor pasar sering kali sensitif terhadap isu kepemilikan saham. Jika proses peningkatan free float tidak dikelola dengan baik, bisa menimbulkan volatilitas harga saham yang tinggi.
3. Biaya dan Waktu
Langkah-langkah seperti secondary offering atau IPO tambahan memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Regulator juga bisa meminta audit atau peninjauan tambahan.
Proyeksi Ke Depan
Dengan adanya tenggat waktu tiga tahun, BNLI masih memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan diri. Namun, langkah awal yang diambil dalam waktu dekat akan sangat menentukan apakah bank ini bisa memenuhi regulasi tanpa mengganggu operasional bisnisnya.
Investor BNLI juga perlu terus memantau perkembangan kebijakan dari OJK. Jika aturan resmi segera diterbitkan, bisa jadi akan ada langkah konkret dari manajemen dalam waktu singkat.
Kesimpulan
Free float yang masih di bawah 15% bukan berarti BNLI tidak siap menghadapi regulasi baru. Melalui koordinasi dengan Bangkok Bank dan antisipasi terhadap kebijakan OJK, bank ini menunjukkan bahwa mereka siap mengambil langkah strategis. Yang jelas, perubahan ini bukan hanya tantangan, tapi juga peluang untuk meningkatkan daya tarik saham di mata investor lokal maupun global.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan regulator dan kondisi pasar.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.




