Sejumlah emiten perbankan besar di Tanah Air mulai mengumbar sinyal kuat soal pembagian dividen pada tahun buku 2025. Meski pertumbuhan laba tercatat melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya, strategi ini tetap dijalankan untuk menjaga daya tarik saham di mata investor. Emiten-emiten ini punya pertimbangan matang, mulai dari struktur permodalan hingga target return on equity (ROE) ke depan.
Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang untuk memberikan imbal hasil yang konsisten. Meski laba tidak tumbuh signifikan, bank-bank ini tetap mempertimbangkan aspek keberlanjutan bisnis dan kepuasan investor. Berikut kisi-kisi pembagian dividen dari beberapa bank besar di tahun ini.
Kisi-Kisi Dividen Emiten Perbankan Besar
1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
Bank BUMN ini membuka peluang meningkatkan dividen payout ratio (DPR) di tahun buku 2025. Pada tahun lalu, BRI membagikan 86% dari laba bersihnya yang mencapai Rp 51,85 triliun. Tahun ini, laba bersih BRI tercatat di angka Rp 57,13 triliun, meski turun tipis 5,26% secara tahunan.
Jika DPR tetap dipertahankan di level 86%, maka potensi dividen yang dibagikan bisa mencapai Rp 49,13 triliun. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyebut bahwa pengambilan keputusan terkait dividen mempertimbangkan struktur permodalan, CAR, dan rencana pertumbuhan jangka panjang.
Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI pada akhir 2025 mencapai 23,52%, menunjukkan posisi permodalan yang sangat kuat. Sebelumnya, BRI sudah membagikan dividen interim sebesar Rp 20,63 triliun atau setara Rp 137 per saham.
2. Bank Mandiri (BMRI)
Bank pelat merah ini berencana mempertahankan pembagian dividen dengan nominal yang tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, Mandiri membagikan dividen sebesar Rp 43,51 triliun dari laba bersih Rp 55,78 triliun, atau sekitar 78% dari laba.
Tahun ini, laba Mandiri naik tipis 0,93% menjadi Rp 56,3 triliun. Dengan DPR yang sama, potensi dividen diperkirakan mencapai Rp 43,9 triliun atau sekitar Rp 472 per saham. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyebut bahwa langkah ini menjadi katalis positif bagi investor yang mencari yield dari saham blue chip perbankan.
3. Bank Negara Indonesia (BBNI)
BNI akan mempertahankan DPR-nya di level 65%, sama seperti tahun sebelumnya. Meski laba bersihnya turun 6,6% menjadi Rp 20,04 triliun, bank ini tetap berkomitmen membagikan dividen sekitar Rp 13 triliun.
Penurunan laba tidak serta merta mengurangi keinginan manajemen untuk memberikan imbal hasil kepada pemegang saham. Strategi ini dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap loyalitas investor jangka panjang.
4. Bank Tabungan Negara (BBTN)
BTN membuka peluang menaikkan DPR menjadi 25%-30% di tahun buku 2025. Tahun lalu, laba bersih BTN naik 16,4% menjadi Rp 3,5 triliun. Dengan kenaikan DPR, potensi dividen berada di kisaran Rp 875 miliar hingga Rp 1,05 triliun.
Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, menyebut bahwa bank ini ingin menjaga ROE di atas level 12%-14%. Target ini menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan rasio pembagian dividen.
5. Bank Central Asia (BBCA)
BCA belum secara resmi merinci rencana dividen tahun ini. Namun, dalam RUPS yang akan digelar pada 12 Maret 2026, rencana tersebut akan dibahas secara detail. Tahun lalu, BCA membagikan dividen sebesar Rp 300 per saham atau total Rp 37 triliun dari laba bersih Rp 54,8 triliun, naik 12,7% yoy.
Tahun ini, BCA sudah membagikan dividen interim sebesar Rp 55 per saham atau Rp 6,77 triliun. Laba bersih BCA di tahun buku 2025 mencapai Rp 57,5 triliun, naik 4,9% secara tahunan. Meski belum ada kepastian, ekspektasi investor terhadap dividen BCA tetap tinggi mengingat track record bank ini yang konsisten.
Perbandingan Potensi Dividen Emiten Perbankan
Berikut rincian potensi dividen dari beberapa bank besar berdasarkan laba bersih dan DPR yang direncanakan:
| Emiten | Laba Bersih 2025 | DPR Rencana | Potensi Dividen |
|---|---|---|---|
| BBRI | Rp 57,13 triliun | 86% | Rp 49,13 triliun |
| BMRI | Rp 56,3 triliun | 78% | Rp 43,9 triliun |
| BBNI | Rp 20,04 triliun | 65% | Rp 13 triliun |
| BBTN | Rp 3,5 triliun | 25%-30% | Rp 875 miliar – Rp 1,05 triliun |
| BBCA | Rp 57,5 triliun | Belum pasti | Diprediksi >Rp 37 triliun |
Faktor Pendukung dan Risiko
Faktor Pendukung
-
Struktur Permodalan Kuat
Sebagian besar bank besar memiliki CAR yang tinggi, memberikan ruang bagi pembagian dividen tanpa mengorbankan ketahanan modal. -
Kebijakan Dividen Konsisten
Emiten perbankan besar umumnya menjaga kebijakan dividen yang stabil untuk menjaga kepercayaan investor. -
Imbal Hasil Menarik
Di tengah volatilitas pasar, saham-saham perbankan besar dengan yield tinggi menjadi pilihan investor mencari income.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
-
Pertumbuhan Laba yang Melambat
Meski dividen tetap dibagikan, laba bersih beberapa bank justru tercatat turun dibanding tahun sebelumnya. -
Ketidakpastian Makroekonomi
Tekanan dari suku bunga, inflasi, dan kinerja makro ekonomi bisa memengaruhi kinerja perbankan ke depan. -
Perubahan Regulasi
Kebijakan OJK atau BI terkait batas maksimal DPR bisa memengaruhi rencana distribusi dividen.
Kesimpulan
Langkah emiten perbankan besar untuk tetap membagikan dividen di tahun buku 2025 menunjukkan komitmen kuat terhadap pemegang saham. Meski laba tidak tumbuh tinggi, bank-bank ini tetap menjaga keseimbangan antara imbal hasil dan keberlanjutan bisnis.
Investor yang tertarik pada saham-saham blue chip perbankan bisa memperhatikan kisi-kisi pembagian dividen ini sebagai referensi. Namun, penting juga untuk memperhatikan faktor risiko yang bisa memengaruhi keputusan akhir pembagian dividen.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan laporan keuangan terkini. Nilai dividen bisa berubah tergantung keputusan RUPS masing-masing emiten serta faktor makro ekonomi yang berlaku.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.




