Bank Rakyat Indonesia (BRI) tercatat telah membina 42.682 klaster usaha di seluruh Indonesia hingga akhir 2025, disertai 3.001 kegiatan pemberdayaan yang meliputi pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi.
Di antara ribuan klaster tersebut, Klaster Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi, Jawa Timur, tampil sebagai salah satu kisah sukses yang paling menonjol.
Berkat pendampingan Program Klasterku Hidupku BRI, kelompok petani yang sempat menghadapi berbagai masalah klasik ini kini mampu naik kelas, baik dari sisi produktivitas maupun akses pasar. Simak penjelasan lengkap dari desakarangbendo.id berikut ini.
Program Klasterku Hidupku merupakan pendekatan pemberdayaan yang diinisiasi BRI untuk mendorong UMKM naik kelas, khususnya pelaku usaha di sektor produksi.
Pembinaan difokuskan pada sektor-sektor dengan daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah.
Berikut ringkasan capaian Program Klasterku Hidupku BRI hingga akhir 2025.
| Indikator | Capaian |
|---|---|
| Total Klaster Usaha Binaan | 42.682 klaster |
| Kegiatan Pemberdayaan | 3.001 kegiatan |
| Bentuk Pemberdayaan | Pelatihan usaha, dukungan sarana dan prasarana produksi |
| Fokus Pembinaan | Sektor produksi berdaya ungkit tinggi terhadap ekonomi daerah |
Data tersebut menunjukkan skala komitmen BRI dalam mendorong pertumbuhan UMKM berbasis klaster secara nasional.
Banyuwangi sejak lama dikenal sebagai daerah dengan denyut kehidupan pertanian yang kuat.
Didukung lahan subur dan semangat inovasi, berbagai komoditas terus dikembangkan oleh petani setempat untuk meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan.
Dari kondisi itulah Klaster Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi terbentuk pada 2016 atas inisiatif Edy, yang memimpin kelompok ini sejak awal.
“Klaster buah naga ini kami bentuk pada tahun 2016. Saat itu, tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, tetapi muncul berbagai masalah, mulai dari serangan penyakit hingga pasar yang over ketika produksi meningkat. Karena itu, kami membentuk Klaster Petani Buah Naga (Panaba) agar masalah-masalah tersebut bisa diatasi bersama,” ujar Edy.
Seiring terbentuknya klaster, para petani memiliki ruang untuk berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan menyamakan langkah.
Klaster Panaba menjadi wadah kolektif untuk mencari solusi atas persoalan teknis maupun pemasaran yang dihadapi di lapangan.
Tak hanya fokus pada budidaya, Klaster Panaba juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga jual buah naga.
Sistem ini dirancang untuk melindungi petani dari permainan harga yang kerap dilakukan pedagang di luar klaster.
“Pedagang yang tergabung dalam klaster wajib mengikuti pedoman harga. Misalnya, jika harga di pasar Rp10.000 per kilogram, mereka membeli dari petani minimal Rp7.000. Pedagang di luar klaster sering memanfaatkan situasi dengan membeli lebih murah. Untuk anggota klaster, kami beri kode dan panduan harga,” jelas Edy.
Berikut perbandingan mekanisme harga bagi petani di dalam dan di luar klaster.
| Aspek | Petani dalam Klaster | Petani di Luar Klaster |
|---|---|---|
| Pedoman Harga | Ada, diatur oleh klaster | Tidak ada |
| Harga Beli Minimum (contoh) | Rp7.000/kg | Ditentukan pedagang, sering lebih rendah |
| Proteksi dari Permainan Harga | Terlindungi lewat kode dan panduan | Rentan terhadap tekanan harga |
Mekanisme ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi petani untuk bergabung dalam Klaster Panaba.
Perjalanan Klaster Panaba yang kian solid mendorong kebutuhan akan dukungan lebih terarah, terutama dari sisi permodalan dan penguatan kapasitas usaha.
Sejak 2017, Klaster Panaba resmi mendapatkan pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku BRI.
Pendampingan difokuskan pada kebutuhan mendasar dalam budidaya buah naga, salah satunya pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi.
Teknologi lampu ini telah mulai dikembangkan sejak 2013 dan menjadi salah satu kunci peningkatan produktivitas buah naga di Banyuwangi.
Inovasi tersebut memungkinkan petani tidak bergantung pada musim serta menjaga konsistensi produksi dan kualitas panen.
“Bentuk pemberdayaan dari BRI sangat mendukung kegiatan klaster, mulai dari pelatihan dengan mendatangkan pakar, hingga kemudahan akses pinjaman modal. Selama petani sudah memiliki tanaman buah naga, proses pinjaman tidak ribet dan tidak memerlukan agunan yang sulit,” ungkap Edy.
Lebih lanjut, Edy menegaskan bahwa rangkaian dukungan tersebut berdampak besar pada kepercayaan diri petani.
“Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih yakin dan berani mengembangkan usaha. Petani tidak berjalan sendiri,” ujarnya.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa Program Klasterku Hidupku dirancang sebagai pendekatan pemberdayaan untuk mendorong UMKM naik kelas.
Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya membuka akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mendorong kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal.
“Dengan pendekatan ini, BRI berharap klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi referensi dan role model bagi UMKM di daerah lain. Semoga kisah inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi dapat direplika oleh pelaku usaha di daerah lainnya,” kata Akhmad.
Keberhasilan Klaster Panaba Banyuwangi menjadi bukti nyata bahwa pendekatan berbasis klaster mampu menjawab tantangan petani, mulai dari persoalan teknis budidaya hingga akses pasar yang lebih adil.
Dengan dukungan Program Klasterku Hidupku BRI yang terus berjalan, model keberhasilan Panaba berpotensi direplikasi oleh pelaku usaha di daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Sumber: https://jambiindependent.disway.id/metronews/read/709904/dari-banyuwangi-ke-pasar-lebih-luas-petani-buah-naga-naik-kelas-berkat-program-klasterku-hidupku-bri
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.



