Beranda » Ekonomi Bisnis » BBCA Setujui Dividen Tunai Rp 41,3 Triliun dan Buyback Saham Senilai Rp 5 Triliun, Apa Kata Analis?

BBCA Setujui Dividen Tunai Rp 41,3 Triliun dan Buyback Saham Senilai Rp 5 Triliun, Apa Kata Analis?

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menghasilkan keputusan penting yang dinanti investor. Dividen tunai sebesar Rp 41,3 triliun disetujui, dengan tambahan rencana buyback senilai Rp triliun. Keduanya menjadi sinyal kuat bagi sentimen positif saham emiten perbankan terbesar Indonesia ini.

Keputusan pembagian dividen diambil berdasarkan tahun buku 2025 yang mencapai Rp 57,5 triliun. Dengan alokasi 72% dari laba tersebut, BBCA membagikan dividen sebesar Rp 336 per saham. Sebelumnya, bank yang dipimpin ini juga telah menyalurkan dividen interim sebesar Rp 55 per saham pada akhir tahun lalu.

Rencana Dividen dan Buyback Saham BBCA

Langkah strategis BBCA ini tidak hanya memberikan apresiasi langsung kepada pemegang saham, tapi juga menunjukkan konsistensi manajemen dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengembalian kepada investor. Rencana buyback senilai maksimal Rp 5 triliun dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan nilai intrinsik saham sekaligus memberikan dukungan terhadap harga pasar.

Presiden Direktur BBCA, Hendra Lembong, mengungkapkan bahwa bank berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026. Ini merupakan strategi untuk memastikan aliran kas tetap mengalir ke tangan investor secara berkala.

1. Pembagian Dividen Final dan Interim

Dividen final yang disetujui dalam RUPST sebesar Rp 41,3 triliun berasal dari laba bersih tahun 2025 sebesar Rp 57,5 triliun. Dengan rasio pembayaran dividen 72%, BBCA membagikan sekitar Rp 336 per saham. Ditambah dengan dividen interim sebesar Rp 55 per saham yang telah dibayarkan sebelumnya, total dividen yang akan diterima pemegang saham mencapai Rp 391 per saham.

2. Jadwal Dividen Interim Tahun 2026

Bank berkomitmen untuk menyalurkan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026. Pembayaran ini akan dilakukan secara bertahap untuk memberikan kepastian pendapatan kepada investor secara berkala.

Baca Juga:  Pemulihan Keuangan Debitur Korban Bencana Sumatra Capai Rp 1,29 Triliun Melalui Program Restrukturisasi

3. Rencana Buyback Saham Senilai Rp 5 Triliun

Selain dividen, BBCA juga menyetujui program dengan nilai maksimal Rp 5 triliun. Buyback ini bertujuan untuk meningkatkan nilai saham, mengurangi jumlah saham beredar, dan memberikan dukungan terhadap harga pasar.

Kinerja Keuangan BBCA dan Proyeksi 2026

BBCA menunjukkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025. Laba bersih mencapai Rp 57,5 triliun, dengan pertumbuhan kredit yang stabil dan efisiensi biaya yang terjaga. Untuk tahun 2026, bank ini menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 8% hingga 10%.

1. Target Pertumbuhan Kredit 8%–10%

Pertumbuhan kredit menjadi salah satu indikator utama kesehatan perbankan. BBCA menargetkan kenaikan kredit antara 8% hingga 10% pada tahun 2026, sejalan dengan pemulihan dan peningkatan aktivitas bisnis korporasi maupun ritel.

2. Proyeksi Net Interest Margin (NIM) 5,4%–5,6%

NIM atau selisih antara pendapatan bunga dan beban bunga terhadap total aset menggambarkan dalam mengelola . BBCA memproyeksikan NIM di kisaran 5,4% hingga 5,6%, menunjukkan bahwa bank mampu menjaga spread bunga yang menguntungkan.

3. Cost of Credit di Level 0,4%–0,5%

Cost of credit yang rendah menunjukkan bahwa risiko kredit yang diambil bank relatif aman. Dengan cost of credit di level 0,4% hingga 0,5%, BBCA menunjukkan bahwa kreditnya terjaga dengan baik.

Rekomendasi Saham BBCA dari Analis

Akhmad Nurcahyadi dari KB Valbury Sekuritas kembali mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Target harga yang ditetapkan mencapai Rp 11.080 per saham dalam jangka waktu 12 bulan ke depan.

1. Rekomendasi Beli dengan Target Harga Rp 11.080

Rekomendasi beli ini didasarkan pada fundamental kuat BBCA, termasuk kemampuan mencetak laba yang stabil, efisiensi biaya operasional, serta daya tarik dividen yang konsisten. Saham BBCA dianggap sebagai safe haven di tengah .

Baca Juga:  Penjualan Emas Pegadaian Naik 191% di Awal 2026, Ini Penyebabnya

2. Keunggulan BBCA dalam Transactional Banking

BBCA memiliki keunggulan kompetitif dalam bisnis transactional banking yang sulit ditiru. Dengan jaringan ATM terluas dan layanan digital yang terus ditingkatkan, bank ini berhasil mempertahankan loyalitas nasabah dan efisiensi .

3. Potensi Re-rating Saham di Tahun 2026

Meski sentimen pasar masih terbatas, potensi re-rating saham BBCA masih terbuka. Didukung oleh tren penurunan biaya dana, stabilitas imbal hasil kredit, serta pengelolaan risiko yang baik, BBCA diproyeksikan mampu menghasilkan kinerja laba yang solid sepanjang tahun.

Tabel Rincian Dividen dan Buyback BBCA

Komponen Nilai
Laba Bersih 2025 Rp 57,5 triliun
Dividen Final (72% dari laba) Rp 41,3 triliun
Dividen per Saham Final Rp 336
Dividen Interim (Des 2025) Rp 55 per saham
Total Dividen per Saham Rp 391
Rencana Buyback Saham Rp 5 triliun
Target Pertumbuhan Kredit 2026 8%–10%
Proyeksi NIM 2026 5,4%–5,6%
Cost of Credit 2026 0,4%–0,5%

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas pada tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya mengacu pada informasi yang tercantum, tetapi juga mempertimbangkan kondisi pasar, risiko investasi, serta kondisi keuangan pribadi.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Desa Karangbendo

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.