Momentum Ramadan dan Lebaran selalu jadi sorotan tersendiri di berbagai sektor, termasuk industri fintech. Bukan cuma soal lonjakan transaksi atau permintaan pinjaman, tapi juga tantangan pengelolaan risiko yang makin kritis. Salah satunya adalah kenaikan TWP90 atau Tingkat Waktu Pinjaman 90 hari, yang jadi indikator keterlambatan pembayaran lebih dari 90 hari. PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), salah satu platform P2P lending yang berfokus pada UMKM, punya strategi matang buat antisipasi lonjakan tersebut.
Yonathan Gautama, CEO Samir, mengungkapkan bahwa perusahaan sudah menerapkan pendekatan hati-hati sejak awal proses penyaluran pembiayaan. Mulai dari analisis kelayakan kredit hingga pemanfaatan data dan teknologi untuk menilai kemampuan bayar calon peminjam. Langkah ini bukan cuma soal mitigasi risiko, tapi juga menjaga keberlanjutan bisnis di tengah fluktuasi ekonomi menjelang hari raya.
Strategi Samir Menghadapi Lonjakan TWP90
Ramadan dan Lebaran memang kerap jadi ujian bagi sektor keuangan. Banyak orang mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk kebutuhan Idul Fitri, dari biaya mudik hingga belanja lebaran. Ini bisa berdampak pada kemampuan bayar pinjaman, terutama di 90 hari pertama setelah lebaran. Samir punya beberapa langkah antisipasi yang dirancang agar tetap bisa menjaga kesehatan portofolio.
1. Penguatan Analisis Kredit Berbasis Data
Samir tidak main-main soal proses seleksi calon peminjam. Mereka menggunakan sistem analisis berbasis data yang memungkinkan penilaian risiko secara akurat. Dengan memanfaatkan informasi historis dan perilaku keuangan pengguna, Samir bisa memprediksi potensi keterlambatan pembayaran lebih awal.
2. Pemantauan Portofolio Berkala
Setelah pinjaman disalurkan, Samir terus memantau kinerja portofolio secara berkala. Ini termasuk memantau pola pembayaran dan memberikan pengingat otomatis kepada pengguna yang mendekati jatuh tempo. Sistem ini membantu mendorong disiplin pembayaran dan mengurangi risiko kredit macet.
3. Edukasi Literasi Keuangan
Selain pendekatan teknis, Samir juga fokus pada edukasi keuangan. Mereka percaya bahwa literasi keuangan yang baik bisa mencegah keterlambatan pembayaran di awal. Melalui berbagai program edukasi, pengguna diharapkan bisa memahami pentingnya manajemen keuangan pribadi dan penggunaan layanan pinjaman secara bijak.
Faktor Musiman yang Memicu Lonjakan TWP90
Lonjakan TWP90 setelah Lebaran bukan fenomena baru. Ini adalah pola musiman yang terjadi di hampir semua perusahaan fintech. Saat Ramadan dan Lebaran tiba, pengeluaran masyarakat meningkat drastis. Banyak yang mengalokasikan dana untuk mudik, belanja, atau memenuhi kewajiban sosial. Akibatnya, arus kas bisa terganggu dan memengaruhi kemampuan bayar pinjaman.
Selain faktor musiman, tingkat literasi keuangan juga jadi variabel penting. Masyarakat dengan pemahaman keuangan yang rendah cenderung lebih sulit mengelola kewajiban pinjaman, terutama saat ada tekanan pengeluaran. Samir mencatat TWP90 sebesar 1,39% per 6 Maret 2026, angka yang masih wajar tapi tetap perlu diwaspadai mengingat tren kenaikan di industri secara umum.
Data TWP90 Fintech Lending Awal 2026
Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), TWP90 fintech lending mengalami peningkatan di awal 2026. Angka ini menjadi indikator penting bagi regulator dan pelaku industri untuk mengevaluasi kualitas portofolio dan efektivitas manajemen risiko.
| Bulan | TWP90 (%) |
|---|---|
| Januari 2025 | 2,52% |
| Desember 2025 | 4,32% |
| Januari 2026 | 4,38% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa TWP90 mengalami lonjakan cukup signifikan dari akhir 2025 ke awal 2026. Ini menunjukkan bahwa kondisi eksternal seperti momentum lebaran memang punya dampak nyata terhadap kualitas pinjaman.
Tips Masyarakat Agar Tidak Terjebak Keterlambatan Pinjaman
Menghadapi lonjakan pengeluaran saat lebaran, masyarakat perlu punya strategi keuangan yang matang. Ini bukan cuma soal menghindari pinjaman, tapi juga memastikan bahwa setiap kewajiban keuangan bisa dipenuhi tanpa mengganggu kebutuhan dasar.
1. Buat Anggaran Sebelum Ramadan
Mulailah dengan membuat anggaran bulanan sebelum Ramadan tiba. Ini membantu mengatur pengeluaran dan mencegah pemborosan. Dengan anggaran yang jelas, masyarakat bisa mengalokasikan dana untuk kebutuhan lebaran tanpa mengorbankan kewajiban lain.
2. Hindari Pinjaman Konsumtif
Pinjaman yang digunakan untuk kebutuhan konsumtif rentan membuat pengguna terjebak dalam siklus utang. Sebaiknya, gunakan pinjaman hanya untuk kebutuhan produktif yang bisa meningkatkan pendapatan atau aset.
3. Gunakan Layanan Fintech yang Terdaftar di OJK
Tidak semua platform fintech bisa dipercaya. Pastikan untuk menggunakan layanan yang terdaftar dan diawasi oleh OJK. Ini memberikan perlindungan lebih dan menjamin transparansi dalam proses pinjaman.
Peran Regulator dalam Menjaga Stabilitas Sektor Fintech
OJK terus memperketat pengawasan terhadap fintech lending, terutama dalam hal manajemen risiko dan perlindungan konsumen. Dengan adanya regulasi yang ketat, diharapkan industri bisa tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, meski menghadapi tekanan musiman seperti menjelang lebaran.
Perusahaan seperti Samir yang menerapkan prinsip kehati-hatian dan edukasi keuangan jadi contoh baik dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko. Ini penting agar tidak hanya perusahaan yang untung, tapi juga masyarakat yang menjadi pengguna layanan bisa merasakan manfaat secara nyata.
Penutup
Menghadapi lonjakan TWP90 saat lebaran memang jadi tantangan tersendiri bagi fintech. Tapi dengan strategi yang tepat, seperti yang dilakukan Samir, risiko tersebut bisa diminimalisir. Edukasi keuangan, analisis data yang akurat, dan pengawasan portofolio secara berkala adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan bisnis di tengah fluktuasi musiman.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulatif dan didasarkan pada informasi hingga Maret 2026. Angka TWP90 dan kondisi industri bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada faktor eksternal dan kebijakan regulator.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




