Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau perkembangan sektor perbankan nasional, khususnya untuk bank-bank kecil yang tergabung dalam kelompok KBMI I. Rencana penghapusan kategori ini memang sempat menimbulkan pro dan kontra. Namun, OJK menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak serta merta langsung diterapkan. Sebaliknya, bank-bank KBMI I justru didorong untuk memperkuat fundamentalnya melalui evaluasi berkala dan berbagai opsi penguatan.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Di tengah dinamika digitalisasi dan risiko global yang terus meningkat, OJK menilai bahwa bank kecil perlu diberi ruang untuk berkembang atau mengambil langkah strategis agar tetap kompetitif. Evaluasi yang dilakukan bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun industri perbankan yang lebih sehat dan tangguh.
Evaluasi Berkala untuk Bank KBMI I
Rencana penghapusan kategori KBMI I memang bukan isapan jempol. Namun, OJK tidak langsung menutup pintu bagi bank-bank kecil ini. Sejak Oktober 2025, bank-bank dalam kategori KBMI I telah diminta untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan model bisnis mereka. Tujuannya jelas: agar bank-bank tersebut bisa bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Evaluasi ini mencakup berbagai aspek penting seperti struktur permodalan, kualitas aset, tata kelola perusahaan, hingga prospek jangka panjang. OJK tidak ingin bank-bank ini hanya bertahan hidup, tapi juga bisa tumbuh secara berkelanjutan. Dengan begitu, penghapusan kategori KBMI I bisa menjadi momentum transformasi, bukan sekadar penghapusan.
1. Tahapan Evaluasi yang Dilakukan OJK
-
Penilaian Kondisi Permodalan
Bank harus menunjukkan posisi modal yang sehat dan memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan regulator. -
Analisis Kualitas Aset
Aset yang dimiliki harus produktif dan tidak macet. Ini penting untuk menjaga likuiditas dan kepercayaan nasabah. -
Evaluasi Tata Kelola dan Manajemen Risiko
OJK memastikan bank memiliki sistem pengawasan internal yang kuat untuk menghindari risiko kepatuhan dan operasional. -
Kajian Model Bisnis dan Prospek Jangka Panjang
Bank harus menunjukkan bahwa model bisnisnya relevan dan mampu bertahan di tengah perubahan teknologi dan ekonomi.
2. Opsi Penguatan yang Ditawarkan
-
Konsolidasi atau Merger
Bank bisa memilih untuk bergabung dengan bank lain guna memperbesar skala usaha dan meningkatkan efisiensi operasional. -
Penguatan Modal Internal
Menambah modal inti melalui laba ditahan atau penawaran saham baru kepada investor strategis. -
Transformasi Digital
Mengadopsi teknologi untuk meningkatkan layanan dan efisiensi operasional, terutama dalam pelayanan nasabah dan manajemen risiko. -
Diversifikasi Produk dan Layanan
Mengembangkan produk baru yang sesuai dengan kebutuhan nasabah dan tren pasar saat ini.
3. Pendekatan yang Prudent dan Sukarela
OJK menekankan bahwa semua langkah penguatan ini dilakukan secara sukarela dan tidak dipaksakan. Bank diberi keleluasaan untuk memilih opsi yang paling sesuai dengan kondisi dan strategi bisnis mereka. Namun, setiap rencana penguatan akan dinilai secara menyeluruh oleh regulator. Penilaian dilakukan case by case agar tidak merugikan nasabah dan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Pendekatan ini juga dimaksudkan agar bank tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. OJK ingin semua langkah yang diambil benar-benar matang dan berbasis pertimbangan bisnis yang sehat. Tidak ada tekanan untuk segera mengambil langkah dramatis, tapi bank diharapkan proaktif dalam memperkuat diri.
4. Forum Diskusi untuk Menyusun Roadmap
Pada Desember 2025, OJK menggelar Forum Grup Diskusi (FGD) bersama bank-bank KBMI I. Tujuan utamanya adalah untuk menyusun roadmap penguatan jangka panjang. Dalam forum ini, berbagai masukan dari pelaku industri dikumpulkan untuk memastikan kebijakan yang diambil relevan dan aplikatif.
Diskusi ini juga menjadi wadah bagi bank untuk saling berbagi pengalaman dan strategi. OJK berperan sebagai fasilitator, bukan hanya pengawas. Dengan begitu, hubungan regulator dan industri menjadi lebih kolaboratif dan saling mendukung.
5. Perlindungan Nasabah Tetap Jadi Prioritas
Meski fokusnya pada penguatan bank, OJK tetap menjaga perlindungan nasabah sebagai prioritas utama. Setiap langkah yang diambil harus memastikan bahwa kepentingan nasabah tidak terganggu. Ini termasuk dalam hal likuiditas, keamanan dana, dan kualitas layanan.
Bank yang tidak mampu memenuhi standar perlindungan nasabah akan mendapat perhatian khusus dari OJK. Regulator siap memberikan bimbingan teknis atau bahkan mengambil langkah pengawasan yang lebih intensif jika diperlukan.
6. Evaluasi Terus Dilakukan Secara Berkala
Proses evaluasi terhadap bank KBMI I tidak dilakukan sekali saja. OJK melakukan penilaian secara berkala untuk memastikan bahwa bank-bank ini terus berkembang dan memenuhi standar yang ditetapkan. Evaluasi ini juga menjadi dasar bagi keputusan apakah kategori KBMI I akan tetap dipertahankan atau benar-benar dihapus.
Hasil evaluasi akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan ke depan. OJK tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan besar yang bisa berdampak luas terhadap industri perbankan.
Data Perbandingan Bank KBMI I dan Bank Lainnya
| Kriteria | Bank KBMI I | Bank KBMI II | Bank KBMI III |
|---|---|---|---|
| Modal Inti Minimum | Rp 1 triliun | Rp 500 miliar | Rp 100 miliar |
| Fokus Pengawasan | Tinggi | Sedang | Rendah |
| Kewajiban Pelaporan | Rutin & Detail | Bulanan | Triwulanan |
| Opsi Penguatan | Konsolidasi atau transformasi | Penambahan modal | Pengembangan produk |
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kebijakan OJK. Evaluasi dan langkah penguatan yang dilakukan bersifat dinamis dan disesuaikan dengan kondisi industri perbankan nasional.
Rencana penghapusan kategori KBMI I bukan berarti penutupan jalan bagi bank-bank kecil. Justru, ini adalah kesempatan untuk memperkuat diri dan beradaptasi dengan perubahan zaman. OJK tetap berkomitmen untuk mendampingi bank-bank ini dalam perjalanan transformasinya.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




