Beranda » Ekonomi Bisnis » Kerugian Bakrie Group dari Emiten VKTR Mencapai Rp11,37 Miliar di Tahun 2025 Ini Dibandingkan dengan Tahun Sebelumnya

Kerugian Bakrie Group dari Emiten VKTR Mencapai Rp11,37 Miliar di Tahun 2025 Ini Dibandingkan dengan Tahun Sebelumnya

Emiten kendaraan milik Bakrie Group, PT Teknologi Mobilitas Tbk, mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp11,37 miliar pada tahun buku 2025. Angka ini merupakan perputaran arah yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, ketika emiten ini masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,56 miliar.

Kinerja keuangan VKTR sepanjang 2025 menunjukkan peningkatan dalam segmen pendapatan, namun tidak diimbangi dengan kenaikan laba bersih. Meskipun penjualan bersih naik hingga Rp1,089 triliun atau naik 8,57 persen dari tahun sebelumnya, beban operasional dan biaya lainnya justru meningkat lebih tinggi, menyebabkan tekanan pada laba bersih konsolidasian yang hanya mencapai Rp423 juta—turun hampir 97 persen secara tahunan.

Kinerja Keuangan VKTR di Tahun 2025

1. Pendapatan Naik, Namun Laba Bersih Anjlok

Penjualan bersih VKTR mencatatkan kenaikan sebesar 8,57 persen menjadi Rp1,089 triliun dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatatkan Rp1 triliun. Peningkatan ini menunjukkan adanya pertumbuhan permintaan terhadap produk-produk kendaraan listrik yang dihasilkan oleh emiten ini.

Namun, di balik pertumbuhan pendapatan tersebut, laba bersih VKTR justru mengalami penurunan yang sangat tajam. Laba bersih konsolidasian hanya mencapai Rp423 juta, turun 96,56 persen dari angka Rp12,29 miliar yang dicatatkan pada tahun 2024.

2. Beban Pokok Penjualan Meningkat

Beban pokok penjualan juga ikut naik seiring dengan peningkatan penjualan. Dari Rp825,51 miliar pada tahun 2024, angka ini meningkat menjadi Rp892,62 miliar pada tahun 2025 atau naik sebesar 8,12 persen.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa semakin banyak unit yang diproduksi, semakin besar pula biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Meskipun laba kotor (laba bruto) meningkat sebesar 10,36 persen menjadi Rp196,61 miliar, laba bersih justru tergerus oleh beban lainnya.

3. Laba Bruto Meningkat, Namun Tidak Mampu Menahan Kerugian

Laba bruto VKTR mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 10,36 persen menjadi Rp196,61 miliar dibandingkan Rp178,14 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, kenaikan ini tidak cukup untuk menahan beban operasional dan biaya lainnya yang lebih tinggi.

Baca Juga:  OJK Resmi Berikan Izin Usaha Baru bagi 1 Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi di 2026

Akibatnya, laba bersih yang seharusnya menjadi indikator finansial perusahaan justru mengalami penurunan yang sangat drastis, hingga menyentuh kerugian bersih sebesar Rp11,37 miliar.

Neraca dan Struktur Modal VKTR

1. Total Aset Naik 11,8 Persen

Total aset VKTR pada akhir tahun 2025 mencapai Rp1,79 triliun, naik 11,8 persen dari angka Rp1,6 triliun pada akhir 2024. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perusahaan masih melakukan dalam asetnya, baik berupa pabrikasi, teknologi, maupun aset tetap lainnya.

2. Liabilitas Meningkat Lebih Cepat

Liabilitas VKTR juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi, yaitu 22,17 persen menjadi Rp553,02 miliar dari sebelumnya Rp452,6 miliar. Kenaikan ini bisa disebabkan oleh peningkatan utang atau kewajiban jangka pendek lainnya.

3. Ekuitas Naik 7,83 Persen

Meskipun mengalami kerugian, ekuitas VKTR tetap naik sebesar 7,83 persen menjadi Rp1,24 triliun dibandingkan Rp1,15 triliun pada akhir 2024. Ini menunjukkan bahwa modal disetor dan laba ditahan masih mampu menopang struktur modal perusahaan meski laba bersihnya negatif.

Pergerakan Saham VKTR di Awal 2026

1. Saham Dibuka di Level Rp900

Pada awal tahun 2026, saham VKTR dibuka di level Rp900 per saham. Meskipun kinerja sedang tidak menunjukkan tren positif, investor tampaknya masih tertarik untuk membeli saham emiten ini.

2. Naik Menjadi Rp935 per Saham

Seiring berjalannya perdagangan, saham VKTR naik sebesar 35 poin menjadi Rp935 per saham. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar masih memberikan apresiasi terhadap potensi jangka panjang VKTR sebagai salah satu pemain EV lokal.

Faktor-Faktor Penyebab Kerugian VKTR

1. Peningkatan Biaya Operasional

Salah satu faktor utama kerugian VKTR adalah peningkatan biaya operasional yang tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan. Meskipun penjualan naik, biaya produksi dan operasional juga meningkat lebih tinggi.

Baca Juga:  Panin Bank serta Dana Pensiun Selesaikan Penjualan Seluruh Kepemilikan Saham di 2026

2. Tekanan dari Persaingan Pasar

Industri EV di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Banyak pemain baru yang masuk ke pasar, termasuk produsen lokal maupun internasional. Hal ini membuat VKTR harus bersaing dalam harga, inovasi, dan pemasaran.

3. Investasi Teknologi dan Infrastruktur

Perusahaan juga terus melakukan investasi besar dalam teknologi dan produksi kendaraan listrik. Meskipun investasi ini penting untuk , dampaknya terhadap laba jangka pendek bisa menjadi beban.

Perbandingan Kinerja VKTR Tahun 2024 dan 2025

Indikator 2024 2025 Perubahan (%)
Penjualan Bersih Rp1 triliun Rp1,089 triliun +8,57%
Beban Pokok Penjualan Rp825,51 miliar Rp892,62 miliar +8,12%
Laba Bruto Rp178,14 miliar Rp196,61 miliar +10,36%
Laba Bersih Rp12,29 miliar Rp423 juta -96,56%
Total Aset Rp1,6 triliun Rp1,79 triliun +11,8%
Liabilitas Rp452,6 miliar Rp553,02 miliar +22,17%
Ekuitas Rp1,15 triliun Rp1,24 triliun +7,83%

Proyeksi Ke Depan

Meskipun mengalami kerugian di tahun 2025, VKTR masih memiliki potensi untuk pulih dan tumbuh di tahun-tahun mendatang. Dengan terus mengembangkan produk, memperluas jaringan distribusi, dan meningkatkan efisiensi biaya, emiten ini bisa kembali menghasilkan laba yang positif.

Investor juga perlu memperhatikan perkembangan kebijakan pemerintah terkait insentif untuk kendaraan listrik serta pertumbuhan pasar EV secara global yang terus meningkat.

Disclaimer

Data keuangan yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan tahunan VKTR dan informasi pasar yang tersedia hingga . Angka-angka tersebut dapat berubah seiring dengan pelaporan keuangan dan kondisi pasar yang dinamis.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Karangbendo

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.