Beranda » Ekonomi Bisnis » RUPST BCA Setujui Dividen Tunai dan Buyback Saham Senilai Rp5 Triliun

RUPST BCA Setujui Dividen Tunai dan Buyback Saham Senilai Rp5 Triliun

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) () telah resmi digelar, dan sejumlah keputusan penting pun disetujui. Salah satunya adalah persetujuan pembagian sebesar Rp336 per saham, dengan total nilai mencapai Rp41,4 triliun dari laba bersih tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp57, triliun. Angka ini menunjukkan komitmen BCA dalam memberikan return kepada pemegang saham meski di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya pulih.

Tidak hanya itu, pemegang saham juga menyetujui rencana buyback atau senilai maksimal Rp5 triliun. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan nilai perusahaan sekaligus memberikan sinyal positif bagi investor. Selain itu, RUPST juga memutuskan untuk kembali mempercayakan Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan – anggota jaringan global PwC – untuk mengaudit laporan keuangan tahun buku 2026.

Keputusan Penting dalam RUPST BCA 2026

1. Pembagian Dividen Tunai dan Interim

Dividen tunai yang disetujui sebesar Rp336 per saham merupakan bagian dari laba bersih BCA sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, Rp55 per saham telah dibayarkan sebagai dividen interim pada Desember 2025 lalu. Artinya, sisa pembayaran sebesar Rp281 per saham akan cair di waktu yang akan ditentukan oleh direksi.

Direksi juga menyampaikan bahwa BCA berpotensi membagikan dividen interim hingga tiga kali dalam satu tahun buku, dengan pembayaran dilakukan secara kuartalan. Ini menunjukkan bahwa manajemen BCA optimis pada kondisi keuangan yang stabil dan berkelanjutan.

2. Rencana Buyback Saham Senilai Rp5 Triliun

Selain dividen, agenda juga mendapat lampu hijau dari pemegang saham. Buyback ini akan dilakukan dengan nilai maksimal Rp5 triliun dan bertujuan untuk meningkatkan nilai intrinsik saham serta memberikan keuntungan langsung bagi pemegang saham yang masih bertahan.

Baca Juga:  Emas Antam Alami Kenaikan Harga Sebesar Rp6.000, Kini Mencapai Rp3,045 Juta per Gram

Langkah ini juga bisa menjadi indikator bahwa BCA memiliki likuiditas yang cukup kuat dan percaya diri terhadap kinerja keuangan jangka panjangnya.

3. Pengangkatan Ulang Jajaran Direksi dan Dewan Komisaris

RUPST juga menyetujui pengangkatan kembali jajaran direksi dan dewan komisaris untuk periode hingga 2029. Struktur dewan komisaris terdiri dari Jahja Setiaatmadja sebagai Presiden Komisaris, Tonny Kusnadi sebagai Komisaris, serta dua komisaris independen, Raden Pardede dan Sumantri Slamet.

Di sisi direksi, Hendra Lembong tetap menjabat sebagai Presiden Direktur, dengan Wakil Presiden Direktur Armand Wahyudi Hartono dan John Kosasih. Ada pula sejumlah direktur lainnya yang tetap dipercaya untuk menjalankan roda bisnis BCA.

4. Pengangkatan Direktur Teknologi Informasi Baru

David Formula resmi diangkat sebagai Direktur setelah lulus uji kemampuan dan kepatutan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengangkatan ini menunjukkan bahwa BCA terus memperkuat kapabilitas digital dan teknologi sebagai bagian dari transformasi bank modern.

5. Penghargaan untuk Mantan Anggota Dewan dan Direksi

BCA juga menyampaikan penghargaan kepada dua mantan anggota dewan dan direksi, yaitu Cyrillus Harinowo yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Independen, serta Rudy Susanto yang pernah menjabat sebagai Direktur BCA. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi mereka selama masa jabatan.

Dampak RUPST BCA terhadap Investor dan Pasar Saham

1. Penguatan Harga Saham

Keputusan RUPST yang mengizinkan pembagian dividen dan buyback saham secara langsung memberikan dampak positif terhadap harga saham BBCA. Investor cenderung melihat langkah ini sebagai sinyal kuat akan kesehatan finansial BCA dan komitmen manajemen dalam memberikan nilai tambah.

2. Daya Tarik Investasi Saham BBCA

Bagi investor jangka panjang, keputusan ini memperkuat daya tarik BBCA sebagai instrumen investasi yang memberikan return konsisten. Dengan laba bersih yang terus tumbuh dan pembagian dividen yang konservatif namun konsisten, BBCA tetap menjadi salah satu saham blue-chip yang patut diperhitungkan.

Baca Juga:  Dana Pihak Ketiga Tembus Rp 9.489 Triliun, Catatkan Pertumbuhan 10,8% di Awal 2026

3. Stabilitas Tatanan Korporasi

Pengangkatan kembali jajaran direksi dan komisaris menunjukkan bahwa BCA menjaga kontinuitas kepemimpinan. Ini penting untuk menjaga konsistensi strategi dan kebijakan operasional, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kinerja Keuangan BCA di Tahun 2025

BCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun di tahun 2025, naik dibandingkan periode sebelumnya. Angka ini mencerminkan kinerja operasional yang solid, terutama di tengah tantangan ekonomi global seperti kenaikan suku bunga dan volatilitas pasar.

juga mencatatkan rekor baru di angka Rp414 triliun, menunjukkan bahwa bank ini tetap menjadi pilihan utama perusahaan-perusahaan besar dalam mengelola likuiditas mereka.

Penutup

RUPST BCA 2026 menjadi cerminan komitmen kuat terhadap pemegang saham dan kinerja berkelanjutan. Dengan pembagian dividen yang menarik, rencana buyback, serta penguatan tatanan korporasi, BCA menunjukkan bahwa bank ini tetap menjadi andalan investor di Indonesia.

Disclaimer: Data dan keputusan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat valid berdasarkan informasi hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan perusahaan dan regulasi yang berlaku.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Desa Karangbendo

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.