Beranda » Ekonomi Bisnis » Modus Penipuan Online Target Nasabah Bank Makin Canggih, BWS Pesan Penting untuk Masyarakat 2026

Modus Penipuan Online Target Nasabah Bank Makin Canggih, BWS Pesan Penting untuk Masyarakat 2026

Akses layanan perbankan kini semakin praktis berkat transformasi . Tapi di balik kemudahan itu, ancaman penipuan online juga makin canggih dan sulit ditebak. Banyak modus baru bermunculan yang bikin korban kehilangan dalam hitungan menit.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sejak berdirinya Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) pada November 2024 hingga Januari 2026, total pengaduan mencapai 432.637 kasus. Total kerugian yang dilaporkan tembus ke Rp 9,1 triliun. Meski begitu, ada kabar baik—sebanyak Rp 436,88 miliar berhasil diblokir sebelum sampai ke tangan pelaku.

Modus Penipuan Online yang Paling Sering Dipakai

Penipuan online terus berinovasi, tapi beberapa modus masih jadi pelaku. Yang paling umum adalah menyamar sebagai contact center atau yang dikenal dengan . Mereka pura-pura dari bank dan bilang ada transaksi mencurigakan, lalu meminta data sensitif seperti PIN, CVV, kode OTP, hingga password.

Selain itu, teknik spoofing atau fake caller ID juga kerap digunakan. Nomor telepon pelaku dibuat mirip dengan nomor resmi bank, sehingga korban percaya dan memberikan informasi pribadi. Ada juga phishing, di mana pelaku mengirim yang tampak seperti situs resmi bank untuk mencuri data login.

Penipuan lewat media sosial juga masih marak. Pelaku bikin akun palsu yang mirip dengan akun resmi bank, atau menampilkan call center palsu di hasil pencarian Google. Ini bikin banyak orang salah sasaran dan akhirnya terjebak.

Baca Juga:  Strategi OJK Optimalkan 5 Peran Aktuaria Demi Memperkuat Underwriting Penjaminan 2026

Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Hindari Penipuan

  1. Verifikasi informasi melalui kanal resmi bank
    Jangan langsung percaya pada telepon atau pesan yang mengaku dari bank. Selalu cek kebenaran informasi melalui aplikasi resmi, website, atau langsung datangi cabang bank.

  2. Jangan pernah memberikan
    Bank tidak akan pernah meminta PIN, password, atau kode OTP dalam kondisi apa pun. Jika ada yang mengaku dari bank dan meminta data ini, langsung curiga.

  3. Gunakan keamanan tambahan
    Aktifkan notifikasi transaksi, verifikasi dua faktor (2FA), dan pastikan perangkat yang digunakan dalam kondisi aman dari malware.

  4. Edukasi diri soal literasi digital
    Semakin paham soal cara penipuan online, semakin kecil risiko terjebak. Ikuti seminar keamanan siber atau baca informasi dari sumber terpercaya.

  5. Laporkan jika merasa tertipu
    Jika merasa menjadi korban penipuan, segera laporkan ke pihak berwajib atau ke IASC melalui kanal resmi. Semakin cepat, semakin besar kemungkinan dana bisa diselamatkan.

Perbandingan Modus Penipuan dan Cara Menghindarinya

Modus Penipuan Cara Kerja Cara Menghindari
Impersonation Scam Menyamar sebagai bank dan meminta data rahasia Verifikasi melalui kanal resmi bank
Phishing Mengirim link palsu untuk mencuri data Jangan klik link mencurigakan, cek URL
Spoofing (Fake Caller ID) Nomor telepon dipalsukan agar terlihat resmi Hubungi bank langsung lewat nomor resmi
Iklan dan Akun Palsu di Media Sosial Membuat akun palsu untuk menipu pengguna Cek keaslian akun dan hindari promosi mencurigakan
Baca Juga:  Cara Mengelola 8 Program Bansos Stimulus Ekonomi dengan Anggaran Rp26,34 Triliun 2026

Peran Bank dan Literasi Digital

Bank seperti PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk terus mengimbau nasabah untuk waspada. Mereka juga menegaskan bahwa tidak akan pernah meminta data sensitif apa pun. Tapi selain itu, peran literasi digital juga sangat penting.

Menurut Aditya Prayoga, Analis Phintraco , edukasi nasabah harus terus digencarkan. Karena tanpa literasi yang baik, sistem keamanan internal bank pun bisa saja ditembus oleh pelaku kejahatan siber.

Disclaimer

Data dan angka yang disebutkan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi OJK dan IASC per Januari 2026. Angka bisa berubah seiring waktu dan kondisi yang berlaku. Selalu pastikan informasi terbaru melalui sumber resmi.

Modus penipuan terus berkembang, tapi dengan kewaspadaan dan pengetahuan yang cukup, risiko menjadi korban bisa diminimalkan. Jangan sampai kehilangan uang gara-gara terlalu percaya pada informasi yang belum diverifikasi.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Desa Karangbendo

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.