Permintaan pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) dari perusahaan pembiayaan terus menunjukkan tren positif menuju 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan, seiring dengan meningkatnya minat kalangan usia produktif serta masyarakat yang belum terlayani oleh sistem keuangan formal.
Peningkatan ini juga didukung oleh perkembangan ekosistem digital yang semakin luas. Semakin banyaknya platform e-commerce dan layanan digital lainnya membuat akses ke layanan pembiayaan menjadi lebih mudah dan fleksibel. Salah satu penyedia layanan, PT Akulaku Finance Indonesia, mencatat pertumbuhan pembiayaan bisnis paylater hingga dua digit di akhir 2025.
Proyeksi OJK untuk Pembiayaan Paylater
OJK memperkirakan pertumbuhan positif pembiayaan BNPL akan berlanjut hingga 2026. Proyeksi ini tidak muncul begitu saja, tetapi didasari oleh beberapa faktor penting yang mendorong permintaan dan penerimaan layanan ini di tengah masyarakat.
1. Permintaan dari Segmen Usia Produktif
Salah satu faktor utama adalah tingginya permintaan dari kelompok usia produktif. Mereka yang berada di usia antara 20 hingga 40 tahun cenderung lebih terbuka terhadap inovasi keuangan digital. Kebutuhan untuk konsumsi maupun aktivitas produktif seperti modal usaha kecil menjadi pendorong utama penggunaan layanan paylater.
2. Akses Keuangan yang Masih Terbatas
Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal. BNPL menjadi alternatif yang menarik karena prosesnya yang cepat dan syarat yang relatif ringan. Ini menjadikan layanan ini sebagai jembatan inklusi keuangan yang efektif.
3. Perkembangan Ekosistem Digital
Ekosistem digital yang terus berkembang mempermudah integrasi layanan paylater ke dalam berbagai platform. Mulai dari belanja online hingga layanan transportasi, paylater menjadi bagian dari pengalaman konsumen yang seamless.
Data Pertumbuhan dan Performa Paylater
Data dari OJK mencatat bahwa penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp 12,18 triliun per Januari 2026. Angka ini naik 71,13% secara tahunan (Year on Year), menunjukkan pertumbuhan yang sangat dinamis.
Selain itu, Non Performing Financing (NPF) gross BNPL tetap terjaga di level 2,77% per Januari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun volume pembiayaan meningkat, kualitas portofolio tetap terjaga. Ini menjadi indikator bahwa penyelenggara semakin selektif dalam proses seleksi nasabah dan pengelolaan risiko.
Tabel: Data Pertumbuhan Paylater Perusahaan Pembiayaan
| Parameter | Nilai (Januari 2026) | Keterangan |
|---|---|---|
| Penyaluran Pembiayaan BNPL | Rp 12,18 triliun | ↑ 71,13% YoY |
| NPF Gross BNPL | 2,77% | Terjaga di level rendah |
| Pertumbuhan Bisnis Paylater Akulaku | Dua digit | Akhir 2025 |
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun prospeknya cerah, tidak semua berjalan mulus. Ada beberapa tantangan utama yang bisa memengaruhi kinerja paylater di tahun 2026.
1. Kondisi Makroekonomi yang Dinamis
Inflasi, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan besar. Hal ini bisa memengaruhi daya beli masyarakat dan risiko kredit secara keseluruhan.
2. Pengelolaan Risiko yang Ketat
Dengan meningkatnya volume pembiayaan, pengelolaan risiko harus semakin ketat. Penyelenggara perlu terus meningkatkan sistem credit scoring dan monitoring pembayaran agar tetap menjaga kualitas portofolio.
3. Persaingan di Industri
Semakin banyaknya pelaku industri membuat persaingan semakin ketat. Perusahaan harus terus berinovasi dan menawarkan layanan yang lebih baik untuk menarik dan mempertahankan pelanggan.
Strategi yang Diambil oleh Penyelenggara
Menghadapi tantangan tersebut, penyelenggara seperti Akulaku Finance Indonesia mengambil pendekatan yang lebih selektif dan bertanggung jawab. Perry Barman Slangor, Presiden Direktur Akulaku Finance, menyatakan bahwa fokus utama adalah pada pertumbuhan yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan perlindungan konsumen.
1. Penguatan Manajemen Risiko
Strategi ini mencakup penerapan sistem analisis kredit yang lebih canggih dan pemantauan pembayaran secara real time. Tujuannya agar risiko macet bisa diminimalkan tanpa menghambat pertumbuhan bisnis.
2. Peningkatan Tata Kelola
Tata kelola yang baik menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik dan regulator. Ini mencakup transparansi dalam proses pembiayaan serta perlindungan data konsumen.
3. Perlindungan Konsumen
Penyelenggara juga fokus pada edukasi dan perlindungan konsumen. Ini penting agar pengguna layanan tidak terjebak pada utang yang berlebihan atau terkena praktik yang tidak fair.
Kesimpulan
Pembiayaan paylater dari perusahaan pembiayaan memiliki prospek yang cerah menuju 2026. Didukung oleh permintaan masyarakat yang tinggi dan perkembangan teknologi digital, layanan ini menjadi bagian penting dari ekosistem keuangan modern. Namun, tantangan seperti risiko kredit dan persaingan industri tetap harus diwaspadai.
Dengan strategi yang tepat dan pengelolaan risiko yang ketat, paylater bisa terus tumbuh secara berkelanjutan dan menjadi alat inklusi keuangan yang efektif.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Januari 2026. Nilai dan kondisi dapat berubah tergantung pada dinamika ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.




