Dalam satu tahun terakhir, PT Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pencapaian penting dalam pengembangan bisnis emas. Total kelolaan emas di BSI kini mencapai 22,5 ton. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan sejak layanan bullion bank diluncurkan pada Februari 2025.
Peningkatan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan emas syariah yang ditawarkan BSI. Sebagai salah satu bank pelaksana program bullion nasional, BSI turut memperkuat ekosistem emas di Tanah Air. Layanan ini tidak hanya menjadi instrumen investasi, tetapi juga bagian dari ekonomi produktif yang inklusif.
Perjalanan BSI dalam Mengembangkan Bisnis Emas
Layanan bullion bank di Indonesia resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Pada saat itu, izin usaha bullion diberikan kepada BSI dan Pegadaian oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sejak saat itu, BSI mulai membangun ekosistem emas yang terintegrasi.
1. Peluncuran Layanan Bullion Bank
BSI menjadi salah satu dari sedikit bank yang mendapat izin untuk menjalankan layanan bullion. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat pengelolaan emas nasional. Dengan layanan ini, masyarakat bisa menyimpan, membeli, dan menjual emas secara digital dan sesuai prinsip syariah.
2. Peningkatan Kelolaan Emas
Dalam waktu satu tahun, kelolaan emas BSI mencapai 22,5 ton. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai lebih tertarik dengan investasi emas yang aman dan transparan. Seluruh transaksi emas di BSI juga didukung oleh emas fisik yang disimpan di vault perusahaan.
3. Pertumbuhan Nasabah Baru
Bullion bank juga menjadi sumber pertumbuhan nasabah baru yang cukup tinggi. Jumlah nasabah layanan ini meningkat lebih dari 400%. BSI mencatat lebih dari 23 juta nasabah per 2025, dengan pertumbuhan tertinggi sejak merger bank syariah pada 2021.
Peran Emas dalam Ekonomi Syariah
BSI tidak hanya melihat emas sebagai instrumen investasi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem keuangan yang produktif. Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyebut bahwa emas bisa menjadi lindung nilai sekaligus alat perencanaan keuangan jangka panjang.
1. Emas sebagai Instrumen Inklusif
Layanan bullion bank dirancang untuk semua kalangan. Dengan akses digital dan nilai minimum investasi yang rendah, emas kini lebih mudah dimiliki. Bahkan, komposisi nasabah Gen Z naik dari 24% menjadi 32% dalam satu tahun terakhir.
2. Kesesuaian dengan Prinsip Syariah
Seluruh transaksi emas di BSI dilakukan sesuai prinsip syariah. Artinya, tidak ada jual beli barang yang belum dimiliki. Setiap transaksi emas didukung oleh emas fisik yang tersedia di vault BSI. Ini memberikan rasa aman dan kepercayaan lebih bagi nasabah.
Dukungan Pemerintah dan Regulator
Pemerintah dan OJK terus memberikan dukungan terhadap pengembangan industri bullion bank. Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartanto, menyebut bahwa emas adalah instrumen investasi yang aman di segala kondisi. Ia juga mendorong pengembangan ekosistem bullion sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
1. Kolaborasi dengan Regulator
BSI terus menjalin kolaborasi dengan OJK dan pemerintah dalam membangun ekosistem emas yang berkelanjutan. OJK juga menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan industri bullion agar bisa memberikan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
2. Literasi Investasi Emas
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, BSI meluncurkan kampanye literasi investasi bertajuk "Langkah Emas Generasi E.M.A.S." Tujuannya agar masyarakat lebih paham manfaat dan cara investasi emas yang benar.
Kinerja Keuangan BSI yang Solid
Pertumbuhan bisnis emas turut mendorong kinerja keuangan BSI secara keseluruhan. Per Desember 2025, total aset BSI mencapai Rp456 triliun, naik 11,64% secara tahunan. Pembiayaan tumbuh 14,49% YoY dengan kualitas tetap terjaga. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 16,20% menjadi Rp380 triliun.
1. Fee Based Income dari Bisnis Emas
Bisnis bullion bank memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan fee based BSI. Ini menunjukkan bahwa layanan emas tidak hanya menarik minat nasabah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi bank.
2. Fokus pada Produktivitas Emas
BSI terus mengembangkan layanan emas agar lebih produktif. Misalnya, emas bisa digunakan sebagai bagian dari perencanaan keuangan untuk ibadah haji, kepemilikan rumah, atau tujuan finansial lainnya.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Dengan momentum satu tahun perjalanan, BSI optimistis bisnis bullion bank akan terus tumbuh. Apalagi, minat masyarakat terhadap investasi emas semakin tinggi di tengah dinamika ekonomi global.
1. Inovasi Layanan Bullion
BSI berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan bullion bank. Termasuk memperluas fitur digital, meningkatkan keamanan transaksi, dan mempercepat proses pencairan.
2. Memperkuat Posisi di Ekonomi Syariah Global
Dengan pengembangan ekosistem emas yang berkelanjutan, BSI berharap bisa memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi syariah global. Terutama dalam pengembangan industri emas yang berbasis prinsip syariah.
Data Kinerja BSI Tahun 2025
Berikut adalah rincian kinerja keuangan BSI per Desember 2025:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Total Aset | Rp456 triliun |
| Pertumbuhan Aset (YoY) | 11,64% |
| Pembiayaan | Tumbuh 14,49% YoY |
| Cost of Financing (CoC) | 0,84% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | Rp380 triliun |
| Pertumbuhan DPK (YoY) | 16,20% |
Disclaimer: Data di atas bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi BSI.
BSI terus berupaya menjadikan emas sebagai bagian dari sistem keuangan yang inklusif dan produktif. Dengan dukungan teknologi dan prinsip syariah, layanan bullion bank kini bukan hanya pilihan investasi, tetapi juga alat perencanaan masa depan yang aman dan terpercaya.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




