PermataBank (BNLI) tengah menjalani fase krusial dalam perjalanannya di industri perbankan nasional. Langkah-langkah strategis terus disusun agar bisa naik kelas ke Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV. Namun, bank yang kini masih berada di KBMI III ini tidak terburu-buru. Fokus utamanya tetap pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan sehat, bukan sekadar memenuhi target regulator.
Langkah ini diambil karena naik kelas ke KBMI IV bukan perkara yang bisa dipaksakan. Butuh fondasi kuat, terutama dari sisi permodalan dan kinerja operasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri punya target ambisius, yakni menaikkan jumlah bank di KBMI IV hingga mencapai 10 bank pada 2027. Sebuah gerakan strategis untuk memperkuat sistem perbankan nasional.
Modal Inti Jadi Kunci Naik Kelas ke KBMI IV
KBMI IV merupakan kategori bank dengan modal inti di atas Rp 70 triliun. Angka ini menjadi ambang batas penting yang harus dipenuhi agar bisa naik kelas. PermataBank saat ini berada di posisi yang cukup strategis, dengan modal inti mencapai Rp 54,63 triliun di akhir tahun lalu. Angka itu naik dari Rp 50,99 triliun di tahun sebelumnya.
1. Modal Inti PermataBank Terus Meningkat
Peningkatan modal inti ini menunjukkan bahwa bank tidak berhenti memperkuat struktur permodalannya. Meski belum mencapai ambang batas KBMI IV, pertumbuhan yang konsisten adalah langkah yang lebih realistis dan berkelanjutan.
2. Fokus pada Pertumbuhan Berkelanjutan
Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah PermataBank, menegaskan bahwa bank tidak mengejar kenaikan kelas secara agresif. Yang lebih penting adalah menjaga kesehatan bisnis secara keseluruhan. Dengan begitu, pertumbuhan modal bisa terjadi secara alami.
3. Laba Bersih Naik Tipis, Tapi Stabil
Di akhir tahun lalu, laba bersih PermataBank mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,59% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 3,59 triliun. Meski tidak spektakuler, angka ini menunjukkan bahwa bank tetap bisa menjaga profitabilitasnya di tengah tekanan makroekonomi.
Kinerja Keuangan PermataBank di Tahun Lalu
Kinerja keuangan PermataBank di tahun lalu menunjukkan tren yang cukup stabil. Meski ada beberapa tekanan dari sisi pendapatan bunga, bank tetap bisa menjaga keseimbangan melalui pengelolaan biaya dan struktur pendanaan yang lebih efisien.
1. Pendapatan Bunga Bersih Terkoreksi
Pendapatan bunga bersih (NII) bank turun 1,97% yoy menjadi Rp 10,02 triliun. Penyebabnya adalah turunnya pendapatan bunga sebesar 1,04% yoy menjadi Rp 17,03 triliun, sementara beban bunga naik tipis 0,33% yoy menjadi Rp 7,01 triliun.
2. Beban Impairment Naik
Beban impairment bank naik dari Rp 1,53 triliun menjadi Rp 1,79 triliun. Lonjakan ini turut memengaruhi laba operasional yang hanya tumbuh 0,57% yoy menjadi Rp 4,62 triliun. Namun, hal ini tidak mengganggu kinerja secara keseluruhan karena tetap dalam batas wajar.
3. Intermediasi Masih Menopang Pertumbuhan
Total pembiayaan yang disalurkan bank tumbuh 5,46% yoy menjadi Rp 163,33 triliun. Angka ini cukup positif dan menunjukkan bahwa PermataBank masih aktif menyalurkan kredit, terutama di sektor produktif.
Struktur Pendanaan yang Semakin Sehat
Salah satu poin kuat PermataBank di tahun lalu adalah struktur pendanaannya yang semakin sehat. Bank berhasil meningkatkan proporsi dana murah, seperti giro dan tabungan, sementara mengurangi ketergantungan pada dana mahal seperti deposito.
1. Giro Naik 20,26% YoY
Giro yang merupakan salah satu sumber dana murah bank tumbuh 20,26% yoy menjadi Rp 73,69 triliun. Pertumbuhan ini sangat membantu dalam menjaga spread bunga dan efisiensi biaya operasional.
2. Tabungan Naik 19,96% YoY
Tabungan juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 19,96% yoy menjadi Rp 49,48 triliun. Ini menunjukkan bahwa bank masih menarik minat nasabah untuk menyimpan dana dalam bentuk tabungan.
3. Deposito Turun 16,10%
Sebaliknya, deposito yang dianggap sebagai dana mahal justru mengalami penurunan sebesar 16,10% menjadi Rp 69,64 triliun. Penurunan ini adalah bagian dari strategi bank dalam mengoptimalkan struktur biaya dana.
4. Total Dana Pihak Ketiga (DPK) Naik 3,93%
Meski ada penurunan di sisi deposito, total DPK bank tetap tumbuh 3,93% yoy menjadi Rp 192,81 triliun. Ini menunjukkan bahwa bank tetap bisa menarik dana dari masyarakat secara keseluruhan.
Strategi Jangka Panjang PermataBank
PermataBank tidak hanya fokus pada pencapaian target jangka pendek. Bank juga memiliki strategi jangka panjang yang matang, terutama dalam memperkuat bisnis inti dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan regulasi ke depan.
1. Menjaga Kesehatan Bisnis
Salah satu pilar utama strategi PermataBank adalah menjaga kesehatan bisnis secara keseluruhan. Ini mencakup profitabilitas, struktur permodalan, dan kualitas aset.
2. Meningkatkan Efisiensi Operasional
Bank juga terus meningkatkan efisiensi operasional, terutama dalam pengelolaan biaya dan beban non-bunga. Ini penting agar margin keuntungan tetap terjaga.
3. Memperkuat Bisnis Syariah
PermataBank juga terus mengembangkan bisnis syariahnya. Unit Usaha Syariah (UUS) menjadi salah satu pilar penting dalam strategi diversifikasi bank.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Naik kelas ke KBMI IV bukan hanya soal modal. Ada tantangan lain yang harus dihadapi, seperti persaingan yang semakin ketat dan dinamika regulasi yang terus berubah. Namun, PermataBank tampak siap menghadapi semua itu dengan pendekatan yang berkelanjutan.
1. Persaingan Semakin Ketat
Semakin banyak bank yang masuk ke kategori KBMI IV, maka persaingan di segmen perbankan besar akan semakin ketat. PermataBank harus terus meningkatkan kualitas layanan dan produk agar tetap kompetitif.
2. Regulasi yang Terus Berubah
Regulasi perbankan di Indonesia terus berkembang. Bank harus siap menyesuaikan diri dengan aturan baru, terutama yang berkaitan dengan permodalan dan manajemen risiko.
3. Peluang Pertumbuhan di Segmen UMKM
Salah satu peluang besar yang bisa dimanfaatkan PermataBank adalah di segmen UMKM. Bank bisa terus mengembangkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha kecil dan menengah.
Data Perbandingan Kinerja Keuangan PermataBank
Berikut adalah rincian kinerja keuangan PermataBank di akhir tahun lalu dibandingkan dengan tahun sebelumnya:
| Indikator | 2025 | 2024 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Modal Inti | Rp 54,63 T | Rp 50,99 T | +7,14% |
| Laba Bersih | Rp 3,59 T | Rp 3,57 T | +0,59% |
| Total Aset | Rp 268,34 T | Rp 259,07 T | +3,58% |
| Pembiayaan | Rp 163,33 T | Rp 154,87 T | +5,46% |
| DPK | Rp 192,81 T | Rp 185,52 T | +3,93% |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi dari bank dan otoritas terkait.
PermataBank memang tidak terburu-buru mengejar naik kelas ke KBMI IV. Namun, dengan strategi yang matang dan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan, bank ini punya peluang besar untuk mencapai target tersebut di masa depan. Yang paling penting, langkah-langkah yang diambil saat ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan bisnis.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.




