Beranda » Ekonomi Bisnis » Likuiditas Longgar, Perbankan Ramai-Ramai Parkir Dana di SBN

Likuiditas Longgar, Perbankan Ramai-Ramai Parkir Dana di SBN

Likuiditas masih terbilang longgar di awal tahun 2026. Fenomena ini tercermin dari semakin banyaknya dana yang dialokasikan bank untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN). Posisi ini menunjukkan bahwa bank lebih memilih menempatkan dana di instrumen aman ketimbang menyalurkannya sebagai kredit.

Salah satu indikatornya adalah dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan (DJPPR) . Per 20 , kepemilikan perbankan terhadap SBN mencapai Rp 1.472,5 triliun. Angka ini setara dengan 21,93% dari total SBN yang beredar. Dibandingkan akhir 2025, ada lonjakan sebesar 10,84%.

Likuiditas Melimpah, Tapi Kredit Lambat Tumbuh

Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) justru lebih dibandingkan kredit. Data Bank Indonesia per Januari 2025 menunjukkan, kredit tumbuh 9,96% secara tahunan. Sementara DPK naik lebih tinggi, yakni 13,48% yoy. Gap ini menandakan bahwa dana mengalir masuk lebih cepat daripada kemampuan bank menyalurkannya.

Salah satu penyebabnya adalah lemahnya permintaan kredit dari pelaku usaha dan masyarakat. Di tengah , bank juga cenderung lebih hati-hati dalam menyalurkan pinjaman. Sementara itu, SBN tetap menawarkan imbal hasil yang kompetitif dan risiko yang terukur.

1. Penyebab Utama Dana Parkir di SBN

Beberapa faktor mendorong bank lebih banyak menempatkan dana di SBN:

  1. Permintaan kredit yang lesu
    Minat pelaku usaha dan konsumen untuk mengajukan pinjaman masih rendah. Ini membuat bank kesulitan menyalurkan dana secara optimal.

  2. Imbal hasil SBN yang menarik
    Selama return SBN masih di atas biaya dana bank, instrumen ini tetap menjadi pilihan utama.

  3. Risiko yang lebih terukur
    Dibandingkan kredit, SBN dianggap lebih aman karena didukung oleh pemerintah.

2. Dampak pada Fungsi Intermediasi Bank

Penempatan dana yang tinggi di SBN bisa berdampak pada perlambatan pertumbuhan kredit. Dana yang seharusnya digunakan untuk membiayai usaha dan konsumsi justru dialihkan ke instrumen pemerintah. Ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi di sektor riil.

Baca Juga:  Daftar 10 Produk Unitlink Pendapatan Tetap dengan Kinerja Imbal Hasil Terbaik Februari 2026

3. Strategi Bank Besar dalam Mengelola Likuiditas

Berbagai bank besar mencatat peningkatan penempatan dana di SBN sebagai bagian dari strategi likuiditas. Namun, pendekatannya tidak sama. Ada yang menambah porsi SBN, ada juga yang justru menguranginya.

BCA

Bank Central Asia (BCA) mencatat penempatan dana di surat berharga naik 15,84% yoy menjadi Rp 430,34 triliun pada Januari 2025. Menurut Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, langkah ini merupakan bagian dari pengelolaan likuiditas yang seimbang.

BNI

Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat lonjakan lebih tinggi, yakni 36,82% yoy menjadi Rp 197,01 triliun. Pertumbuhan ini seiring dengan kredit yang naik 19,2%.

Mandiri

Bank Mandiri juga menaikkan penempatan dana sebesar 29,13% yoy menjadi Rp 292,57 triliun. Kredit bank ini tumbuh 15,62%.

CIMB Niaga

Berbeda dengan bank lain, justru mengurangi porsi SBN sebesar 10% yoy. Presiden Lani Darmawan menyebutkan bahwa dana dialokasikan untuk mendorong kredit ke sektor riil.

KB Bank

KB Bank juga mengelola portofolio SBN secara dinamis. Per akhir 2025, kepemilikan SBN turun 10,39% menjadi Rp 18,96 triliun. Sementara itu, kredit justru naik 7,04%.

Perbandingan Penempatan SBN dan Pertumbuhan Kredit Bank Besar (Januari 2025)

Bank Penempatan SBN (YoY) Pertumbuhan Kredit (YoY)
BCA 15,84%
BNI 36,82% 19,2%
Mandiri 29,13% 15,62%
CIMB Niaga -10%
KB Bank -10,39% 7,04%

4. Peran SBN dalam Stabilitas Perbankan

SBN tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi, tapi juga sebagai penopang likuiditas dan stabilitas neraca bank. Di tengah ketidakpastian, SBN menjadi safe haven yang membantu menjaga keseimbangan portofolio.

Baca Juga:  Kolaborasi MSIG Life dan Nanobank Syariah Hadirkan 1 Proteksi Jiwa Terbaik di Tahun 2026

5. Tantangan di Depan

Meski SBN menawarkan keamanan, bank tetap dituntut menjaga keseimbangan agar fungsi intermediasinya tidak terganggu. Pemulihan permintaan kredit dan daya beli masyarakat akan menjadi kunci arah ke depan.

6. Faktor yang Perlu Diwaspadai

  1. Ketergantungan pada SBN
    Jika terus berlangsung, bank bisa kehilangan peran utamanya sebagai penyalur dana.

  2. Tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi
    Perlambatan kredit bisa menghambat investasi dan konsumsi.

  3. Perubahan kebijakan makro
    Kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah akan sangat memengaruhi arah likuiditas.

7. Strategi Jangka Panjang

Bank perlu mengembangkan strategi likuiditas yang fleksibel. Ini termasuk diversifikasi instrumen investasi, optimalisasi teknologi, dan peningkatan efisiensi operasional. Dukungan terhadap sektor riil juga harus tetap menjadi prioritas.

Kesimpulan

Likuiditas yang longgar membuat banyak bank lebih memilih menempatkan dana di SBN. Instrumen ini menawarkan keamanan dan return yang kompetitif. Namun, ke depan bank harus tetap menjaga keseimbangan agar fungsi intermediasinya tidak terganggu. Pemulihan permintaan kredit dan stabilitas akan menjadi kunci utama.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kondisi makro ekonomi dan kebijakan yang berlaku.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Karangbendo

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.