Pemerintah kembali memperpanjang penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp 200 triliun ke sejumlah bank Himbara hingga September 2026. Keputusan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga likuiditas perbankan dan mendukung pertumbuhan kredit di tengah dinamika ekonomi yang masih pulih.
Dana yang semula ditempatkan sejak September 2025 lalu dengan tenor enam bulan, kini diperpanjang selama periode yang sama. Artinya, total masa penempatan menjadi satu tahun penuh. Langkah ini menuai berbagai respons dari kalangan pelaku industri keuangan, mulai dari apresiasi hingga kritik terkait ketidakpastian kebijakan.
Respons Bank Himbara Terhadap Perpanjangan Dana SAL
Sejumlah bank BUMN menyambut positif keputusan ini. Mereka melihat bahwa dana SAL memberikan dampak langsung pada likuiditas dan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit. Namun, ada juga pihak yang menilai bahwa kebijakan tarik-ulur ini bisa menciptakan ketidakpastian jangka panjang.
1. Penilaian Ekonom terhadap Kebijakan Tarik-Ulur
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), menyebut bahwa perpanjangan penempatan dana SAL menciptakan ketidakpastian kebijakan. Bank menjadi ragu untuk merancang strategi jangka panjang karena takut kebijakan serupa terulang lagi.
Di sisi lain, Bhima mengakui bahwa kebijakan ini membantu menjaga stabilitas likuiditas dan suku bunga. Risiko kredit pun bisa ditekan karena bank tidak terburu-buru menyalurkan pinjaman demi mengejar target pertumbuhan.
2. Permintaan Kredit yang Masih Lemah
Guru Besar FEB UI, Budi Frensidy, menyoroti bahwa masalah utama bukan pada ketersediaan dana, melainkan lemahnya permintaan kredit dari sektor usaha. Likuiditas memang melimpah, baik dari BI maupun dana SAL, tapi pertumbuhan kredit masih terbatas.
Menurut Budi, kredit yang tumbuh hanya single digit karena dunia usaha belum banyak melakukan ekspansi. Ini membuat bank terjebak dalam dilema: punya dana banyak, tapi sedikit yang mau meminjam.
Tanggapan Bank Syariah Indonesia (BSI)
BSI menjadi salah satu bank yang merasakan manfaat langsung dari penempatan dana SAL. Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menyatakan bahwa dana tersebut sudah terserap lebih dari 100% hanya dalam waktu satu bulan.
1. Alokasi Dana dan Penyaluran
Dari total dana Rp 200 triliun, BSI mendapat alokasi sekitar Rp 10 triliun. Dana tersebut langsung digunakan untuk menyalurkan pembiayaan ke berbagai sektor, baik produktif maupun konsumtif.
“Waktu itu sebulan saja sudah terserap. Karena dananya berputar, ada pembayaran pokok lalu kami salurkan lagi,” ujar Erwan.
2. Proyeksi Pertumbuhan Pembiayaan
Erwan optimistis bahwa perpanjangan penempatan dana SAL bisa mendorong pertumbuhan pembiayaan BSI ke level dua digit pada 2026. Tahun lalu, BSI mencatat pertumbuhan dobel digit berkat dukungan likuiditas dari pemerintah.
BSI pun menyatakan kesiapan jika pemerintah menambah alokasi dana. “Kalau diberi amanah, kami siap. Sebulan saja sudah habis terserap,” tegasnya.
Penilaian Bank Tabungan Negara (BTN)
BTN juga menyambut baik perpanjangan penempatan dana SAL. Direktur Network & Retail Funding BTN, Rully Setiawan, menyebut bahwa kebijakan ini membantu menjaga stabilitas likuiditas dan suku bunga di pasar.
1. Dampak pada Likuiditas dan Suku Bunga
Menurut Rully, dengan adanya dana SAL, tekanan kompetisi penghimpunan dana bisa diredam. Ini penting untuk menjaga cost of fund tetap kompetitif di tengah dinamika pasar uang.
“Insyaallah harusnya aman. Kami optimistis tahun ini likuiditas terjaga,” ujar Rully.
2. Strategi Penghimpunan Dana Murah
BTN memperkuat strategi penghimpunan dana murah melalui current account saving account (CASA). Fokus utamanya adalah membangun basis dana murah berbasis transaksi melalui ekosistem digital.
Super app Bale by BTN dan Bale Korpora menjadi ujung tombak strategi ini. “Kalau dana murah harus dimulai dari super apps kita. Bank dalam genggaman, bank ada di kantong,” jelas Rully.
3. Target Dana Pihak Ketiga (DPK)
BTN menerapkan strategi pertumbuhan DPK secara bertahap. Target tidak langsung tinggi di awal tahun, tapi dijaga bertahap agar stabil hingga akhir tahun.
“Biasanya target menurun, tapi kami justru menargetkan bisa meningkat di atas posisi Desember secara bertahap,” pungkas Rully.
Data Kinerja Suku Bunga Pasca Penempatan Dana SAL
Sejak penempatan dana SAL dimulai pada September 2025, terjadi penurunan suku bunga di pasar. Data menunjukkan bahwa suku bunga deposito tenor enam bulan turun dari 5,03% pada November 2025 menjadi 4,73% pada Januari 2026.
Sementara itu, suku bunga deposito tenor tiga bulan juga turun dari 4,71% menjadi 4,68% dalam periode yang sama. Adapun suku bunga kredit turun dari 9,20% menjadi 8,80% pada Januari 2026.
Berikut ringkasan data suku bunga:
| Jenis Deposito | November 2025 | Januari 2026 |
|---|---|---|
| Tenor 6 Bulan | 5,03% | 4,73% |
| Tenor 3 Bulan | 4,71% | 4,68% |
| Jenis Kredit | Januari 2025 | Januari 2026 |
|---|---|---|
| Rata-rata | 9,20% | 8,80% |
Evaluasi Kebijakan di Tengah Dinamika Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kebijakan penempatan dana SAL akan dievaluasi kembali pada September 2026. Evaluasi ini penting untuk melihat efektivitas program dalam mendukung likuiditas dan pertumbuhan kredit.
Namun, ada kekhawatiran bahwa tarik-ulur kebijakan ini bisa menciptakan distorsi pasar. Bank menjadi tergantung pada dana pemerintah, dan kurang berinovasi dalam mencari sumber dana alternatif.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Februari 2026. Kebijakan pemerintah dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.



