Beranda » Ekonomi Bisnis » Capaian Baru Pembiayaan Kendaraan Listrik Multifinance di Awal 2026: Sentuhan Elektrifikasi yang Makin Nyata

Capaian Baru Pembiayaan Kendaraan Listrik Multifinance di Awal 2026: Sentuhan Elektrifikasi yang Makin Nyata

Pembiayaan kendaraan listrik di sektor multifinance mencatatkan angka yang cukup mengesankan menjelang awal tahun 2026. Otoritas (OJK) mencatat total nilai pembiayaan kendaraan listrik dari perusahaan multifinance mencapai Rp 21,05 triliun per Januari 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 39,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan ini tidak terlepas dari semakin tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong elektrifikasi transportasi, perusahaan pembiayaan ikut berperan aktif dalam mendukung transisi tersebut. Salah satunya adalah PT (MUF) yang mencatat pembiayaan kendaraan listrik dan hybrid mencapai Rp 2,49 triliun sepanjang 2025, naik 99% secara tahunan.

Pertumbuhan Pembiayaan Kendaraan Listrik

  1. Dorongan Kebijakan dan Adopsi Masyarakat
    Peningkatan di tengah masyarakat menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan pembiayaan. Kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan memberi sinyal kuat bagi untuk mengembangkan produk yang sesuai.

  2. Inovasi Produk Pembiayaan
    Banyak perusahaan multifinance mulai menawarkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel dan menarik, seperti tenor panjang, uang muka rendah, dan suku kompetitif. Ini membuat kendaraan listrik lebih terjangkau bagi berbagai kalangan.

  3. Perluasan Jaringan Distribusi
    Perusahaan pembiayaan juga meningkatkan kerja sama dengan dealer kendaraan listrik untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan begitu, calon konsumen bisa lebih mudah mengakses berbagai pilihan kendaraan dan skema pembiayaan.

Data Pembiayaan Kendaraan Listrik

Perusahaan Pembiayaan 2025 Pertumbuhan YoY
Mandiri Utama Finance (MUF) Rp 2,49 triliun 99%
Rata-rata Rp 21,05 triliun 39,13%
Baca Juga:  Pendapatan Premi BCA Life Tembus Rp 2 Triliun, Naik 32,9% di Tahun 2025

Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan OJK per Januari 2026. Angka dapat berubah sewaktu-waktu.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

OJK memperkirakan tren positif ini akan berlanjut sepanjang 2026. Namun, sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai. Salah satunya adalah risiko yang mulai meningkat. Berdasarkan data OJK, Non-Performing Loan (NPL) multifinance mencapai 2,72% per Januari 2026, naik dari periode sebelumnya.

  1. Peningkatan
    Seiring dengan pertumbuhan kredit yang cepat, pengawasan terhadap kualitas pembiayaan menjadi semakin penting. OJK menyarankan perusahaan pembiayaan untuk memperketat proses seleksi calon nasabah dan memperbaiki manajemen risiko.

  2. Kebutuhan Edukasi Konsumen
    Banyak konsumen masih belum sepenuhnya memahami skema pembiayaan kendaraan listrik. Edukasi terkait manfaat kendaraan listrik dan cara pengajuan pembiayaan yang benar menjadi penting untuk mengurangi risiko gagal bayar.

  3. Perluasan Akses Pembiayaan ke Wilayah 3T
    Kendaraan listrik belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Perusahaan pembiayaan perlu memperluas jaringan ke daerah terpencil, tertinggal, dan terdepan agar lebih banyak masyarakat yang bisa menikmati kemudahan akses kendaraan listrik.

Kinerja Industri Multifinance Secara Umum

Selain pembiayaan kendaraan listrik, sektor multifinance secara keseluruhan juga menunjukkan performa yang solid. Total piutang pembiayaan multifinance tercatat mencapai Rp 508,27 triliun per Januari 2026, naik 0,78% secara tahunan. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan pembiayaan modal kerja yang tumbuh 10,27% YoY.

  1. Pembiayaan Modal Kerja Naik Signifikan
    Sektor UMKM menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ini. Banyak perusahaan pembiayaan menawarkan produk pembiayaan modal kerja yang lebih mudah dan cepat, sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha kecil dan menengah.

  2. Pembiayaan Syariah Terus Berkembang
    Pembiayaan multifinance syariah juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,96% secara tahunan, mencapai Rp 31,05 triliun. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah terus meningkat.

Baca Juga:  Total Penyaluran Dana Fintech Lending Capai Rp 100,69 Triliun di Februari 2026 Ini

Strategi Jangka Panjang

Perusahaan pembiayaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan volume, tapi juga pada peningkatan kualitas portofolio. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan mengoptimalkan teknologi dalam proses pengajuan dan monitoring kredit.

  1. Digitalisasi Proses Pembiayaan
    Banyak perusahaan mulai mengadopsi sistem digital end-to-end, mulai dari pengajuan hingga pencairan. Ini tidak hanya mempercepat proses, tapi juga meningkatkan akurasi dalam penilaian risiko.

  2. Penguatan Mitra Dealer dan Platform Online
    Kolaborasi dengan platform digital dan dealer memungkinkan perusahaan menjangkau lebih banyak calon konsumen. Ini juga membantu dalam memberikan pengalaman yang lebih terintegrasi dan nyaman bagi .

Disclaimer

Data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi OJK per Januari 2026. Angka-angka yang tercantum bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kondisi pasar dan kebijakan regulator. Informasi ini dimaksudkan untuk tujuan edukasi dan tidak dijadikan sebagai acuan investasi atau keputusan keuangan.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Karangbendo

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.