Beranda » Ekonomi Bisnis » Laba Bank Terbatas, Pendapatan dari Aset Bermasalah Diproyeksikan Menurun di 2026

Laba Bank Terbatas, Pendapatan dari Aset Bermasalah Diproyeksikan Menurun di 2026

Tahun lalu, sejumlah bank besar di Tanah Air memanfaatkan pendapatan dari recovery income untuk menopang laba bersihnya. Pendapatan ini sebagian besar berasal dari penjualan bermasalah atau kredit macet. Namun, tren tersebut diprediksi akan melambat di tahun ini karena stok aset bermasalah yang makin menipis dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Bank seperti Mandiri dan BCA mencatat pertumbuhan laba yang masih positif, seiring dengan kenaikan recovery income. Mandiri mencatat recovery income mencapai Rp 7,28 triliun, naik 7,37% secara tahunan. Sementara BCA melaporkan angka Rp 1,07 triliun, dengan pertumbuhan 25,17% yoy. Meski begitu, pihak bank menyatakan bahwa pendekatan ini bukan satu-satunya andalan untuk menjaga profitabilitas.

Penjualan Aset Bermasalah Tak Lagi Jadi Andalan Utama

Penjualan aset bermasalah memang memberikan suntikan pendapatan instan bagi bank. Tapi, di tahun ini, strategi ini diprediksi tidak seefektif tahun-tahun sebelumnya. Salah satu alasannya adalah portofolio aset bermasalah yang kini sudah berkurang secara signifikan.

CIMB Niaga, misalnya, mencatat penjualan kredit ke pihak ketiga sebesar Rp 430,32 miliar di tahun lalu, turun dari Rp 1,36 triliun tahun sebelumnya. Penurunan ini juga diikuti dengan pengurangan cadangan kerugian (CKPN) yang dialokasikan untuk penjualan tersebut.

1. Penurunan Portofolio Aset Bermasalah

Portofolio aset bermasalah yang semakin sedikit membuat bank lebih sulit mengandalkan pendapatan dari penjualan aset tersebut. Banyak bank kini lebih memilih menunggu harga pasar yang lebih stabil daripada menjual terburu-buru dengan harga diskon.

2. Strategi Alternatif untuk Menjaga Laba

Menghadapi situasi ini, bank mulai beralih ke strategi lain seperti efisiensi biaya, restrukturisasi kredit, dan peningkatan fee based income. Pendapatan dari dan komisi menjadi pilihan utama karena lebih stabil dan tidak tergantung pada volatilitas penjualan aset.

Baca Juga:  CNAF Salurkan Pembiayaan Baru Senilai Rp 1,24 Triliun Sepanjang Periode Februari 2026

3. Penguatan Pencadangan untuk Antisipasi Risiko

Bank juga terus memperkuat pencadangan, terutama untuk menghadapi potensi risiko kredit di masa depan. BCA, misalnya, mempertahankan rasio sebesar 183,8%, yang menunjukkan bahwa bank ini memiliki cadangan yang lebih besar daripada jumlah kredit bermasalahnya.

Laba Bank Dipengaruhi oleh Banyak Faktor

Tidak hanya recovery income, laba bank juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti kualitas kredit, , dan pendapatan non-bunga. Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, bank perlu lebih selektif dalam mengelola portofolionya.

1. Kualitas Kredit yang Terus Dipantau

Bank terus memantau kualitas kredit nasabahnya untuk mencegah terjadinya penumpukan NPL. Dengan pencadangan yang memadai dan sistem manajemen risiko yang ketat, bank bisa mengurangi risiko kerugian besar di masa depan.

2. Efisiensi Biaya Operasional

Efisiensi biaya menjadi salah satu cara bank menjaga laba bersih. Banyak bank mengurangi pengeluaran non-esensial dan mengoptimalkan teknologi untuk mengurangi biaya operasional. Ini termasuk digitalisasi layanan perbankan yang mengurangi kebutuhan akan cabang fisik.

3. Peningkatan Pendapatan Komisi

Pendapatan dari jasa dan komisi (fee income) menjadi fokus utama banyak bank saat ini. Bisnis seperti wealth management, , dan memberikan kontribusi pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Tabel Perbandingan Recovery Income Bank Besar

Berikut adalah perbandingan recovery income dari beberapa bank besar di tahun lalu:

Bank Recovery Income 2024 Recovery Income 2025 Pertumbuhan (%)
Rp 6,78 triliun Rp 7,28 triliun 7,37%
BCA Rp 855 miliar Rp 1,07 triliun 25,17%
CIMB Niaga Rp 1,36 triliun Rp 430,32 miliar -68,36%
Baca Juga:  Berbagai Hambatan Ekonomi yang Berpotensi Mengganggu Kinerja Dana Pensiun di 2026

*Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung laporan resmi masing-masing bank.

Proyeksi Laba Bank di Tahun Ini

Melihat kondisi saat ini, laba bank besar diperkirakan akan tumbuh lebih pelan dibanding tahun sebelumnya. Recovery income yang melambat, ditambah dengan yang masih rendah, membuat bank harus lebih kreatif dalam mencari sumber pendapatan lain.

Namun, bukan berarti laba bank akan terus menurun. Dengan strategi yang tepat, seperti optimalisasi pendapatan non-bunga dan efisiensi biaya, bank masih bisa menjaga kinerja keuangannya di tengah tekanan ekonomi.

Kesimpulan

Recovery income memang menjadi andalan banyak bank untuk menopang laba di masa lalu. Namun, di tahun ini, pendekatan ini diprediksi akan melambat. Bank besar seperti Mandiri, BCA, dan CIMB Niaga mulai beralih ke strategi lain seperti efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan komisi.

Meski demikian, pencadangan yang dan pengelolaan risiko tetap menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas keuangan bank. Dengan kombinasi strategi yang tepat, bank masih bisa meraih kinerja yang solid meski dalam kondisi yang penuh tantangan.

Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan laporan resmi bank terkait.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Karangbendo

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.