Dua bank besar Tanah Air, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), baru saja mengumumkan rencana aksi buyback saham. Rencana ini mendapat lampu hijau dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar masing-masing pekan lalu. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah tekanan pasar yang cukup tinggi.
BBCA akan melakukan buyback senilai Rp 5 triliun, sedangkan BBNI menargetkan buyback sebesar Rp 905 miliar. Menurut Muhammad Wafi, Head of Research at Korea Investment & Sekuritas Indonesia, aksi buyback ini memiliki dampak langsung terhadap peningkatan rasio earning per share (EPS) dan return on equity (ROE) kedua bank tersebut. Dengan jumlah saham beredar yang berkurang, nilai perolehan per saham pun cenderung meningkat.
Dampak Buyback Saham pada Kinerja Keuangan Bank
Buyback saham bukan sekadar langkah defensif, tapi juga strategi untuk memperkuat fundamental perusahaan. Dengan mengurangi jumlah saham beredar, perusahaan secara otomatis meningkatkan proporsi kepemilikan investor eksisting. Ini juga menciptakan price support di tengah tekanan jual asing dan volatilitas pasar.
Wafi menilai bahwa langkah ini bisa mendorong kenaikan harga saham BBCA dan BBNI ke depan. Investor pun mendapat imbal hasil yang lebih besar, baik dari capital gain maupun peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
1. Meningkatkan EPS dan ROE
EPS (Earning Per Share) adalah indikator laba yang diperoleh per saham. Ketika jumlah saham beredar berkurang, nilai EPS cenderung naik. Begitu juga dengan ROE (Return on Equity), yang mengukur efisiensi penggunaan modal sendiri untuk menghasilkan laba. Buyback saham secara langsung mengurangi ekuitas, sehingga ROE bisa meningkat meskipun laba bersih tetap.
2. Meningkatkan Nilai Proporsional Kepemilikan Saham
Dengan jumlah saham beredar yang lebih sedikit, setiap lembar saham yang dimiliki investor menjadi lebih bernilai. Ini memberikan efek psikologis positif dan bisa menarik investor baru yang melihat potensi capital gain di masa depan.
3. Menjadi Signal Buy bagi Pasar
Aksi buyback sering kali dianggap sebagai sinyal bahwa manajemen percaya pada valuasi saham perusahaan. Investor pun bisa melihat ini sebagai bentuk komitmen untuk menjaga kinerja dan harga saham di tengah ketidakpastian pasar.
Penyebab Tekanan pada Saham Big Banks
Saham big banks sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari lonjakan net sell asing hingga ketidakpastian geopolitik global. Depresiasi rupiah dan outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings juga turut memengaruhi sentimen investor.
1. Net Sell Asing yang Tinggi
Investor asing cenderung menjual saham ketika ada ketidakpastian makro ekonomi global. Saham bank besar pun tak luput dari tekanan ini, terutama saat dolar menguat dan rupiah melemah.
2. Sentimen Negatif dari Lembaga Pemeringkat
Fitch Ratings sempat merilis outlook negatif untuk beberapa bank besar Indonesia. Ini membuat investor lebih waspada dan cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum kembali membeli saham.
3. Depresiasi Rupiah
Melemahnya rupiah terhadap dolar AS memicu kekhawatiran terkait beban valuta asing bank. Meski sebagian besar bank sudah memiliki lindung nilai, tekanan tetap terasa di pasar modal.
Strategi Buyback di Tengah Tekanan Pasar
Buyback bukan langkah yang diambil sembarangan. Ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga nilai perusahaan tetap stabil. Selain BBCA dan BBNI, bank besar lainnya seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga telah memulai aksi buyback sejak akhir tahun lalu.
Langkah ini menunjukkan bahwa manajemen bank besar masih percaya pada prospek jangka panjang perusahaan mereka. Meski tekanan pasar terasa, mereka memilih untuk bertindak cepat agar tidak kehilangan investor jangka panjang.
1. Menjaga Stabilitas Harga Saham
Buyback menciptakan permintaan internal terhadap saham perusahaan. Ini bisa menjadi penyangga ketika permintaan dari investor eksternal sedang rendah.
2. Meningkatkan Kepercayaan Investor
Investor sering kali melihat aksi buyback sebagai bentuk komitmen manajemen terhadap nilai pemegang saham. Ini bisa memicu minat beli baru, terutama dari investor institusional.
3. Mengoptimalkan Penggunaan Dana Kas
Bank besar umumnya memiliki likuiditas yang tinggi. Buyback menjadi cara efektif untuk menggunakan dana tersebut demi memberikan nilai tambah kepada pemegang saham, ketimbang hanya menahan dana di rekening.
Perbandingan Buyback Saham Big Banks
Berikut adalah rincian buyback saham dari empat bank besar Indonesia:
| Bank | Nilai Buyback | Tanggal Mulai |
|---|---|---|
| BBCA | Rp 5 triliun | Maret 2026 |
| BBNI | Rp 905 miliar | Maret 2026 |
| BMRI | Rp 3,5 triliun | Desember 2025 |
| BBRI | Rp 2,2 triliun | Desember 2025 |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa BBCA memiliki alokasi dana buyback tertinggi. Ini menunjukkan komitmen kuat bank tersebut dalam menjaga valuasi saham di tengah tekanan makro ekonomi.
Proyeksi Pasar Pasca Buyback
Wafi memperkirakan bahwa aksi buyback ini akan memberikan dampak positif dalam jangka pendek hingga menengah. Investor yang sebelumnya ragu bisa mulai kembali membeli saham bank besar, terutama jika melihat peningkatan fundamental seperti EPS dan ROE.
Namun, ia juga menekankan bahwa buyback bukan solusi jangka panjang jika tidak diimbangi dengan kinerja operasional yang solid. Kondisi makro ekonomi global dan kebijakan Bank Indonesia tetap menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan saham bank di kuartal II-2026.
Kesimpulan
Aksi buyback saham oleh bank besar seperti BBCA dan BBNI merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga saham dan meningkatkan keyakinan investor. Dengan berkurangnya jumlah saham beredar, EPS dan ROE pun ikut meningkat, memberikan dampak positif terhadap valuasi perusahaan.
Meski tekanan dari investor asing dan sentimen global masih terasa, langkah ini bisa menjadi penopang kuat bagi pergerakan saham bank besar ke depan. Investor pun bisa melihat ini sebagai peluang untuk memperkuat portofolio saham bank yang memiliki fundamental kuat.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan kebijakan perusahaan terkait.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.



