Permintaan kredit di sektor perbankan nasional memang mulai melambat sejak awal tahun 2026. CIMB Niaga, salah satu bank swasta besar di Tanah Air, juga mencatatkan tren serupa. Di Februari 2026, pertumbuhan kredit bank ini terbilang stagnan, terutama di segmen non-retail. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa kondisi ini belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Meski demikian, tidak semua sektor kredit mengalami perlambatan. Kredit kendaraan bermotor justru mencatat pertumbuhan cukup positif, yakni sebesar 6% secara tahunan (yoy). Angka ini menjadi salah satu sorotan di tengah lesunya permintaan kredit secara umum. Lani menyebut bahwa sektor lainnya masih belum menunjukkan performa yang sama.
Perlambatan Kredit di Awal Tahun
Pertumbuhan kredit CIMB Niaga di Februari 2026 memang belum menunjukkan momentum kuat. Lani Darmawan menjelaskan bahwa bank belum melihat lonjakan permintaan yang signifikan, terutama dari segmen korporasi. Ia memperkirakan kuartal pertama 2026 akan tetap terbatas dalam hal pertumbuhan kredit.
Perlambatan ini tidak hanya terjadi di CIMB Niaga. Data dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan secara nasional pada Februari 2026 tercatat sebesar 9,37%. Angka ini turun dibandingkan pertumbuhan di Januari 2026 yang mencapai 9,96%. Penurunan ini terjadi di hampir seluruh segmen kredit, baik retail maupun korporasi.
1. Permintaan Kredit Korporasi yang Rendah
Salah satu faktor utama yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan kredit adalah rendahnya permintaan dari sektor korporasi. Banyak perusahaan masih berhati-hati dalam mengajukan pinjaman karena ketidakpastian ekonomi global dan kondisi domestik yang belum sepenuhnya pulih.
2. Kondisi Konsumsi yang Belum Pulih
Di sisi konsumen, daya beli masyarakat juga belum kembali ke level pra-pandemi. Meskipun ada peningkatan di sektor otomotif, permintaan kredit secara keseluruhan masih terbatas. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menahan diri dalam pengeluaran besar.
3. Kebijakan Moneter yang Ketat
Bank Indonesia masih menjaga kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga stabilitas inflasi. Suku bunga acuan yang tinggi membuat pinjaman menjadi lebih mahal, sehingga menekan permintaan kredit dari berbagai segmen.
Sektor yang Masih Menunjukkan Pertumbuhan
Meski secara umum lesu, ada beberapa sektor yang masih menunjukkan potensi. Kredit kendaraan bermotor menjadi salah satu penopang pertumbuhan CIMB Niaga di Februari 2026. Sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6% secara tahunan.
1. Kredit Kendaraan Bermotor
Kredit kendaraan bermotor menjadi salah satu bright spot di tengah lesunya sektor perbankan. Permintaan mobil baru dan motor masih cukup tinggi, terutama menjelang musim mudik Lebaran 2026. CIMB Niaga memanfaatkan momentum ini dengan menggenjot booking kredit melalui aplikasi OCTO Mobile.
2. Kredit Syariah untuk Proyek Energi Bersih
CIMB Niaga juga aktif menyalurkan pembiayaan syariah untuk proyek-proyek energi bersih. Salah satunya adalah kolaborasi dengan PLN senilai Rp 3,3 triliun. Ini menunjukkan bahwa bank masih melihat peluang di sektor yang mendukung transisi energi nasional.
Strategi CIMB Niaga Menghadapi Tantangan
Meski menghadapi tantangan di awal tahun, CIMB Niaga tidak tinggal diam. Bank ini terus mengembangkan strategi untuk menarik minat nasabah, terutama di era digital.
1. Pemanfaatan Aplikasi Digital
CIMB Niaga terus menggenjot penggunaan aplikasi OCTO Mobile untuk booking kredit. Ini menjadi langkah strategis untuk menjangkau nasabah muda yang lebih nyaman dengan transaksi digital.
2. Program Relaksasi Kredit
Bank ini juga menawarkan program relaksasi kredit bagi nasabah yang terdampak bencana alam, seperti banjir di Sumatera. Program ini tidak hanya membantu nasabah, tetapi juga memperkuat loyalitas mereka terhadap bank.
3. Festival Kejar Mimpi 2025
Pada tahun sebelumnya, CIMB Niaga sukses menggelar Festival Kejar Mimpi 2025. Program ini menjadi salah satu cara bank untuk meningkatkan engagement dengan masyarakat serta memberikan edukasi keuangan yang menyenangkan.
Perbandingan Pertumbuhan Kredit CIMB Niaga
Berikut adalah rincian pertumbuhan kredit CIMB Niaga dari kuartal ke kuartal berdasarkan data terakhir yang tersedia:
| Periode | Total Penyaluran Kredit | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Kuartal III 2025 | Rp 217,79 triliun | 1,44% |
| Februari 2026 | Belum dipublikasi | Flat hingga 6% (sektor otomotif) |
Catatan: Data Februari 2026 belum sepenuhnya dipublikasikan oleh CIMB Niaga. Angka pertumbuhan bersifat estimasi berdasarkan pernyataan resmi manajemen.
Dampak Perlambatan Kredit bagi Ekonomi
Perlambatan pertumbuhan kredit tidak hanya berdampak pada sektor perbankan, tetapi juga pada perekonomian secara keseluruhan. Kredit yang stagnan berpotensi menekan investasi dan konsumsi, dua komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi.
1. Investasi Korporasi yang Tertahan
Rendahnya permintaan kredit korporasi berarti banyak perusahaan menunda rencana investasi. Ini bisa berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan produktivitas jangka panjang.
2. Konsumsi Masyarakat yang Terbatas
Di sisi konsumen, kredit yang lesu menunjukkan bahwa masyarakat masih menahan diri dalam pengeluaran besar. Ini berdampak pada sektor-sektor seperti otomotif, properti, dan elektronik.
Proyeksi ke Depan
Lani Darmawan memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit CIMB Niaga baru akan mulai membaik di kuartal kedua 2026. Bank akan terus memantau perkembangan ekonomi makro serta respons dari pemerintah dan Bank Indonesia terhadap kondisi saat ini.
1. Kuartal II sebagai Titik Balik
Bank optimis bahwa kuartal kedua akan menjadi momentum pemulihan. Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang dan pasca-Lebaran, permintaan kredit diperkirakan akan mulai meningkat.
2. Fokus pada Digitalisasi dan Inklusi Keuangan
CIMB Niaga juga berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan digital serta menjangkau masyarakat yang belum terlayani perbankan secara optimal. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang bank dalam memperluas basis nasabah.
Disclaimer
Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026. Data dan kondisi yang disebutkan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro, kebijakan moneter, serta situasi global dan domestik. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




