Pertumbuhan kredit di awal tahun 2026 memang terlihat menggembirakan. Tapi di balik angka positif itu, ada kabar yang patut diwaspadai: rasio kredit berisiko juga ikut naik. Bukan berarti sektor perbankan sedang dalam masalah besar, tapi ini adalah fenomena yang perlu dicermati lebih dalam. Banyak faktor yang bermain di balik lonjakan kredit berisiko ini, mulai dari pola musiman hingga tekanan ekonomi yang dirasakan oleh nasabah.
Salah satu penyebab utama adalah pola siklus penyaluran kredit yang terjadi setiap tahun. Di bulan Januari, biasanya bank belum sepenuhnya mulai menyalurkan kredit secara agresif. Namun, kredit lama yang sudah mencapai usia tertentu mulai menunjukkan tanda-tanda risiko. Ini wajar dalam siklus perbankan, dan bukan berarti kualitas kredit secara keseluruhan memburuk.
Penyebab Naiknya Kredit Berisiko di Awal Tahun
-
Efek Musiman dan Siklus Kredit
Pada awal tahun, volume kredit yang baru disalurkan belum sebesar biasanya. Sementara itu, kredit lama yang sudah berjalan beberapa bulan mulai masuk ke kategori berisiko. Ini menciptakan rasio kredit bermasalah yang naik, meski bukan karena kualitas penyaluran yang buruk. -
Tekanan Ekonomi pada Debitur Lama
Banyak nasabah yang sebelumnya lancar mulai mengalami kesulitan keuangan karena kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Ini terutama terjadi pada kredit konsumer dan UMKM, yang sensitif terhadap fluktuasi pendapatan. -
Relaksasi Kebijakan Pasca-Bencana
Bank seperti BSI memberikan kelonggaran kepada nasabah terdampak bencana, seperti di Aceh. Meski baik untuk membantu pemulihan, kebijakan ini bisa meningkatkan rasio kredit berisiko sementara waktu karena penghentian sementara pembayaran angsuran.
Strategi Bank dalam Menghadapi Kenaikan Risiko Kredit
-
Penguatan Cadangan Kredit
Bank seperti BTN menjaga rasio pencadangan antara 120% hingga 130% untuk mengantisipasi risiko. Ini menjadi buffer yang cukup kuat jika terjadi peningkatan kredit bermasalah. -
Selektivitas dalam Penyaluran Kredit
Meski pertumbuhan kredit positif, bank tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru. Terutama di tengah ketidakpastian makro ekonomi global dan domestik yang masih tinggi. -
Peningkatan Underwriting Berbasis Data
Perbaikan kualitas kredit juga didukung oleh sistem penilaian risiko yang lebih canggih. Dengan data yang lebih akurat, bank bisa memprediksi risiko sebelum kredit disalurkan.
Perbandingan Rasio Kredit Berisiko di Beberapa Bank
| Bank | Rasio Kredit Berisiko (LaR/FaR) Akhir 2025 | Kenaikan dari Bulan Sebelumnya |
|---|---|---|
| BTN | 9,01% | Naik dari 8,77% |
| BSI | 9,2% | Naik dari 7% |
| CIMB Niaga Syariah | – | Tren industri naik |
Catatan: Data dapat berubah tergantung perkembangan kondisi makro dan kebijakan bank terkait.
Segmen Kredit yang Paling Berisiko
-
Kredit Perumahan Non-Subsidi
Lebih sensitif terhadap siklus ekonomi dibanding KPR bersubsidi. Risiko meningkat seiring berjalannya waktu dan tergantung pada daya beli nasabah. -
Kredit Komersial
Portofolio ini rentan terhadap risiko makro ekonomi, terutama jika sektor riil belum pulih sepenuhnya. -
UMKM dan Konsumer
Segmen ini paling terdampak oleh fluktuasi pendapatan dan daya beli masyarakat. BSI mencatat peningkatan FaR terbesar berasal dari segmen ini.
Apa yang Dilakukan Bank untuk Mengurangi Risiko?
-
Pemantauan Portofolio Secara Berkala
Bank melakukan evaluasi berkala terhadap kualitas portofolio kredit. Ini dilakukan untuk mengidentifikasi risiko sejak dini dan mengambil langkah mitigasi yang tepat. -
Program Restrukturisasi yang Terarah
Untuk nasabah yang terdampak situasi tertentu, seperti bencana alam, bank memberikan opsi restrukturisasi. Namun, ini dilakukan dengan syarat ketat agar tidak memperburuk kualitas kredit secara keseluruhan. -
Penguatan Tim Collection
Manajemen kolektibilitas yang lebih baik membantu bank menekan tunggakan dan mengurangi akumulasi kredit bermasalah.
Haruskah Nasabah Khawatir?
Tidak perlu panik. Kenaikan rasio kredit berisiko di awal tahun lebih merupakan fenomena siklus daripada tanda krisis. Bank sudah siap dengan berbagai langkah antisipasi. Yang penting, nasabah tetap menjaga kedisiplinan dalam pembayaran agar tidak masuk ke kategori kredit bermasalah.
Meski demikian, kondisi ini menjadi pengingat bahwa kualitas kredit perlu terus dijaga. Terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. Bank pun terus berupaya meningkatkan sistem manajemen risiko agar tetap bisa tumbuh dengan sehat.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026. Perubahan kebijakan atau kondisi makro ekonomi dapat memengaruhi angka aktual di masa mendatang.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.




