Pertumbuhan kredit perbankan nasional mencatatkan angka yang cukup menjanjikan di awal tahun 2026. Pada Januari lalu, kredit tumbuh sebesar 9,96% secara tahunan. Angka ini menunjukkan bahwa sektor perbankan masih berada di jalur pemulihan yang kuat, terutama didorong oleh peningkatan permintaan pinjaman investasi dan sektor produktif seperti konstruksi serta pertanian.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan berada di kisaran 8% hingga 12%. Proyeksi ini didukung oleh sejumlah faktor, termasuk pelonggaran kebijakan moneter, insentif makroprudensial, serta program prioritas pemerintah yang berfokus pada pemulihan ekonomi. Lingkungan ini dianggap cukup kondusif bagi sektor perbankan, terutama dalam hal ekspansi kredit.
Saham Bank Pilihan Analis di Tengah Pertumbuhan Kredit
Dalam kondisi ekonomi yang mulai membaik, sejumlah analis dari Maybank Sekuritas Indonesia tetap optimis terhadap sektor perbankan. Jeffrosenberg Chenlim, analis senior perusahaan tersebut, menyebutkan bahwa urutan preferensi saham bank yang layak diperhatikan masih berada pada BBCA, BRIS, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Namun, optimisme ini tidak serta merta mengabaikan risiko. Jeffrosenberg mengingatkan bahwa pemulihan permintaan kredit bisa berjalan lebih lambat dari ekspektasi. Selain itu, tekanan pada likuiditas dan peningkatan biaya kredit juga menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.
1. Penyebab Utama Pertumbuhan Kredit di Januari 2026
Pertumbuhan kredit yang mencapai 9,96% di Januari 2026 sebagian besar didorong oleh pinjaman investasi. Kredit investasi melonjak 21,9% secara tahunan. Lonjakan ini terutama berasal dari sektor konstruksi yang tumbuh 38,0% yoy dan sektor pertanian, peternakan, kehutanan, serta perikanan yang naik 32,1% yoy.
2. Kredit Modal Kerja dan Konsumsi
Kredit modal kerja juga menunjukkan peningkatan, meski lebih moderat, yaitu 4,8% yoy. Peningkatan ini didukung oleh lonjakan di sektor utilitas seperti listrik, gas, dan air bersih yang naik hingga 156,0% yoy. Sementara itu, sektor konstruksi juga memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan 32,8% yoy.
Di sisi lain, kredit konsumsi tumbuh 7,2% yoy. Pinjaman multiguna menjadi penyumbang utama dengan kenaikan 9,9% yoy. Namun, beberapa segmen kredit konsumsi masih belum pulih sepenuhnya. Kredit pemilikan rumah (KPR) hanya tumbuh 5,5% yoy, sedangkan kredit kendaraan bermotor masih terkontraksi 6,9% yoy. Kredit UMKM juga masih melemah, dengan kontraksi 0,5% yoy.
3. Likuiditas Perbankan dan Dana Pihak Ketiga
Likuiditas perbankan di Januari 2026 terjaga dengan baik berkat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 13,5% yoy. Simpanan giro naik 19% yoy, tabungan tumbuh 8,8% yoy, dan deposito berjangka naik 5,7% yoy. Struktur pendanaan yang lebih banyak berasal dari dana transaksi menunjukkan bahwa bank semakin mengandalkan sumber dana yang lebih likuid.
4. Program Penempatan Dana Pemerintah
Menteri Keuangan menyampaikan kemungkinan perpanjangan program penempatan dana pemerintah senilai Rp 200 triliun di sejumlah bank selama enam bulan ke depan. Program ini dinilai bisa membantu menjaga stabilitas pendanaan serta membuka ruang bagi penurunan biaya dana bank.
Namun, Jeffrosenberg menekankan bahwa efektivitas program ini masih bergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi makro eksternal, terutama risiko kenaikan harga minyak global yang bisa memengaruhi stabilitas nilai tukar.
5. Kebijakan Penyaluran Kredit
Secara umum, BI mencatat bahwa persyaratan penyaluran kredit mulai melonggar. Ini menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter ke sisi penawaran kredit berjalan lebih baik. Namun, pengecualian terjadi pada kredit konsumsi dan UMKM yang masih menerapkan standar penyaluran ketat karena risiko kredit yang dianggap masih tinggi.
6. Harapan untuk Pemulihan Kredit Konsumsi dan UMKM
Jeffrosenberg menilai bahwa fase pertumbuhan berikutnya akan sangat bergantung pada pemulihan kepercayaan rumah tangga dan pelaku usaha UMKM. Jika kondisi ini membaik, bank bisa lebih longgar dalam menyalurkan kredit, sehingga pertumbuhan kredit konsumsi dan UMKM bisa mengejar ketertinggalan terhadap pemulihan ekonomi yang saat ini lebih didorong oleh investasi dan belanja modal.
Rekomendasi Saham Bank dari Maybank Sekuritas
Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi saham bank berikut dengan target harga per saham:
| Kode Saham | Emiten | Target Harga (Rp) |
|---|---|---|
| BRIS | Bank Syariah Indonesia | 3.350 |
| BBRI | Bank Rakyat Indonesia | 5.400 |
| BMRI | Bank Mandiri | 6.000 |
| BBNI | Bank Negara Indonesia | 5.000 |
| BBCA | Bank Central Asia | 10.650 |
| BNGA | Bank CIMB Niaga | 2.400 |
| ARTO | Bank Jago | 2.600 |
Performa Saham Bank Awal Maret 2026
Per 10 Maret 2026, sejumlah saham bank menunjukkan performa yang beragam. Saham BRIS ditutup melemah 0,46% di level Rp 2.180. BBRI stagnan di Rp 3.570. BMRI naik 1,04% ke Rp 4.870. BBNI tidak bergerak di Rp 4.290. BBCA naik 1,09% di Rp 6.950. BNGA stagnan di Rp 1.735. Sementara itu, ARTO naik tajam 3,38% ke Rp 1.375 per saham.
Disclaimer
Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro, kebijakan moneter, serta kondisi pasar keuangan secara umum. Rekomendasi saham bersifat opini dari analis dan bukan merupakan anjuran investasi resmi. Investasi selalu melibatkan risiko, termasuk risiko kehilangan modal.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.




