Musim Ramadan selalu menjadi periode krusial bagi sektor keuangan digital. Tren permintaan pinjaman daring alias fintech lending mengalami lonjakan tajam menjelang Lebaran. Fenomena ini terjadi karena peningkatan kebutuhan konsumtif masyarakat dan kebutuhan modal kerja UMKM menjelang hari raya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan fintech peer-to-peer (P2P) lending pada Maret 2024 naik 8,9% secara month-to-month, dan pada Maret 2025 tetap tumbuh 3,8%.
Namun, di balik pertumbuhan yang menggembirakan, ada potensi risiko yang perlu diwaspadai. Kenaikan permintaan pinjaman sering kali diikuti dengan peningkatan risiko kredit macet. Data OJK menunjukkan bahwa TWP90 (Tunggakan Wilayah Pembiayaan 90 hari) industri fintech lending pada awal 2026 mengalami peningkatan. Angka ini mencatat 4,38% per Januari 2026, naik dari 4,32% di Desember 2025.
Kondisi Terkini Pembiayaan Fintech Lending
1. Pertumbuhan Pembiayaan Menjelang Ramadan
Pada periode Ramadan hingga Lebaran, permintaan pembiayaan dari masyarakat dan pelaku usaha meningkat signifikan. Ini terutama terjadi karena kebutuhan konsumsi menjelang hari raya serta kebutuhan tambahan modal usaha. OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 98,54 triliun per Januari 2026, naik 25,52% secara year-on-year.
2. Kualitas Pembiayaan Masih Terjaga, Tapi Perlu Waspada
Meski pertumbuhan pembiayaan positif, kualitas pendanaan menjadi sorotan. OJK memperkirakan TWP90 tetap di bawah 5%, tetapi pengamat memperingatkan potensi lonjakan kredit macet usai Lebaran. Nailul Huda dari Celios menyebut angka TWP90 bisa menyentuh lebih dari 4,5% pada Mei hingga Juni 2026.
3. Laba Fintech Lending Naik Tajam
Laba industri fintech lending juga mengalami peningkatan. Pada November 2025, laba naik 90,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa industri tetap menguntungkan meski menghadapi risiko kredit yang cukup tinggi.
Penyebab Lonjakan Permintaan Pinjaman Saat Ramadan
1. Kebutuhan Konsumsi Menjelang Lebaran
Ramadan dan Lebaran identik dengan peningkatan pengeluaran. Banyak masyarakat membutuhkan tambahan dana untuk membeli kebutuhan pokok, pakaian, THR, dan hadiah. Bagi yang tidak memiliki akses ke perbankan, fintech lending menjadi alternatif utama.
2. Kebutuhan Modal Usaha UMKM
Pelaku usaha kecil dan menengah sering kali membutuhkan modal tambahan menjelang Lebaran. Mereka menggunakan pinjaman daring untuk menambah stok barang, memperluas jangkauan pasar, atau memenuhi pesanan yang meningkat.
3. Akses yang Mudah dan Cepat
Proses pengajuan pinjaman di fintech lending umumnya lebih cepat dan mudah dibandingkan perbankan. Ini membuat banyak orang lebih memilih pinjol daripada bank, terutama yang membutuhkan dana mendadak.
Potensi Risiko Kredit Macet Pasca Lebaran
1. Siklus Kenaikan TWP90 Setiap Tahun
Berdasarkan data historis, tingkat kredit macet cenderung naik 2 hingga 3 bulan setelah Lebaran. Ini terjadi karena masyarakat mulai merasakan tekanan pengembalian pinjaman setelah periode konsumsi tinggi.
2. Kurangnya Verifikasi Borrower
Beberapa platform fintech lending belum menerapkan sistem verifikasi dan credit scoring yang kuat. Ini meningkatkan risiko pinjaman disalurkan kepada peminjam yang tidak mampu membayar.
3. Peningkatan Permintaan Tanpa Disertai Edukasi Keuangan
Banyak pengguna fintech lending tidak memahami risiko pinjaman. Mereka tergiur dengan kemudahan akses dan bunga rendah, tanpa mempertimbangkan kemampuan pengembalian.
Tips Mengelola Risiko Pembiayaan di Musim Ramadan
1. Perkuat Sistem Credit Scoring
Platform fintech perlu meningkatkan sistem penilaian kredit agar pinjaman hanya disalurkan kepada peminjam yang benar-benar layak.
2. Edukasi Keuangan untuk Pengguna
Memberikan edukasi keuangan kepada pengguna bisa membantu mereka memahami pentingnya pengelolaan pinjaman dan pengembalian tepat waktu.
3. Monitoring dan Evaluasi Rutin
Monitoring kualitas portofolio pembiayaan secara berkala penting untuk mengantisipasi risiko kredit macet sebelum terlambat.
4. Batasi Plafon Pinjaman
Menetapkan plafon pinjaman yang sesuai dengan kemampuan penghasilan peminjam bisa mengurangi risiko tunggakan.
Tabel Perbandingan Pertumbuhan Pembiayaan Fintech Lending
| Periode | Pertumbuhan MoM | TWP90 (%) | Outstanding (Rp Triliun) |
|---|---|---|---|
| Maret 2024 | 8,9% | – | – |
| Maret 2025 | 3,8% | – | – |
| Januari 2026 | – | 4,38% | 98,54 |
Catatan: Data bersifat agregat dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar dan regulasi.
Kesimpulan
Musim Ramadan memang menjadi peluang besar bagi industri fintech lending. Namun, di balik pertumbuhan yang menjanjikan, ada risiko kredit macet yang perlu diwaspadai. Peningkatan permintaan harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang ketat dan edukasi keuangan yang memadai. Dengan pendekatan yang tepat, industri bisa tumbuh secara berkelanjutan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi historis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makro ekonomi serta kebijakan regulator.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.




