Beranda » Ekonomi Bisnis » Bank Indonesia Tetap Jaga Harga Stabil Meski Dunia Penuh Gejolak

Bank Indonesia Tetap Jaga Harga Stabil Meski Dunia Penuh Gejolak

Di tengah gejolak ekonomi global yang belum sepenuhnya reda, Indonesia terus bergerak untuk menjaga stabilitas harga dalam negeri. Dinamika ketidakpastian internasional, mulai dari perlambatan ekonomi hingga ketegangan geopolitik, menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter. Apalagi, saat ini bertepatan dengan dan sejumlah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), tekanan pada inflasi semakin terasa.

Menjaga daya beli masyarakat menjadi prioritas utama, terutama saat permintaan konsumsi meningkat tajam. Bank Indonesia tidak sendirian dalam menghadapi tantangan ini. Kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah pusat maupun daerah, menjadi kunci agar harga tetap terkendali dan aktivitas ekonomi berjalan lancar.

Strategi Bank Indonesia Menghadapi Gejolak Global

1. Memantau Saluran Transmisi Gejolak Global

Bank Indonesia mengidentifikasi tiga saluran utama yang bisa membawa dampak negatif dari luar negeri ke dalam negeri. Pertama, harga pangan yang fluktuatif akibat krisis rantai pasok global. Kedua, volatilitas pasar yang bisa memicu pergerakan modal keluar masuk. Ketiga, nilai tukar rupiah yang rentan terhadap gejolak .

2. Intervensi Pasar untuk Stabilkan Rupiah

Untuk menjaga nilai tukar tetap stabil, BI aktif melakukan intervensi di pasar spot dan menggunakan instrumen derivatif. Langkah ini penting agar rupiah tidak terlalu melemah, yang berpotensi memicu kenaikan harga impor dan mendorong inflasi.

3. Menjaga Inflasi Inti Tetap Terkendali

Meski inflasi tahunan sempat menyentuh 4,76%, BI mencatat bahwa inflasi inti masih berada di kisaran aman, sekitar 2,63%. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan permintaan belum terlalu tinggi, dan inflasi yang terjadi lebih dipicu oleh faktor administrasi harga.

Kolaborasi Kebijakan untuk Kendalikan Harga

4. Sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah

Bank Indonesia tidak bertindak sendiri. Koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi bagian penting dari strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Baca Juga:  Target Pertumbuhan Aset Penjaminan 14 Persen Hingga 16 Persen di Tahun 2026 bagi Jamkrida

5. Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS)

Program ini diluncurkan di Palembang sebagai upaya nyata untuk menjaga stabilitas harga dari hulu ke hilir. GPIPS tidak hanya menekan laju inflasi, tapi juga mendukung kesejahteraan pelaku usaha .

Penguatan Pasokan dan Distribusi

6. Pemetaan Wilayah Sentra Produksi

BI memiliki jaringan 46 kantor perwakilan yang tersebar di seluruh Indonesia. Kantor-kantor ini memetakan wilayah sentra produksi dan non-sentra untuk memastikan distribusi barang, khususnya pangan, berjalan lancar.

7. Distribusi Pangan Strategis

memastikan bahwa distribusi komoditas seperti cabai dan bawang merah dari daerah surplus ke daerah defisit berjalan efektif. Hal ini penting untuk mencegah lonjakan harga di daerah konsumsi.

Kebijakan Moneter yang Responsif

8. Pertahankan BI Rate di 4,75%

Pada , Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Keputusan ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.

9. Optimalkan Instrumen SRBI

(SRBI) digunakan untuk operasi moneter sekaligus memperdalam pasar keuangan. Instrumen ini juga berperan menarik aliran modal asing yang stabil.

Tantangan dan Dampak Inflasi

10. Prioritas Konsumsi Rumah Tangga Berubah

Naiknya harga membuat masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pokok. Akibatnya, pengeluaran untuk barang tahan lama seperti elektronik dan kendaraan cenderung menurun.

11. Risiko Makan Tabungan

Fenomena "makan tabungan" terjadi ketika masyarakat terpaksa menggunakan dana daruratnya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ini bisa mengurangi daya beli jangka panjang dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga:  Total Aset Industri Asuransi Capai Rp 1.219,35 Triliun dengan Kenaikan 6,80% di 2026

12. Perlunya Intervensi Langsung

Seperti yang dilakukan Malaysia, intervensi langsung terhadap harga pangan tertentu bisa menjadi solusi jangka pendek. Contohnya, pemerintah Malaysia tidak membiarkan harga mentega, gula, telur, dan ayam melonjak tinggi.

Tabel Perbandingan Inflasi dan Target BI

Komponen Inflasi Tahunan (%) Inflasi Inti (%) Target BI (%)
Februari 2026 4,76 2,63 2, ± 1
Catatan: Data inflasi tahunan dipengaruhi oleh harga administered prices yang fluktuatif. Inflasi inti lebih mencerminkan tekanan permintaan jangka panjang.

Proyeksi dan Harapan ke Depan

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%. Momentum HBKN di awal tahun ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Belanja pemerintah dan peningkatan konsumsi masyarakat diharapkan bisa menopang permintaan domestik.

Namun, semua ini harus dibarengi dengan eksekusi kebijakan yang tajam di lapangan. Stok saat ini dalam kondisi aman, sehingga masyarakat tidak perlu panik atau melakukan pembelian impulsif.

Disclaimer

Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik. Kebijakan moneter dan fiskal juga dapat disesuaikan sewaktu-waktu oleh otoritas terkait.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Karangbendo

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.