Disclaimer: Data dan angka yang tercantum dalam laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika laporan keuangan terbaru dari otoritas terkait maupun rilis resmi perbankan. Seluruh informasi yang disajikan bersifat sebagai laporan peristiwa pada saat berita ini diterbitkan.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi industri perbankan nasional saat ini bukan bersumber dari masalah likuiditas, melainkan lemahnya permintaan kredit dari dunia usaha dan sektor rumah tangga. Pernyataan tersebut disampaikan dalam webinar bertema Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh OJK Institute pada hari Kamis, 19 Februari 2026.
Hery menjelaskan bahwa kondisi fundamental perbankan tanah air saat ini berada dalam posisi yang sangat solid untuk menopang pertumbuhan pembiayaan. Hingga periode November 2025, data menunjukkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) kembali menguat ke level dua digit dengan kenaikan sebesar 11,4 persen secara tahunan. Kondisi likuiditas ini didukung oleh rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) yang masih terjaga secara stabil di kisaran 84 persen.
Lebih lanjut, kekuatan permodalan perbankan juga dinilai sangat memadai dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tercatat berada pada level 26 persen. Angka tersebut jauh melampaui ketentuan minimum yang ditetapkan oleh regulator. Modal yang kuat ini berfungsi sebagai bantalan bagi industri perbankan untuk menjaga kualitas aset sekaligus mendorong pertumbuhan penyaluran kredit secara hati-hati dan berkelanjutan.
Meskipun kondisi internal perbankan sangat sehat, Hery mencatat bahwa pertumbuhan kredit secara tahunan di posisi Desember 2025 masih tertahan pada angka satu digit, meskipun sempat menunjukkan tren peningkatan pada Juni 2025. Hal ini menjadi tantangan besar bagi perbankan nasional dalam menjalankan fungsi intermediasi keuangan mereka kepada masyarakat dan pelaku bisnis.
Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh Bank Indonesia, fenomena perlambatan kredit saat ini lebih dipicu oleh faktor permintaan nasabah. Permintaan terhadap kredit baru mengalami penurunan yang signifikan di hampir seluruh segmen pasar. Sektor kredit konsumsi tercatat melandai secara drastis dari sebelumnya 62,9 persen menjadi hanya 13,4 persen. Sementara itu, kredit untuk segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga mengalami penurunan dari posisi 78,4 persen menjadi 58,8 persen.
Indikator lain yang menunjukkan kelesuan permintaan adalah kenaikan rata-rata fasilitas kredit yang belum ditarik oleh nasabah atau undisbursed loan yang kini menyentuh angka 10,22 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun fasilitas kredit sebenarnya sudah disetujui oleh bank dan dana tersedia secara melimpah, namun para pelaku usaha dan rumah tangga masih enggan melakukan penarikan dana. Hal tersebut merefleksikan sikap waspada dari nasabah yang cenderung memilih untuk memantau situasi ekonomi terlebih dahulu sebelum melakukan ekspansi atau pengeluaran besar.
Hery menekankan bahwa solusi yang dibutuhkan saat ini bukan hanya sekadar penambahan likuiditas ke pasar, melainkan upaya bersama dalam memperkuat keyakinan para pelaku usaha agar kembali berani melakukan ekspansi bisnis. Tanpa adanya perbaikan sentimen positif dan prospek bisnis yang jelas, ketersediaan dana yang melimpah di perbankan tidak akan secara otomatis mampu mendorong pertumbuhan penyaluran kredit nasional. Kelesuan ini juga dipengaruhi oleh situasi ekonomi global yang dinilai masih memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat di dalam negeri.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.

